![]() |
| Kuau Raja dan Pohon Sialang Tua |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Di tengah hutan rawa Tanah Banyuasin berdirilah sebuah pohon sialang yang sangat tua dan sangat tinggi. Batangnya besar hingga beberapa ekor rusa tidak akan mampu melingkarinya bersama-sama. Di bagian atas pohon itu bergantung sarang lebah hutan yang terkenal menghasilkan madu paling manis di seluruh rimba. Karena itulah pohon tersebut sering menjadi bahan pembicaraan para penghuni hutan.
Suatu pagi, Serindit datang terbang dengan napas terengah-engah. Ia baru saja mendengar kabar yang membuatnya sangat bersemangat. Tanpa menunggu lama, ia langsung mencari Kuau Raja yang sedang mematuk buah ara di tepi rawa. Wajah Serindit tampak begitu serius hingga Kuau Raja mengira ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
"Kuau! Pohon Sialang Tua sedang bermasalah!" seru Serindit.
"Bermasalah bagaimana? Pohon bisa sakit perut?" tanya Kuau Raja.
"Bukan! Lebah-lebah di sana sedang ribut."
Mendengar kata "ribut", mata Kuau Raja langsung berbinar. Ia memang tidak pernah bisa menolak hal-hal yang membuatnya penasaran. Apalagi jika kabar itu berasal dari Serindit yang terkenal suka berkeliling hutan. Tanpa berpikir panjang, Kuau Raja segera mengajak Serindit menuju Pohon Sialang Tua.
Sesampainya di sana, mereka melihat banyak lebah beterbangan dengan gelisah. Di bawah pohon tampak Beruang Madu sedang mondar-mandir sambil menengadah ke atas. Sesekali ia mengusap perutnya yang keroncongan. Aroma madu yang tercium dari sarang membuatnya semakin tidak tenang.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Kuau Raja.
Beruang Madu menunjuk ke atas.
"Ada suara aneh dari dalam batang pohon. Sejak tadi malam lebah-lebah tidak tenang."
Kuau Raja menempelkan telinganya ke batang pohon. Beberapa saat kemudian ia mendengar bunyi pelan dari dalam batang yang berongga. Bunyi itu terdengar seperti sesuatu yang bergerak naik turun. Kadang-kadang terdengar ketukan kecil yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Tok... tok... tok...
"Hmm, menarik," gumam Kuau Raja.
Tak lama kemudian datanglah Monyet Ekor Panjang. Seperti biasa, ia langsung memamerkan keberaniannya. Tanpa bertanya kepada siapa pun, ia memanjat pohon sialang dengan cepat. Semua hewan menatap ke atas sambil menunggu apa yang akan terjadi.
"Aku akan memecahkan misteri ini!" teriak Monyet Ekor Panjang.
Baru beberapa langkah naik, tiba-tiba terdengar dengungan keras.
Bzzzzzz!
Sekelompok lebah keluar dari sarang dan mengejar Monyet Ekor Panjang. Ia langsung menjerit ketakutan dan meluncur turun lebih cepat daripada saat memanjat. Bahkan ketika kedua kakinya sudah menyentuh tanah, ia masih terus berlari tanpa melihat arah.
Kuau Raja tertawa sampai hampir kehilangan keseimbangan. Serindit pun terbahak-bahak melihat ekor Monyet yang bergerak ke sana kemari saat berlari. Hanya Beruang Madu yang tampak kecewa karena berharap Monyet berhasil mencapai sarang lebah.
Tidak lama kemudian Rusa Sambar datang menghampiri. Ia mengamati batang pohon dengan tenang lalu memperhatikan lubang besar yang ada di bagian bawah. Setelah beberapa saat, ia menunjuk ke arah lubang tersebut.
"Aku rasa suara itu berasal dari sana."
Kuau Raja segera mendekat. Ia mengintip ke dalam lubang yang gelap, tetapi tidak dapat melihat apa pun. Karena rasa ingin tahunya terlalu besar, ia memutuskan masuk beberapa langkah ke dalam rongga pohon.
"Kalau aku tidak keluar dalam sepuluh hitungan, tolong panggil Harimau Rimba," katanya.
"Kenapa Harimau?" tanya Serindit.
"Supaya kelihatannya lebih dramatis."
Di dalam rongga pohon ternyata cukup luas. Cahaya hanya masuk sedikit melalui celah-celah batang yang tua. Kuau Raja berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap sudut. Tiba-tiba ia melihat sesuatu bergerak.
Tok... tok... tok...
Ternyata seekor burung pelatuk sedang sibuk mematuk bagian dalam batang pohon. Burung itu berhenti sesaat lalu menatap Kuau Raja dengan heran.
"Kenapa semua orang ribut di luar?" tanyanya.
Kuau Raja terdiam beberapa saat. Ia benar-benar tidak menyangka sumber misteri itu hanyalah seekor burung pelatuk yang sedang mencari serangga.
"Kau tidak tahu?"
"Tidak. Aku dari tadi bekerja."
Kuau Raja keluar dari rongga pohon sambil menahan tawa. Semua hewan segera mengerumuninya dan menunggu penjelasan. Bahkan Beruang Madu yang sedari tadi sibuk membayangkan madu ikut mendekat.
"Jadi apa yang ada di dalam?" tanya Serindit.
"Harimau?" tanya Monyet Ekor Panjang.
"Buaya?" tebak Beruang Madu.
Kuau Raja menggeleng.
"Hanya seekor burung pelatuk yang sedang mencari makan."
Suasana mendadak hening. Beberapa saat kemudian Monyet Ekor Panjang menjatuhkan dirinya ke tanah karena merasa malu telah berteriak paling keras sejak pagi. Serindit tertawa sampai sayapnya gemetar. Bahkan Rusa Sambar yang biasanya tenang pun tersenyum kecil.
Sementara itu Beruang Madu kembali menatap sarang lebah di atas pohon. Ia menghela napas panjang karena ternyata semua keributan tidak membuat lebah-lebah pergi meninggalkan madu mereka. Di atas sana, lebah-lebah kembali bekerja seperti biasa. Sedangkan Kuau Raja berjalan pulang sambil tertawa kecil, masih membayangkan wajah Monyet Ekor Panjang saat dikejar lebah dari pohon sialang tua (***)
