![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Ketika berbicara tentang kuliner khas Palembang, pikiran banyak orang langsung tertuju pada pempek kapal selam, lenjer, atau adaan. Namun, di balik popularitas berbagai jenis pempek tersebut, terdapat satu varian yang memiliki aroma dan cita rasa yang sangat khas, yaitu pempek lenggang.
Masyarakat Palembang, Banyuasin, Ogan Ilir, dan beberapa daerah lain di Sumatera Selatan telah lama mengenal makanan ini. Keistimewaannya terletak pada penggunaan daun pisang sebagai wadah sekaligus pemberi aroma alami yang khas saat proses pemasakan berlangsung.
Meski sering disebut dengan satu nama, ternyata pempek lenggang memiliki beberapa variasi yang berbeda. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menyamakan istilah lenggang panggang dan lenggang bakar, padahal keduanya memiliki teknik pengolahan yang tidak sepenuhnya sama.
Secara umum, pempek lenggang adalah olahan pempek yang dipadukan dengan telur dan dimasak dalam wadah daun pisang berbentuk takir atau kotak kecil. Saat dipanaskan di atas bara api, daun pisang mengeluarkan aroma harum yang meresap ke dalam adonan sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda dari pempek rebus atau goreng.
Varian yang paling dikenal adalah pempek lenggang panggang. Pada jenis ini, pempek yang sudah matang—biasanya berupa pempek lenjer yang telah direbus—dipotong-potong kecil lalu dicampur dengan telur kocok. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah daun pisang dan dipanggang di atas bara arang hingga matang. Hasilnya adalah tekstur yang lebih padat dengan rasa pempek yang tetap terasa kuat, berpadu dengan gurihnya telur dan aroma daun pisang.
Sementara itu, terdapat pula varian yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai pempek lenggang bakar. Berbeda dengan lenggang panggang, jenis ini menggunakan adonan pempek yang masih mentah. Adonan ikan dan tepung dicampur langsung dengan telur di dalam wadah daun pisang, kemudian dibakar hingga matang. Karena tidak melalui proses perebusan terlebih dahulu, teksturnya cenderung lebih lembut, lebih menyatu, dan memiliki aroma asap yang lebih kuat.
Di sejumlah daerah, kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian sehingga batasnya tidak selalu tegas. Namun, para pelaku kuliner tradisional dan generasi tua umumnya masih mengenali perbedaan teknik pengolahan tersebut. Jika lenggang panggang memanfaatkan pempek yang telah jadi, maka lenggang bakar menggunakan adonan mentah yang langsung dimasak di atas bara api.
Bagi masyarakat Banyuasin, pempek lenggang bukanlah makanan asing. Tradisi mengolah ikan sungai telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama. Ketersediaan ikan gabus, ikan belida pada masa lalu, maupun berbagai jenis ikan sungai lainnya menjadikan pempek berkembang luas di wilayah ini. Tidak mengherankan jika pempek lenggang juga ditemukan di berbagai desa dan pasar tradisional di Banyuasin.
Pada masa lalu, pempek lenggang umumnya dimasak menggunakan tungku kayu bakar atau arang tempurung kelapa. Cara memasak tradisional tersebut menghasilkan aroma yang lebih kuat dibandingkan kompor modern. Bahkan bagi sebagian orang, aroma asap yang berpadu dengan harum daun pisang justru menjadi daya tarik utama pempek lenggang.
Keunikan pempek lenggang menunjukkan kreativitas masyarakat Melayu Sumatera Selatan dalam mengolah hasil perikanan. Dengan bahan sederhana berupa ikan, tepung, telur, dan daun pisang, lahirlah makanan yang memiliki karakter rasa tersendiri. Tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan jejak tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah maraknya makanan modern, pempek lenggang tetap bertahan sebagai salah satu warisan kuliner yang memperlihatkan kedekatan masyarakat Palembang dan Banyuasin dengan sungai, ikan, serta kearifan memasak tradisional. Setiap kali aroma daun pisang yang dipanggang mulai tercium, seolah hadir kembali kenangan tentang dapur-dapur lama yang menjadi bagian penting dari sejarah kuliner Sumatera Selatan (***)
