![]() |
| Ilustrasi Depati Leman dan Perahu Tak Bertuan |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Pada zaman dahulu, di sebuah dusun yang terletak di tepian sungai besar di Tanah Banyuasin, hiduplah seorang pemimpin marga yang sangat dihormati bernama Depati Leman. Ke mana pun pergi, Depati Leman selalu mengenakan pakaian hitam kebesaran, songkok bulat bermotif batik pejabat marga, dan membawa tongkat kebesaran yang menjadi lambang kewibawaannya. Warga kampung mengenalnya sebagai pemimpin yang pandai berbicara dan gemar memberikan petuah. Namun, sebagaimana manusia lainnya, Depati Leman juga memiliki kelemahan, yaitu mudah mempercayai kabar yang belum tentu benar.
Suatu pagi yang berkabut, Penggawo Budin sedang memeriksa keadaan dermaga kampung. Air sungai sedang pasang sehingga banyak ranting dan batang kayu hanyut mengikuti arus. Ketika berjalan menyusuri tepi sungai, Penggawo Budin melihat sebuah perahu kecil mengapung perlahan menuju dermaga. Tidak ada seorang pun di atas perahu itu, dan tidak tampak pula tali yang mengikatnya.
Penggawo Budin segera mendekati perahu tersebut. Ia memeriksa bagian dalam perahu dengan hati-hati dan tidak menemukan seorang pun. Di dalamnya hanya terdapat beberapa keranjang kosong, selembar tikar usang, dan sebuah dayung tua. Namun karena perahu itu datang tanpa pemilik, pikiran Penggawo Budin mulai dipenuhi berbagai dugaan yang aneh.
"Wah, jangan-jangan ini perahu hantu," gumam Penggawo Budin.
Semakin lama memperhatikan perahu itu, semakin yakin pula Penggawo Budin dengan dugaannya sendiri. Tanpa mencari tahu lebih lanjut, ia segera berlari menuju rumah Wak Senah. Napasnya terengah-engah ketika sampai di halaman rumah perempuan paling cerewet di kampung tersebut. Wajahnya tampak tegang seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang mengerikan.
"Wak Senah! Ada perahu tak bertuan di sungai!"
"Perahu tak bertuan?"
"Iya, Wak. Datang sendiri dari arah hilir. Tidak ada orangnya sama sekali!"
Mata Wak Senah langsung membesar. Sebagai orang yang sangat mudah percaya pada cerita aneh, Wak Senah segera membayangkan berbagai kemungkinan yang menyeramkan. Dalam pikirannya, perahu itu pasti berkaitan dengan sesuatu yang tidak biasa. Belum sampai satu jam, Wak Senah sudah menyebarkan cerita itu ke seluruh penjuru kampung.
Ada yang mendengar bahwa perahu itu milik bajak laut yang tenggelam. Ada pula yang mengatakan bahwa perahu tersebut muncul dari alam gaib ketika kabut turun di sungai. Bahkan beberapa warga mulai percaya bahwa perahu itu membawa kutukan yang dapat mendatangkan musibah bagi kampung. Kabar yang awalnya sederhana berubah menjadi cerita yang semakin menakutkan.
Tidak lama kemudian, kabar tersebut sampai ke telinga Hulubalang Karim. Mendengar kata "perahu tak bertuan", Hulubalang Karim langsung membayangkan berbagai kisah hantu sungai yang pernah didengarnya sejak kecil. Walaupun selalu membawa tombak panjang dan tampil gagah di depan warga, sebenarnya Hulubalang Karim sangat takut pada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan.
"Saya harus menjaga kampung," kata Hulubalang Karim.
"Bagus kalau begitu," ujar seorang warga.
"Tapi menjaga dari tempat yang agak jauh juga termasuk menjaga."
Menjelang siang, warga berkumpul di balai marga untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Depati Leman. Dengan pakaian kebesaran dan tongkat di tangan, Depati Leman duduk tegak mendengarkan laporan dari Penggawo Budin. Semakin panjang cerita yang disampaikan, semakin serius pula wajah para warga yang hadir. Sementara itu, Depati Leman berusaha terlihat tenang meskipun rasa penasaran mulai tumbuh di dalam hatinya.
"Jangan panik," kata Depati Leman. "Selama saya masih memimpin marga ini, tidak ada yang perlu ditakuti."
Di tengah keramaian itu, Ketib Nurdin mengangkat tangan dan meminta semua orang untuk berpikir tenang. Menurut Ketib Nurdin, perahu hanyut di sungai bukanlah sesuatu yang aneh. Bisa saja pemiliknya kehilangan kendali karena arus sungai yang deras, atau tali tambatannya terlepas saat malam hari. Namun penjelasan rasional itu tenggelam oleh berbagai rumor yang sudah lebih dahulu menyebar.
"Kita periksa dulu sebelum mengambil kesimpulan," kata Ketib Nurdin.
"Kalau memang aman, tentu saya tidak khawatir," sahut Hulubalang Karim.
"Tapi wajah Hulubalang terlihat sangat khawatir," celetuk seorang warga.
Keesokan paginya, Depati Leman memimpin rombongan menuju dermaga. Warga berbondong-bondong mengikuti dari belakang. Hulubalang Karim berjalan sambil menggenggam tombaknya erat-erat. Penggawo Budin terus menunjuk ke arah perahu yang masih terikat di tepian sungai, sementara Wak Senah berjalan sambil membisikkan cerita-cerita baru yang belum tentu benar.
Sesampainya di dermaga, Depati Leman berdiri paling depan. Dengan suara lantang, ia memerintahkan agar perahu diperiksa. Beberapa warga yang lebih berani mulai mendekati perahu tersebut. Mereka memeriksa bagian depan, belakang, hingga dasar perahu dengan sangat teliti.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah sungai.
"Itu perahu saya!"
Semua orang menoleh bersamaan. Dari kejauhan terlihat seorang nelayan tua mendayung perahu lain menuju dermaga. Setelah tiba, nelayan itu menjelaskan bahwa perahu yang menghebohkan kampung tersebut hanyalah perahunya yang terlepas saat ditambatkan di hilir sungai pada malam sebelumnya. Ia sudah mencarinya sejak subuh dan akhirnya menemukan perahunya berada di kampung itu.
Mendengar penjelasan tersebut, suasana langsung hening beberapa saat. Ketib Nurdin hanya tersenyum sambil mengusap janggutnya. Penggawo Budin menundukkan kepala karena merasa bersalah. Wak Senah pura-pura sibuk memperbaiki kerudungnya agar tidak menjadi pusat perhatian. Hulubalang Karim perlahan-lahan menurunkan tombaknya yang sejak tadi diarahkan ke perahu.
Namun peristiwa yang paling lucu terjadi beberapa saat kemudian. Karena ingin terlihat berani di depan warga, Depati Leman memutuskan untuk naik ke atas perahu dan memeriksanya sendiri. Ketika melangkah dengan penuh percaya diri, kakinya menginjak papan yang licin akibat embun pagi. Dalam sekejap, Depati Leman terpeleset dan jatuh terduduk di dalam perahu dengan suara yang cukup keras.
"Wah, perahunya memang tidak berhantu, Depati," kata seorang anak kecil polos.
"Kenapa?" tanya warga lain.
"Kalau berhantu, pasti hantunya sudah lari ketakutan melihat Depati jatuh."
Mendengar ucapan itu, seluruh warga langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan Hulubalang Karim yang biasanya menahan diri tidak mampu menyembunyikan tawanya. Wajah Depati Leman memerah karena malu, tetapi ia tidak bisa marah karena memang tidak ada yang salah dengan perahu tersebut. Akhirnya ia ikut tersenyum sambil membersihkan pakaiannya yang kotor (***)
