![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Di tengah lebatnya hutan dan talang yang dahulu mengelilingi permukiman masyarakat Banyuasin, tumbuh beragam jenis buah liar yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu di antaranya adalah buah rukam. Kini buah ini mulai jarang terlihat, tetapi bagi generasi lama Orang Melayu Banyuasin (OMB), rukam menyimpan banyak kenangan tentang masa kecil dan kedekatan mereka dengan alam.
Rukam merupakan buah yang tumbuh pada pohon berduri. Batangnya dipenuhi duri tajam, sementara buahnya berbentuk bulat kecil dengan ukuran tidak jauh berbeda dari kelereng. Ketika masih muda, buah rukam berwarna hijau. Seiring bertambah tua, warnanya berubah menjadi merah, lalu merah keunguan saat benar-benar matang.
Rasa buah rukam cukup unik. Buah yang masih muda memiliki rasa asam dan sepat yang kuat hingga membuat lidah terasa kesat. Namun setelah matang, rasa sepatnya berkurang dan muncul sedikit rasa manis yang menyegarkan. Karena cita rasanya yang khas, buah ini sering dimakan langsung, dijadikan rujak, atau dicampur garam dan cabai sebagai camilan sederhana.
![]() |
| Buah Rukam |
Dahulu pohon rukam banyak ditemukan di pinggir hutan, semak belukar, kebun tua, dan talang. Anak-anak kampung kerap memanjat atau mengguncang rantingnya untuk menjatuhkan buah yang sudah matang. Tidak sedikit pula yang membawa pulang rukam dalam kantong atau bakul kecil untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Bagi masyarakat pedesaan, rukam bukan sekadar buah liar. Kehadirannya menjadi bagian dari sumber pangan yang tersedia langsung dari alam. Pada masa ketika jajanan modern belum mudah dijumpai, buah-buahan hutan seperti rukam menjadi teman bermain sekaligus sumber kesenangan bagi anak-anak kampung.
Selain rasanya yang khas, rukam juga diketahui memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Buah ini mengandung berbagai senyawa alami yang bermanfaat bagi tubuh. Karena itu, di beberapa daerah, bagian tertentu dari tanaman rukam juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.
Sayangnya, keberadaan pohon rukam kini semakin berkurang. Pembukaan lahan, berkurangnya kawasan hutan, dan minimnya upaya budidaya membuat pohon ini semakin sulit ditemukan. Banyak anak-anak masa kini bahkan tidak lagi mengenal bentuk maupun rasa buah yang pernah begitu akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan.
Padahal, rukam bukan hanya bagian dari kekayaan hayati, tetapi juga bagian dari memori budaya masyarakat Melayu Banyuasin. Di balik rasa asam dan sepatnya tersimpan cerita tentang masa ketika anak-anak bebas bermain di hutan, tentang perjalanan ke talang bersama orang tua, serta tentang hubungan yang begitu dekat antara manusia dan alam.
Mengenalkan kembali buah rukam kepada generasi muda merupakan salah satu cara untuk menjaga ingatan kolektif tersebut. Sebab ketika sebuah buah hutan hilang dari lingkungan, yang hilang bukan hanya tumbuhannya, melainkan juga sebagian cerita dan pengalaman hidup masyarakat yang pernah tumbuh bersamanya (***)

