Di tepian sungai di Tanah Banyuasin, di sebuah kampung yang rumah-rumahnya masih berdinding bambu dan beratap nipah, tinggallah seorang lelaki yang terkenal karena kepandirannya. Orang sekampung memanggilnya Pak Pandir. Tubuhnya kurus tinggi, kumisnya tipis melintang, dan kopiah hitamnya selalu dipakai miring seperti orang penting yang salah arah.
Pagi itu kampung sedang ramai. Dari rumah ke rumah orang membicarakan kedatangan hulubalang dari seberang sungai. Katanya hulubalang itu utusan langsung seorang datuk besar yang sedang memeriksa keamanan kampung-kampung di tepian sungai.
“Jangan main-main,” kata Wak Jamin di warung kopi. “Hulubalang itu galak. Kumisnya tajam seperti duri ikan sembilang.”
Pak Pandir yang sedang menyeruput kopi langsung berhenti di tengah tegukan.
“Kalau kumisnya tajam, dia makan nasi pakai apa?” tanyanya polos.
Orang-orang di warung langsung tertawa. Wak Jamin sampai tersedak kopi.
“Tajam itu maksudnya garang, Pandir!”
“Oh...” Pak Pandir mengangguk panjang. “Kukira kumisnya bisa dipakai memotong ketupat.”
Sejak mendengar cerita itu, Pak Pandir mulai gelisah. Ia takut hulubalang itu nanti mencari orang bodoh di kampung lalu membawanya pergi untuk dijadikan pelawak istana. Menurut pikirannya, kalau ada perlombaan orang bodoh, pasti dia juara kampung.
Diam-diam ia pun menyusun rencana agar terlihat gagah dan pintar.
Sore harinya ia meminjam baju teluk belanga milik sepupunya yang tubuhnya dua kali lebih besar. Celananya kedodoran, lengannya kepanjangan sebelah, dan kain songketnya malah terbalik. Tetapi Pak Pandir merasa dirinya sudah seperti panglima perang.
Ia lalu berjalan keliling kampung sambil membawa batang pisang seperti tombak.
Anak-anak kecil mengikuti dari belakang sambil tertawa.
“Pak Pandir jadi hulubalang!” teriak mereka.
Pak Pandir malah semakin bangga.
“Hei, jangan dekat-dekat. Hulubalang ini berbahaya. Sekali marah bisa makan tiga piring laksa!”
Keesokan paginya, benar saja, sebuah perahu panjang merapat di pelantar kampung. Dari atas turun seorang lelaki bertubuh besar dengan ikat kepala merah dan keris panjang di pinggang. Kumisnya memang tebal melintang seperti ekor tupai basah.
Orang kampung langsung menunduk hormat.
“Itu hulubalangnya,” bisik seseorang.
Pak Pandir yang sejak tadi mengintip dari balik pohon pisang langsung panik. Karena gugup, ia malah tersangkut di batang pisang sendiri lalu jatuh terguling ke parit kecil.
Byur!
Semua orang menoleh.
Hulubalang itu mengernyit. “Siapa itu?”
Pak Pandir buru-buru bangun. Tubuhnya penuh lumpur, songketnya melorot sebelah, dan batang pisangnya patah menjadi dua.
Dengan wajah sok tenang ia berjalan mendekat.
“Aku... pengawal rahasia kampung ini,” katanya pelan.
“Pengawal rahasia?” Hulubalang menaikkan alis.
“Iya. Aku menyamar jadi orang pandir.”
Orang kampung langsung menahan tawa. Wak Jamin sampai menggigit bibir sendiri.
Hulubalang itu memandang lama, lalu bertanya, “Kalau benar pengawal rahasia, apa tugasmu?”
Pak Pandir berpikir keras. Otaknya berputar seperti kipas angin tua.
“Aku menjaga... keamanan ayam.”
“Keamanan ayam?”
“Iya. Ayam itu penting. Kalau tidak ada ayam, pagi tidak ada yang berkokok. Kalau tidak ada yang berkokok, orang bangun kesiangan. Kalau kesiangan, kampung jadi malas.”
Beberapa orang mulai tertawa kecil.
Hulubalang itu tampak bingung antara marah atau geli.
“Jadi kau ini penjaga ayam?”
Pak Pandir cepat-cepat menggeleng.
“Bukan sembarang ayam. Ayam strategis.”
Kini orang-orang sudah tidak tahan lagi. Tawa pecah di pelantar.
Tetapi anehnya hulubalang itu malah ikut tertawa. Bahunya berguncang sampai sarung kerisnya bergerak-gerak.
“Sudah lama aku keliling kampung,” katanya sambil mengusap mata, “baru kali ini ada penjaga ayam strategis.”
Pak Pandir semakin percaya diri.
“Itulah sebabnya jangan sembarang hulubalang masuk kampung. Semua sudah diawasi.”
Hulubalang itu lalu duduk di balai bambu bersama warga. Ia mulai bertanya tentang hasil sungai, keadaan kampung, dan keamanan perairan. Tetapi setiap kali pembicaraan mulai serius, Pak Pandir selalu menyela dengan ucapan aneh.
Saat hulubalang berkata, “Di sungai ini ada perompak tidak?”
Pak Pandir langsung menjawab, “Kalau siang tidak kelihatan. Tapi malam mungkin berubah jadi ikan.”
Ketika hulubalang bertanya, “Orang kampung rajin ronda?”
Pak Pandir menjawab, “Rajin. Tapi lebih rajin mengantuk.”
Bahkan waktu disuguhi pindang patin, Pak Pandir berbisik serius kepada hulubalang, “Hati-hati makan cabai hijau itu. Semalam aku hampir menangis gara-gara dia.”
Hulubalang itu akhirnya tertawa terbahak-bahak sampai hampir menjatuhkan mangkuknya.
Menjelang sore, sebelum kembali ke perahu, hulubalang menghampiri Pak Pandir.
“Kau ini memang aneh,” katanya.
Pak Pandir tersenyum bangga. “Itu bakat.”
Hulubalang mengangguk pelan.
“Tapi kampung ini jadi hidup gara-gara kau. Orang tertawa terus dari tadi.”
Pak Pandir langsung membetulkan kopiahnya yang miring.
“Aku memang penjaga suasana kampung.”
“Bukan penjaga ayam strategis lagi?”
Pak Pandir berpikir sebentar lalu menjawab mantap, “Sudah naik pangkat.” (***)
