-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Penjual Terasi Sungsang

Senin, 22 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-22T01:00:00Z
Ilustrasi Depati Leman dan Penjual Terasi Sungsang 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Pada zaman dahulu, di sebuah dusun yang berada di tepian sungai wilayah Banyuasin, hiduplah seorang pemimpin marga yang sangat disegani bernama Depati Leman. Ke mana pun pergi, Depati Leman selalu mengenakan pakaian hitam kebesaran, songkok bulat bermotif batik pejabat marga, dan membawa tongkat kebesaran yang menjadi lambang kewibawaannya. Warga kampung menghormatinya karena pandai berbicara dan sering memberikan petuah. Namun, meskipun tampak bijaksana, Depati Leman memiliki kebiasaan mudah percaya pada kabar yang belum jelas kebenarannya.


Suatu pagi, beberapa perahu dagang dari Sungsang merapat di dermaga dusun. Para pedagang membawa berbagai hasil laut seperti ikan asin, udang kering, dan terasi yang terkenal hingga ke kampung-kampung pedalaman. Di antara para pedagang itu terdapat seorang penjual terasi yang membawa beberapa tempayan besar yang ditutup rapat dengan kain goni. Aroma terasi yang tajam sudah mulai tercium bahkan sebelum barang dagangannya diturunkan dari perahu.


Pada saat yang sama, Penggawo Budin sedang berkeliling kampung menjalankan tugasnya. Dari kejauhan, Penggawo Budin melihat banyak warga berkumpul di sekitar perahu penjual terasi tersebut. Karena penasaran, Penggawo Budin mendekat dan mencoba mendengarkan percakapan para pedagang. Sayangnya, ia hanya mendengar sebagian kecil pembicaraan yang kemudian membuat pikirannya langsung dipenuhi berbagai dugaan.


"Kalau tutupnya terbuka, bisa habis satu kampung," kata salah seorang pedagang.


Mendengar kalimat itu, Penggawo Budin langsung terkejut. Ia tidak mendengar bagian percakapan sebelumnya yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah aroma terasi yang akan menyebar ke seluruh kampung. Dengan napas tersengal-sengal, Penggawo Budin segera berlari menuju rumah Wak Senah untuk menyampaikan kabar yang dianggapnya sangat penting.


"Wak Senah, celaka besar!"

"Apa yang terjadi, Penggawo?"

"Ada barang dari Sungsang yang kalau terbuka bisa menghabiskan satu kampung!"


Wak Senah langsung memegang dadanya. Sebagai orang yang paling cepat mempercayai kabar aneh, Wak Senah tidak bertanya lebih jauh mengenai maksud perkataan Penggawo Budin. Dalam waktu singkat, Wak Senah berkeliling dari satu rumah ke rumah lain sambil menceritakan kabar tersebut. Semakin jauh cerita itu menyebar, semakin mengerikan pula isinya.


Ada warga yang mendengar bahwa barang itu adalah racun mematikan. Ada pula yang mengatakan bahwa tempayan tersebut berisi penyakit aneh dari laut. Bahkan beberapa orang mulai percaya bahwa di dalamnya tersimpan makhluk gaib yang dapat mendatangkan bencana bagi seluruh dusun. Tidak lama kemudian, kampung yang biasanya tenang berubah menjadi penuh kepanikan.


Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Hulubalang Karim. Meskipun dikenal sebagai pengawal pribadi Depati Leman dan selalu membawa tombak panjang, Hulubalang Karim sebenarnya sangat penakut. Mendengar cerita yang sudah bercampur berbagai rumor, Hulubalang Karim langsung membayangkan makhluk laut raksasa keluar dari dalam tempayan. Semakin banyak cerita yang didengarnya, semakin besar pula rasa takut yang muncul di dalam hatinya.


"Kalau memang berbahaya, sebaiknya saya berjaga dari tempat yang aman," kata Hulubalang Karim.

"Itu namanya bersembunyi, bukan berjaga," sahut seorang warga.


Menjelang sore, Depati Leman mengumpulkan warga di balai marga. Dengan tongkat kebesaran di tangan, Depati Leman duduk tegak di kursi utama. Warga yang hadir merasa sedikit tenang melihat pemimpin mereka tampak begitu yakin menghadapi persoalan tersebut. Padahal dalam hati, Depati Leman sendiri belum mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.


"Jangan panik," ujar Depati Leman. "Apa pun yang datang dari Sungsang akan kita hadapi dengan tenang dan bijaksana."


Di tengah keramaian itu, Ketib Nurdin mencoba mengingatkan warga agar tidak terburu-buru mempercayai rumor. Menurut Ketib Nurdin, setiap kabar harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dijadikan dasar untuk mengambil keputusan. Namun suasana yang sudah terlanjur gaduh membuat nasihat Ketib Nurdin kurang diperhatikan. Warga lebih tertarik membicarakan berbagai kemungkinan yang terdengar menyeramkan.


"Sebaiknya kita lihat dulu barang itu," kata Ketib Nurdin.

"Asal jangan terlalu dekat," sahut Hulubalang Karim cepat.


Keesokan paginya, Depati Leman memimpin rombongan menuju dermaga. Dengan langkah tegap, Depati Leman berjalan paling depan seolah tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Di belakangnya, Hulubalang Karim mengikuti sambil sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Penggawo Budin terus menunjuk ke arah tempayan-tempayan besar itu, sementara Wak Senah berjalan sambil berbisik-bisik kepada warga yang lain.


Sesampainya di dermaga, penjual terasi dari Sungsang tampak kebingungan melihat kedatangan rombongan besar tersebut. Ia semakin heran ketika melihat Depati Leman berdiri di hadapan tempayannya dengan wajah sangat serius. Penjual terasi itu lalu memberi salam dan menanyakan maksud kedatangan mereka.


"Benarkah isi tempayan itu dapat menghabiskan satu kampung?" tanya Depati Leman.


Penjual terasi itu terdiam sejenak. Setelah memahami maksud pertanyaan tersebut, ia tidak dapat menahan tawanya. Rupanya ia baru menyadari bahwa percakapan para pedagang sehari sebelumnya telah disalahpahami oleh warga kampung.


"Yang bisa menghabiskan satu kampung itu bukan penduduknya, Depati," jawab penjual terasi. "Yang saya maksud adalah aromanya. Kalau tutup tempayan dibuka, baunya bisa tercium sampai ke seluruh kampung."


Mendengar penjelasan itu, warga langsung saling berpandangan. Ketib Nurdin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Wak Senah menundukkan wajah karena merasa malu. Penggawo Budin mulai sadar bahwa dirinya telah salah memahami pembicaraan para pedagang. Sementara itu, Hulubalang Karim diam-diam menggeser tombaknya ke belakang agar tidak terlalu mencolok.


Untuk membuktikan ucapannya, penjual terasi membuka salah satu tempayan. Seketika aroma terasi Sungsang yang sangat kuat menyebar ke udara. Beberapa warga langsung menutup hidung sambil tertawa. Ternyata isi tempayan itu benar-benar hanya terasi berkualitas tinggi yang biasa dijual ke berbagai daerah.


Suasana tegang pun berubah menjadi riuh oleh gelak tawa. Seorang anak kecil yang berdiri di dekat dermaga tiba-tiba bertanya dengan polos kepada Depati Leman.


"Depati, jadi sejak kemarin kita semua takut sama terasi?"


Pertanyaan itu membuat seluruh warga tertawa semakin keras. Wajah Depati Leman yang biasanya tenang langsung memerah. Ia berusaha mempertahankan wibawanya, tetapi rasa malu tidak dapat disembunyikan. Bahkan Ketib Nurdin pun tersenyum melihat tingkah pemimpin marga tersebut (***) 

×
Berita Terbaru Update