![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Di tengah gempuran makanan modern yang semakin beragam, ternyata masih ada kuliner tradisional yang tetap bertahan di hati masyarakat. Salah satunya adalah ragit, hidangan khas warisan Melayu yang hingga kini masih dapat ditemukan di beberapa daerah, termasuk di Tanah Melayu Banyuasin.
Bagi yang belum pernah melihatnya, ragit sekilas tampak seperti roti jala. Bentuknya tipis dengan pola menyerupai jaring-jaring yang tersusun rapi. Namun, jangan tertipu oleh tampilannya yang sederhana. Di balik lembaran adonan yang tipis itu tersimpan cita rasa yang mampu membuat siapa saja ingin menambah porsi.
Ragit dibuat dari campuran tepung terigu, telur, air, dan sedikit garam. Adonan tersebut kemudian dituangkan di atas wajan panas dengan teknik khusus hingga membentuk pola berongga seperti jaring laba-laba. Setelah matang, ragit biasanya dilipat atau digulung sebelum disajikan.
Keistimewaan ragit sebenarnya terletak pada kuah pendampingnya. Hidangan ini hampir selalu disajikan bersama kuah kari gurih yang kaya rempah. Aroma serai, kunyit, kayu manis, dan kapulaga berpadu dengan santan sehingga menghasilkan rasa yang hangat dan menggoda selera. Tidak jarang kuah tersebut juga berisi potongan daging sapi atau ayam yang semakin menambah kenikmatannya.
Saat disantap, tekstur ragit terasa lembut di bagian dalam, tetapi tetap memiliki sedikit sensasi renyah pada bagian luarnya. Kuah kari yang meresap ke sela-sela jaring adonan menciptakan perpaduan rasa yang khas. Gurih, harum, dan sedikit pedas berpadu menjadi satu dalam setiap suapan.
Di Banyuasin, ragit bukanlah makanan yang asing bagi generasi tua. Hidangan ini kerap hadir sebagai menu sarapan atau sajian berbuka puasa. Ketika bulan Ramadhan tiba, ragit menjadi salah satu kuliner yang paling dicari karena mampu mengenyangkan sekaligus memberikan kehangatan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Sejarah ragit juga menarik untuk ditelusuri. Banyak cerita menyebutkan bahwa makanan ini lahir dari pertemuan berbagai budaya yang pernah singgah di wilayah Sumatera Selatan. Pengaruh Melayu berpadu dengan sentuhan kuliner Arab dan India, menghasilkan hidangan yang unik dan berbeda dari makanan tradisional lainnya.
Pada masa lalu, ragit bahkan dikenal sebagai sajian yang cukup populer di lingkungan bangsawan Palembang. Kehadirannya dalam berbagai acara keluarga dan perjamuan menunjukkan bahwa makanan ini memiliki nilai sosial yang cukup tinggi. Dari dapur-dapur keluarga itulah tradisi membuat ragit kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Meski popularitasnya tidak sebesar pempek, ragit tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Banyak orang justru menganggap ragit sebagai salah satu "harta karun" kuliner yang belum banyak diketahui wisatawan. Karena itulah, setiap kali menemukan penjual ragit, pembeli biasanya tidak ragu untuk mengantre demi menikmati cita rasa yang semakin sulit ditemukan.
Ragit bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari jejak sejarah, percampuran budaya, dan kekayaan kuliner yang tumbuh di bumi Melayu. Di setiap jaring adonannya tersimpan cerita panjang tentang tradisi yang masih bertahan hingga hari ini, mengingatkan bahwa kuliner lama tidak pernah benar-benar kehilangan pesonanya (***)
