-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pernah Jadi Primadona Anak Kampung, Ke Mana Hilangnya Buah Bedaro dari Sumatera Selatan?

Selasa, 23 Juni 2026 | 10.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-23T03:00:00Z
Ilustrasi Banyuasin Pos 

Ada masa ketika anak-anak di Sumatera Selatan tidak perlu mengenal buah impor untuk merasakan manisnya masa kecil. Mereka memiliki bedaro, buah mungil yang tumbuh liar di kebun, tepian hutan, dan tanah-tanah kampung. Buah yang kini semakin sulit ditemukan itu pernah menjadi bagian akrab dari kehidupan masyarakat, termasuk di Kabupaten Banyuasin.


Bedaro atau yang sering disebut sebagai lengkeng hutan merupakan buah lokal yang secara ilmiah dikenal sebagai Dimocarpus malayensis. Sekilas bentuknya mirip kelengkeng yang banyak dijual di pasar saat ini, tetapi ukurannya lebih kecil. Bulat seukuran kelereng dengan kulit tipis berwarna cokelat kekuningan. Ketika dibuka, tampak daging buah berwarna putih bening yang membungkus biji hitam mengilap.


Meski ukurannya mungil, bedaro memiliki aroma yang khas. Harum alami yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya manis dan segar, meninggalkan kesan yang membuat banyak orang ingin mencicipinya lagi. Tidak heran jika buah ini menjadi salah satu buah favorit masyarakat pedesaan Sumatera Selatan pada masanya.


Bagi generasi yang tumbuh di kampung-kampung Banyuasin, Musi Rawas, Lubuk Linggau, hingga wilayah pedalaman lainnya, bedaro bukan sekadar buah. Ia adalah bagian dari kenangan masa kecil. Saat musim berbuah tiba, anak-anak berbondong-bondong mendatangi pohonnya. Ada yang memanjat batangnya yang tinggi, ada yang menggunakan galah bambu untuk menjatuhkan buah, dan ada pula yang menunggu buah matang jatuh ke tanah.


Setelah terkumpul, buah-buah itu dimakan bersama teman-teman di bawah pohon atau dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga. Tidak ada kemasan menarik, tidak ada promosi di media sosial, tetapi rasa bahagia yang dihadirkan begitu nyata. Kesederhanaan itulah yang kini justru dirindukan banyak orang.


Hingga sekarang, bedaro masih sesekali muncul di pasar tradisional Sumatera Selatan, terutama di kawasan Lubuk Linggau dan beberapa daerah yang masih memiliki pohon-pohon tua. Harganya relatif murah, sekitar Rp20.000 per kilogram. Bahkan di beberapa tempat masih dijual dalam satuan canting dengan harga hanya ratusan rupiah per buah. Menariknya, sebagian besar pembelinya bukan anak-anak, melainkan orang dewasa yang ingin mengulang kembali rasa yang pernah menemani masa kecil mereka.


Selain buahnya yang disukai, pohon bedaro juga memiliki manfaat lain. Kayunya dikenal cukup baik untuk berbagai kebutuhan konstruksi ringan dan pembuatan perkakas rumah tangga. Oleh karena itu, masyarakat dahulu sering mempertahankan pohon bedaro di kebun mereka, bukan hanya karena buahnya tetapi juga karena nilai guna kayunya.


Sayangnya, keberadaan bedaro kini semakin terdesak oleh perubahan zaman. Alih fungsi lahan, berkurangnya kawasan hutan, serta minimnya upaya budidaya membuat pohon ini semakin jarang ditemukan. Banyak generasi muda bahkan tidak lagi mengenal nama bedaro. Mereka lebih akrab dengan buah-buahan modern yang tersedia sepanjang tahun di pusat perbelanjaan.


Padahal bedaro merupakan bagian dari kekayaan hayati Sumatera Selatan yang memiliki nilai penting. Buah ini bukan hanya menyimpan keunikan rasa, tetapi juga merekam jejak sejarah kehidupan masyarakat lokal. Setiap butir bedaro seakan membawa cerita tentang masa ketika hubungan manusia dengan alam masih begitu dekat.


Di tengah derasnya arus modernisasi, bedaro mengingatkan kita bahwa tidak semua warisan berharga berbentuk bangunan tua atau benda bersejarah. Ada pula warisan yang hidup dalam bentuk pohon, buah, aroma, dan kenangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Mungkin suatu hari nanti bedaro kembali ditanam dan diperkenalkan kepada anak-anak masa kini. Sebab ketika sebuah daerah kehilangan buah-buah lokalnya, yang hilang bukan hanya tanaman itu sendiri, melainkan juga sebagian dari ingatan kolektif dan identitas budaya masyarakatnya. Dan bagi banyak orang Sumatera Selatan, terutama di Banyuasin, bedaro akan selalu menjadi rasa manis yang tersimpan dalam kenangan (***) 

×
Berita Terbaru Update