![]() |
| Ilustrasi Pak Pandir dan Topi yang Hilang |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pagi itu, Pak Pandir keluar rumah dengan langkah ringan sambil bersiul kecil. Ia baru saja membeli sebuah topi hitam yang menurutnya membuat dirinya tampak lebih berwibawa daripada siapa pun. Sepanjang jalan ia terus membelai topinya sambil sesekali bercermin pada genangan air di pinggir jalan. Penggawo Juhri yang melihat tingkah itu hanya menggeleng pelan karena tahu, kalau Pak Pandir terlalu bangga pada sesuatu, biasanya akan muncul kekacauan.
"Jangan terlalu sering dipegang, Pak," kata Penggawo Juhri.
"Topi ini mahal. Kalau tidak kupegang, nanti lupa kalau aku sedang memakainya," jawab Pak Pandir dengan wajah serius.
Tak lama kemudian, Pak Pandir duduk di bawah pohon besar untuk beristirahat. Angin bertiup sepoi-sepoi sehingga matanya perlahan terpejam. Ia tertidur pulas sambil bersandar pada batang pohon, bahkan sampai terdengar suara dengkur yang membuat burung-burung beterbangan. Anak-anak yang lewat tertawa kecil melihat kumis Pak Pandir bergerak naik turun mengikuti irama dengkurnya.
Ketika terbangun, Pak Pandir langsung memegang kepalanya. Tangannya hanya menyentuh rambut yang acak-acakan. Wajahnya mendadak pucat seperti baru kehilangan sekarung emas. Ia melompat berdiri sambil berteriak bahwa topinya telah dicuri orang yang tidak bertanggung jawab.
"Topiku hilang! Ada pencuri topi!" teriak Pak Pandir.
Warga yang sedang lewat segera berkumpul karena mengira telah terjadi peristiwa besar. Ada yang membawa bambu, ada yang membawa sapu, bahkan ada yang datang hanya karena penasaran. Penggawo Juhri ikut menghampiri sambil mencoba menenangkan keadaan. Ia meminta Pak Pandir menceritakan dengan pelan apa yang sebenarnya terjadi.
"Topiku tadi masih ada."
"Lalu?"
"Sekarang sudah tidak ada."
"Itu saja ceritanya?"
"Iya. Berarti dicuri."
Penggawo Juhri mulai memeriksa sekitar pohon. Tidak terlihat bekas orang berlari ataupun jejak kaki yang mencurigakan. Yang ada hanya daun-daun kering yang bergoyang diterpa angin. Ia semakin yakin bahwa hilangnya topi itu bukan karena pencuri, melainkan karena kelalaian Pak Pandir sendiri. Namun, sebelum sempat menjelaskan, Pak Pandir sudah sibuk menginterogasi seekor kambing yang sedang memakan rumput.
"Heh, kau lihat topiku?"
"Mbee..."
"Itu pasti kode rahasia!"
"Pak, kambing memang bunyinya begitu," kata Penggawo Juhri.
"Justru itu. Dia sedang menyamarkan jawaban."
Tak puas dengan kambing, Pak Pandir lalu mendatangi ayam jantan yang sedang mengais tanah. Ia berjongkok di depannya sambil menatap tajam seperti seorang penyidik. Ayam itu hanya memiringkan kepala lalu berkokok keras hingga Pak Pandir terkejut. Warga yang melihat kejadian itu mulai menahan tawa karena belum pernah ada orang meminta kesaksian seekor ayam.
"Kalau kau jujur, kuberi jagung."
"Kukuruyuuuk!"
"Nah! Dia mengaku!"
"Pak, itu ayam sedang berkokok, bukan memberi pengakuan," ujar Penggawo Juhri sambil mengusap dahinya.
Karena merasa pencurinya pasti masih berada di sekitar situ, Pak Pandir menyuruh semua orang menutup jalan. Ia bahkan meminta setiap warga memeriksa kepala masing-masing. Menurutnya, pencuri bisa saja memakai topi itu agar tidak ketahuan. Semua orang menurut hanya untuk menghiburnya. Satu demi satu mereka menunjukkan kepala masing-masing, tetapi tidak ada topi yang dicari.
"Tidak ada!"
"Berarti pencurinya lebih pintar daripada kita," gumam Pak Pandir.
Penggawo Juhri memperhatikan Pak Pandir dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat bibirnya bergetar menahan tawa. Di belakang leher Pak Pandir ternyata tersangkut seutas tali tipis. Ia mengikuti tali itu dengan pandangan mata hingga akhirnya mendongak ke atas. Rupanya topi Pak Pandir tersangkut di dahan pohon karena saat tertidur, angin menerbangkannya ke atas.
"Pak Pandir..."
"Apa? Kau sudah menemukan pencurinya?"
"Sudah."
"Siapa?"
"Pohon."
Pak Pandir mendongak. Benar saja, topinya bergoyang pelan di atas dahan sambil tertiup angin. Ia terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan seolah menemukan penjelasan yang masuk akal. Dengan wajah tetap serius ia menepuk bahu Penggawo Juhri.
"Aku sudah menduga sejak tadi."
"Lho, kalau sudah menduga kenapa heboh sekali?"
"Aku hanya ingin memastikan pohon itu mau mengembalikan topiku dengan sukarela."
Penggawo Juhri mengambil sebatang bambu panjang dan menjatuhkan topi itu dengan mudah. Pak Pandir segera membersihkannya dari debu lalu memakainya kembali dengan penuh kebanggaan. Warga yang sejak tadi menahan tawa akhirnya pecah beramai-ramai. Bahkan ada yang sampai terduduk di tanah karena tidak sanggup menahan geli melihat keseriusan Pak Pandir menyelidiki "pencurian" yang dilakukan sebatang pohon.
Pak Pandir sama sekali tidak merasa malu. Ia justru berdiri tegak sambil membusungkan dada dan menatap orang-orang yang masih tertawa. Dengan suara mantap ia berkata bahwa kehilangan topi bukanlah kesalahannya, melainkan karena pohon terlalu tinggi dan angin terlalu pandai bekerja sama. Mendengar alasan itu, gelak tawa warga semakin riuh. Sejak hari itu, setiap kali ada topi tertiup angin, orang-orang selalu berseloroh, "Cepat tangkap pohonnya, nanti Pak Pandir datang mencari pencurinya!" (***)
