-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman Pergi ke Renah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-17T02:41:09Z
Ilustrasi 

Pagi itu balai marga sudah ramai sejak matahari baru muncul di atas pucuk-pucuk pohon nibung. Beberapa petani datang silih berganti menghadap Depati Leman untuk menyampaikan berbagai persoalan tentang renah yang mereka garap. Ada yang mengaku batas lahannya bergeser karena patok lama hilang diterjang pasang besar. Ada pula yang merasa tetangganya membuka lahan terlalu jauh hingga melewati batas yang telah disepakati sejak lama.


Sebagai pasirah, Depati Leman bertanggung jawab atas seluruh wilayah marga, termasuk kawasan renah yang menjadi tanah adat milik marga. Renah-renah tersebut digarap oleh masyarakat untuk bertanam padi dan berbagai tanaman lain yang menjadi sumber kehidupan mereka. Para penggarap memiliki kewajiban adat yang harus dicatat oleh pihak marga. Oleh karena itu, setiap persoalan yang muncul di renah hampir selalu berakhir di hadapan Depati Leman.


“Aku harus melihat sendiri keadaan di sana,” kata Depati Leman.

Penggawo Budin yang sedang menyeruput kopi langsung mengangguk.

“Betul, Depati Leman.”

“Kau tahu persoalannya?”

“Belum.”

“Lalu kenapa setuju?”

“Supaya kelihatan kompak.”


Ketib Nurdin yang duduk di dekat jendela langsung tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Hulubalang Karim bahkan harus menundukkan kepala agar tawanya tidak terlihat. Namun keputusan sudah dibuat dan tidak bisa ditunda lagi. Hari itu juga mereka akan berangkat menuju renah untuk memeriksa keadaan secara langsung.


Menjelang siang sebuah perahu panjang milik marga sudah siap di pelantaran batang nibung. Perahu itu biasa digunakan untuk meninjau wilayah-wilayah yang jauh dari pemukiman penduduk. Hulubalang Karim membawa buku catatan dan daftar penggarap renah yang perlu diperiksa. Sementara Penggawo Budin membawa bekal makanan yang jumlahnya lebih banyak daripada kebutuhan seluruh rombongan.


“Budin, kita cuma pergi sehari,” kata Hulubalang Karim.

“Kalau lapar di tengah jalan bagaimana?”

“Masih ada bekal.”

“Kalau bekalnya habis?”

“Masih ada kampung.”

“Kalau kampungnya lapar juga?”


Hulubalang Karim langsung menyerah dan memilih diam. Ketib Nurdin menahan senyum sambil memperbaiki posisi kopiahnya. Sedangkan Depati Leman hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Penggawo Budin. Perjalanan bahkan belum dimulai, tetapi Budin sudah berhasil menciptakan masalah pertama hari itu.


Perahu kemudian bergerak perlahan meninggalkan kampung. Mereka menyusuri sungai utama sebelum masuk ke anak-anak sungai yang lebih kecil menuju kawasan pasang surut. Di kiri dan kanan tampak rumpun nipah, pohon nibung, dan berbagai tumbuhan rawa yang tumbuh rapat. Sesekali terlihat perahu warga lain yang juga sedang menuju renah masing-masing.


Semakin jauh perjalanan, semakin sepi suasana di sekitar mereka. Rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat dan berganti dengan hamparan rawa yang luas. Beberapa petani tampak mendayung perahu kecil sambil membawa cangkul dan peralatan kerja. Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi masyarakat Banyuasin yang hidup berdampingan dengan sungai dan lahan pasang surut.


“Ramai juga yang ke renah hari ini,” kata Depati Leman.

“Musim kerja memang sedang sibuk,” jawab seorang petani yang berpapasan.

“Kalau terlambat sedikit, rumput lebih cepat tumbuh daripada padi.”


Penggawo Budin mengangguk seolah sangat memahami urusan pertanian. Padahal sepanjang hidupnya ia lebih sering terlihat memegang cangkir kopi daripada cangkul. Namun tidak ada yang membahas hal itu karena semua sudah terlalu mengenalnya. Bahkan Ketib Nurdin hanya tersenyum melihat tingkahnya.


Tiba-tiba Penggawo Budin membuka salah satu bungkusan bekalnya. Aroma nasi dan ikan salai langsung memenuhi perahu. Padahal perjalanan baru berlangsung tidak sampai satu jam. Hulubalang Karim sampai menatapnya dengan wajah heran.


“Budin, kau lapar lagi?”

“Ini bukan lapar.”

“Lalu?”

“Persiapan.”


Tidak ada seorang pun yang mencoba memahami maksud jawaban itu. Mereka membiarkan Penggawo Budin menikmati makanannya sambil terus mendayung. Sementara sungai terus membawa mereka semakin jauh ke wilayah renah. Angin yang bertiup dari arah rawa membuat perjalanan terasa cukup nyaman.


Menjelang siang mereka akhirnya tiba di kawasan renah yang dituju. Hamparan lahan terbentang luas sejauh mata memandang. Di beberapa tempat terlihat pondok-pondok kecil yang digunakan petani untuk beristirahat ketika bekerja. Beberapa orang sedang membersihkan saluran air, sementara yang lain sibuk merawat tanaman mereka.


Belum lama turun dari perahu, seorang petani bernama Wak Jafar langsung menghampiri Depati Leman. Wajahnya terlihat serius seperti membawa persoalan besar yang harus segera diselesaikan. Dari kejauhan, seorang petani lain bernama Wak Midun juga berjalan mendekat dengan ekspresi yang tidak kalah serius. Melihat itu saja, Hulubalang Karim sudah bisa menebak bahwa akan ada perdebatan panjang.


“Depati Leman, saya mau mengadu,” kata Wak Jafar.

“Apa masalahnya?”

“Patok batas lahan saya hilang.”

Belum sempat pembicaraan selesai, Wak Midun langsung menyela.

“Patok itu tidak hilang.”

“Lalu?”

“Masih ada.”

“Di mana?”

“Di lahan saya.”


Dalam hitungan menit suasana langsung ramai. Kedua petani sama-sama merasa benar dan sama-sama membawa saksi. Masing-masing saksi berbicara dengan penuh keyakinan walaupun sebagian keterangannya justru saling bertentangan. Semakin lama mereka berbicara, semakin sulit membedakan mana fakta dan mana ingatan yang sudah bercampur dengan cerita warung kopi.


Depati Leman kemudian meminta semua orang tenang. Bersama Hulubalang Karim, ia memeriksa lokasi yang dipersoalkan. Setelah mencari cukup lama, mereka menemukan sisa patok lama yang roboh dan tertutup semak-semak. Dari posisi patok itulah batas sebenarnya akhirnya dapat diketahui kembali.


Wak Jafar menggaruk kepala pelan. Wak Midun juga mulai tersenyum malu karena ternyata kesalahpahaman itu terjadi akibat patok yang sudah lama tidak diperiksa. Para saksi yang sejak tadi paling banyak berbicara mendadak menjadi sangat pendiam. Bahkan beberapa orang mulai mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Nah,” kata Depati Leman. “Tanahnya tidak ke mana-mana. Yang jalan-jalan itu cerita kalian.”

Orang-orang langsung tertawa.


Setelah persoalan batas selesai, Hulubalang Karim membuka buku catatannya. Ternyata ada beberapa penggarap yang belum memenuhi kewajiban adat atas renah yang mereka kelola. Mendengar hal itu, berbagai alasan langsung bermunculan dari segala arah. Bahkan beberapa alasan terdengar lebih menarik daripada cerita rakyat yang biasa diceritakan pada malam hari.


“Saya lupa.”

“Perahu saya bocor.”

“Saya sibuk panen.”

“Saya sedang sibuk memelihara ayam.”


Alasan terakhir diucapkan oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki ayam. Ketib Nurdin sampai harus menundukkan kepala karena menahan tawa. Hulubalang Karim hanya memandang orang itu cukup lama tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Depati Leman sudah terlalu berpengalaman untuk merasa terkejut.


Dengan sabar Depati Leman menjelaskan bahwa kewajiban adat bukan sekadar urusan uang. Dari pemasukan itulah berbagai kebutuhan marga dapat dijalankan bersama-sama. Jalan titian diperbaiki, urusan kemasyarakatan dibantu, dan berbagai kebutuhan umum lainnya dapat dibiayai. Setelah mendengar penjelasan tersebut, para penggarap akhirnya mengangguk dan menerima dengan baik.


Ketika suasana mulai tenang, tiba-tiba terdengar teriakan keras dari arah belakang.

“Ular!”

Semua orang langsung menoleh.


Depati Leman melompat ke atas batang kayu sambil menunjuk ke arah tanah dengan wajah pucat. Hulubalang Karim segera mendekat untuk memeriksa apa yang membuatnya begitu ketakutan. Setelah diamati beberapa saat, ternyata benda yang ditunjuk hanyalah akar nibung tua yang mencuat dari lumpur. Bentuknya memang sedikit melengkung, tetapi sama sekali tidak bergerak.


“Budin,” kata Hulubalang Karim.

“Iya?”

“Itu akar.”

Penggawo Budin turun perlahan.

“Akar yang menyerupai ular tetap mencurigakan.”


Kali ini tawa pecah lebih keras dari sebelumnya. Bahkan Wak Jafar dan Wak Midun yang tadi berdebat sampai ikut tertawa sambil memegang perut. Ketib Nurdin harus mengusap sudut matanya karena terlalu geli melihat wajah serius Penggawo Budin. Sedangkan Depati Leman hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.


Menjelang sore seluruh urusan akhirnya selesai. Batas lahan sudah diperjelas, catatan penggarap sudah diperbarui, dan berbagai persoalan berhasil diselesaikan dengan musyawarah. Para petani kembali bekerja dengan perasaan lebih tenang. Sementara rombongan Depati Leman bersiap pulang ke kampung.


Dalam perjalanan pulang, matahari mulai turun di balik hamparan rawa pasang surut. Cahaya keemasan memantul di permukaan sungai yang tenang dan membuat pemandangan terlihat sangat indah. Depati Leman memandang ke arah renah yang perlahan menjauh di belakang perahu. Ia sadar bahwa menjadi pasirah bukan hanya soal memberi perintah, tetapi juga mendengar, memahami, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.


“Bagaimana hasil hari ini, Depati Leman?” tanya Ketib Nurdin.

“Alhamdulillah baik.”

“Perselisihan selesai?”

“Selesai.”

“Catatan renah beres?”

“Beres.”

Penggawo Budin langsung menyela.

“Kalau akar ular itu bagaimana?”

Depati Leman menatapnya beberapa saat.

“Besok kau saya angkat jadi penjaga akar itu.”


Perahu pun dipenuhi tawa sepanjang perjalanan pulang. Sementara sungai Banyuasin mengalir tenang membawa mereka kembali ke kampung. Di belakang sana, renah tetap terbentang luas sebagai bagian dari kehidupan masyarakat marga yang sudah dijaga turun-temurun sejak zaman para leluhur (***) 

×
Berita Terbaru Update