![]() |
| Ilustrasi Depati Leman dan Tamu Agung dari Kota |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pagi itu kabut tipis masih menggantung di atas permukaan sungai ketika sebuah perahu utusan merapat di tepian. Seorang pembawa surat turun dengan langkah tergesa-gesa lalu menyerahkan sepucuk surat bersegel kepada Depati Leman yang sedang menyeruput kopi di balai marga. Setelah membaca isinya perlahan, kumis tebal Depati Leman tampak bergerak-gerak, lalu ia mengulanginya sekali lagi karena takut ada kalimat yang terlewat. Ternyata beberapa hari lagi akan datang seorang tamu penting dari kota bernama Raden Surya Wijaya, seorang utusan yang terkenal bijaksana dan gemar berkeliling daerah untuk mengenal kehidupan rakyat.
Belum sempat Depati Leman melipat surat itu, Penggawo Budin sudah berlari ke mana-mana membawa kabar dengan wajah penuh semangat. Dalam waktu singkat, seluruh warga mengetahui bahwa akan datang seorang bangsawan dari kota, meskipun cerita Penggawo Budin sudah mulai bertambah bumbu di sana-sini. Hulubalang Karim yang berdiri setia di belakang Depati Leman langsung memegang tombaknya lebih erat, seakan-akan sedang menunggu kedatangan seorang panglima perang. Ketib Nurdin hanya menarik napas pelan sambil tersenyum kecil karena ia tahu kabar yang dibawa Penggawo Budin pasti akan semakin besar setiap kali berpindah dari satu telinga ke telinga yang lain.
"Apa benar tamunya membawa puluhan pengawal?" tanya Wak Senah penasaran.
"Belum tentu," jawab Ketib Nurdin. "Yang pasti, suratnya hanya menyebut seorang tamu bernama Raden Surya Wijaya."
Depati Leman kemudian berdiri perlahan sambil menggenggam tongkat kebesarannya. Sebagai depati senior, ia ingin menyambut tamu itu dengan sebaik-baiknya, tetapi ia juga ingin tetap terlihat tenang dan berwibawa di hadapan seluruh warga. Ia memerintahkan agar jalan menuju tepian dibersihkan, titian kayu diperbaiki, dan balai marga dirapikan seperti biasa. Baginya, tamu yang datang harus melihat bahwa masyarakat hidup tertib karena kebiasaan, bukan karena sedang berpura-pura.
Sejak pagi berikutnya, seluruh warga bergotong royong tanpa banyak diperintah. Kaum lelaki mengganti papan-papan titian yang lapuk, sedangkan kaum perempuan menyiapkan hidangan dari hasil sungai dan kebun. Anak-anak membantu mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di halaman balai. Wak Senah sendiri mondar-mandir sambil sesekali memberi komentar kepada siapa saja yang menurutnya bekerja terlalu lambat, walaupun orang-orang lebih sering tersenyum daripada menanggapi ucapannya.
Sementara itu, Depati Leman mulai memikirkan penampilannya. Ia beberapa kali membetulkan songkok bulat bermotif batik yang dikenakannya, lalu mengusap kumis tebalnya dengan penuh keyakinan. Tongkat kebesaran tidak pernah lepas dari genggamannya karena menurutnya seorang depati akan terlihat kurang berwibawa tanpa tongkat adat. Hulubalang Karim yang berdiri beberapa langkah di belakang hanya mengikuti ke mana pun Depati Leman berjalan sambil sesekali mengamati keadaan sekitar.
"Karim, bagaimana menurutmu pakaianku?" tanya Depati Leman.
"Sangat gagah, Depati," jawab Hulubalang Karim cepat.
"Kalau begitu pasti tamu dari kota langsung tahu siapa pemimpin di sini," sahut Depati Leman sambil mengangguk puas.
Menjelang tengah hari, terdengar suara dayung membelah air dari tikungan sungai. Sebuah perahu panjang muncul perlahan dengan ukiran sederhana pada haluannya. Di bagian depan berdiri seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan teluk belango biru tua, bersongkok hitam polos, dan berselendang songket halus di bahunya. Wajahnya teduh, matanya tajam tetapi penuh keramahan, dan setiap kali bertemu pandang dengan warga, ia selalu lebih dahulu mengangkat tangan sebagai tanda hormat. Dialah Raden Surya Wijaya.
Depati Leman segera melangkah paling depan menyambut tamunya, sementara Hulubalang Karim tetap berdiri tepat di belakangnya sebagaimana tugasnya sebagai pengawal. Penggawo Budin sibuk membenarkan posisi ikat pinggangnya sendiri, sedangkan Ketib Nurdin menyambut tamu itu dengan senyum hangat. Begitu turun dari perahu, Raden Surya Wijaya langsung menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan kepada tuan rumah. Sikapnya yang rendah hati membuat suasana yang semula terasa resmi berubah menjadi akrab.
"Selamat datang di wilayah kami, Raden Surya Wijaya," kata Depati Leman.
"Terima kasih, Depati Leman. Saya datang bukan untuk dinyanyikan pujian, melainkan untuk belajar dari masyarakat di sini," jawab Raden Surya Wijaya.
Jawaban itu membuat Depati Leman tersenyum tipis. Ia mengajak tamunya berkeliling menyusuri tepian sungai, melihat nelayan mengangkat bubu, para perempuan menjemur ikan, dan anak-anak yang bermain dengan riang. Raden Surya Wijaya lebih banyak berbicara dengan warga daripada menerima penjelasan panjang dari para pejabat marga. Setiap orang yang ditemuinya merasa dihargai karena ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa memandang kedudukan.
Menjelang senja, seluruh warga berkumpul menikmati hidangan bersama di balai marga. Raden Surya Wijaya memuji kesederhanaan masyarakat yang hidup rukun dan saling membantu tanpa pamrih. Ia mengatakan bahwa perjalanan itu jauh lebih berharga daripada sekadar melihat bangunan megah atau jamuan mewah. Mendengar pujian itu, dada Depati Leman terasa mengembang bangga, walaupun ia tetap berusaha memasang wajah tenang sambil menggenggam tongkat kebesarannya agar kewibawaannya tetap terjaga.
Sejak saat itu, kisah kedatangan Raden Surya Wijaya menjadi cerita yang sering diulang oleh masyarakat di sepanjang aliran sungai. Orang-orang mengenang bagaimana seorang bangsawan dari kota datang tanpa kesombongan dan pulang dengan membawa rasa hormat kepada masyarakat sederhana. Mereka juga masih mengingat tingkah Depati Leman yang berkali-kali membetulkan songkoknya setiap kali merasa sedang diperhatikan tamunya. Adapun Wak Senah, seperti biasa, terus menceritakan kisah itu kepada siapa saja yang mau mendengar, meski setiap kali bercerita, kedudukan Raden Surya Wijaya selalu naik setingkat lebih tinggi daripada cerita sebelumnya (***)
