-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Buah Suren, Si Manis dari Hutan Banyuasin yang Mulai Jarang Dikenal

Kamis, 04 Juni 2026 | 10.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-04T05:16:10Z
Infografis Banyuasin Pos 

BANYUASIN POS Di tengah hamparan kebun tua dan hutan yang masih tersisa di Kabupaten Banyuasin, ada satu buah hutan yang dahulu cukup dikenal oleh masyarakat pedalaman. Namanya buah Suren. Kini, keberadaannya semakin jarang terlihat, bahkan banyak anak muda Banyuasin yang belum pernah melihat bentuk buahnya secara langsung.


Bagi sebagian warga yang tumbuh di kawasan talang atau kebun-kebun lama, Suren bukanlah nama yang asing. Buah ini biasanya ditemukan di hutan dataran rendah dan tumbuh pada pohon besar yang menjulang tinggi. Saat musim berbuah tiba, buah-buahnya yang matang menjadi buruan warga karena rasanya yang khas dan sulit ditemukan pada buah lain.


Menariknya, buah Suren yang dikenal masyarakat Banyuasin sebenarnya merupakan jenis buah hutan yang di sejumlah daerah lain lebih populer dengan nama keledang. Tanaman ini masih satu keluarga dengan nangka dan cempedak. Dalam dunia botani, buah tersebut dikenal dengan nama Artocarpus lanceifolius, salah satu anggota genus Artocarpus yang telah lama tumbuh alami di wilayah Sumatra.


Buah suren atau keledang


Selama ini masih banyak anggapan buah keledang hanya berasal dari Kalimantan. Padahal, berbagai jenis keledang juga ditemukan di Sumatra, termasuk di kawasan hutan dan lahan basah Banyuasin. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan hayati yang telah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal.


Penyebutan nama Suren di Banyuasin juga menyimpan cerita tersendiri. Secara umum, nama Suren di Indonesia lebih sering merujuk pada pohon penghasil kayu dari keluarga mahoni. Namun di Banyuasin, nama yang sama justru digunakan untuk menyebut buah hutan ini. Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat lokal membangun pengetahuan dan penamaan tumbuhan berdasarkan pengalaman hidup mereka di hutan dan kebun.


Dari segi penampilan, buah Suren memiliki bentuk yang cukup unik. Ukurannya tidak sebesar nangka ataupun cempedak. Kulit buahnya bertekstur kasar dengan tonjolan-tonjolan pendek yang membuatnya tampak eksotis. Ketika dibelah, bagian daging buahnya menampilkan warna kuning pekat hingga jingga terang yang langsung menarik perhatian.


Bukan hanya tampilannya yang menggoda. Banyak warga yang pernah mencicipi buah ini menggambarkan rasanya sebagai perpaduan manis dan gurih yang khas. Tekstur daging buahnya kenyal, sementara aromanya tidak terlalu tajam sehingga terasa nyaman saat disantap. Sensasi rasanya membuat banyak orang sulit melupakan pengalaman menikmati buah hutan yang satu ini.


Sayangnya, pohon Suren kini semakin sulit ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah nilai kayunya yang tinggi. Kayu pohon ini dikenal kuat, tahan lama, dan cukup diminati untuk berbagai kebutuhan bangunan. Akibatnya, banyak pohon tua yang ditebang, sementara regenerasi alami maupun penanaman kembali berjalan sangat lambat.


Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal buah Suren melalui cerita para orang tua. Padahal, keberadaan buah-buahan lokal seperti Suren bukan sekadar soal makanan, melainkan juga bagian dari identitas budaya dan kekayaan alam Banyuasin yang diwariskan dari masa ke masa.


Melestarikan pohon Suren berarti menjaga salah satu warisan hutan Banyuasin yang berharga. Upaya sederhana seperti mengenalkan kembali buah ini kepada generasi muda, menanam bibit di kebun masyarakat, hingga mendokumentasikan pengetahuan lokal tentang Suren dapat menjadi langkah awal agar buah hutan yang pernah akrab di lidah warga Banyuasin ini tidak hilang dari ingatan maupun dari alam tempat ia berasal (***) 

×
Berita Terbaru Update