-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Penjual Minyak Wangi

Selasa, 26 Mei 2026 | 14.12 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-26T07:17:02Z
Ilustrasi 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Hari pasar selalu menjadi hari paling ramai di kampung itu. Sejak matahari belum tinggi, perahu-perahu kecil sudah mulai berdatangan dari hilir dan hulu membawa hasil kebun, ikan sungai, ayam, sampai anyaman rotan. Orang-orang berjalan hilir mudik di tepian sambil membawa bakul dan karung kecil di tangan. Bau ikan salai bercampur dengan aroma kopi panas dan lumpur sungai yang mulai mengering karena panas pagi.


Pagi itu suasana pasar terasa lebih ribut dari biasanya karena ada seorang pedagang baru datang dari hilir. Lelaki itu bertubuh kecil dan kurus dengan janggut tipis di dagunya. Ia mengenakan baju panjang warna krem yang mulai kusam terkena air sungai dan debu perjalanan. Di atas kain bentangnya berjajar botol-botol kecil berisi minyak wangi warna-warni yang berkilau terkena cahaya matahari.


Namanya Tuan Mahyudin. Mulutnya manis sekali waktu bicara. Baru sebentar membuka dagangan, lapaknya sudah dipenuhi orang karena ia pandai memuji dan membuat cerita macam-macam tentang minyak jualannya. Bahkan sebelum orang membeli, mereka sudah lebih dulu tertawa mendengar omongannya.


“Kalau pakai minyak ini,” kata Tuan Mahyudin sambil mengangkat satu botol kecil, “orang lewat bisa menoleh sampai tiga kali.”


Beberapa ibu-ibu langsung tertawa geli mendengar itu.


“Ada juga minyak khusus untuk orang yang ingin kelihatan lebih berwibawa,” sambungnya lagi sambil mengecilkan suara.


Kebetulan pada saat itu Depati Leman baru datang ke pasar bersama Hulubalang Karim dan Penggawo Budin. Songkok batik Depati Leman tampak rapi seperti biasa, sedangkan Hulubalang Karim berjalan di belakang sambil membawa tombak panjangnya. Penggawo Budin sendiri sudah sibuk melongok ke kiri kanan melihat dagangan orang sebelum benar-benar sampai di lapak minyak wangi itu.


Mendengar kata “berwibawa”, langkah Depati Leman langsung melambat. Ia berdiri di depan lapak sambil mengelus kumis tebalnya perlahan. Tuan Mahyudin yang melihat pakaian resmi hitam dan songkok batik khas depati langsung tahu bahwa orang di depannya bukan sembarang warga kampung. Senyumnya pun mendadak makin lebar.


“Nah,” katanya cepat, “kalau untuk orang besar seperti Depati Leman, saya punya minyak paling istimewa.”


Ia lalu mengambil satu botol kecil warna hijau gelap dari kotak kayu di bawah kain bentangnya. Dengan gerakan penuh gaya, Tuan Mahyudin membuka tutup botol itu lalu mengibaskan aromanya ke udara. Bau harum langsung menyebar ke sekitar lapak sampai beberapa orang yang lewat ikut berhenti penasaran.


“Ini minyak para bangsawan,” katanya meyakinkan. “Kalau dipakai, orang bicara jadi lebih didengar.”


Penggawo Budin langsung melongo kagum.

“Wah…”


Hulubalang Karim diam-diam mencium udara lalu berbisik pelan.



“Bau macam lemari pengantin.”


Tuan Mahyudin lalu mulai bercerita panjang tentang minyak itu. Katanya banyak saudagar kaya dan orang berpangkat tinggi di kota memakai minyak tersebut. Bahkan menurut ceritanya, ada kepala kampung yang katanya jadi makin disegani setelah memakai minyak itu. Makin lama cerita Tuan Mahyudin makin tinggi sampai beberapa warga mulai saling pandang sambil menahan senyum.


Depati Leman mulai tertarik juga mendengarnya. Walaupun wajahnya tetap dibuat tenang, matanya beberapa kali melirik botol kecil di tangan pedagang itu. Penggawo Budin malah terus mengangguk-angguk seperti mendengar petuah besar.


“Betul begitu?” tanya Depati Leman akhirnya.


“Demi Tuhan,” jawab Tuan Mahyudin cepat sambil menepuk dada.


Tanpa pikir panjang lagi, Depati Leman mengambil botol itu lalu mengoleskan sedikit minyak ke ujung baju hitamnya. Bau harum langsung menyebar lebih kuat di udara pasar. Wak Senah yang kebetulan lewat sambil membawa ikan asin sampai mendadak berhenti.


“Eh, harum nian…”

Penggawo Budin langsung tertawa kecil.


“Nah, cocok itu buat Depati Leman.”

Mendengar itu, dada Depati Leman makin membusung sedikit.


Namun waktu Tuan Mahyudin menyebut harga minyak tersebut, Hulubalang Karim langsung batuk keras sampai hampir tersedak ludah sendiri. Harga satu botol kecil minyak itu ternyata hampir sama dengan harga seekor kambing muda. Beberapa warga yang mendengar sampai ikut melongo.


“Semahal itu?” bisik Hulubalang Karim.


Tetapi karena sudah terlanjur dipuji-puji sejak tadi, Depati Leman gengsi juga kalau tidak membeli. Akhirnya dengan wajah tetap tenang, ia mengeluarkan uang dan membeli minyak wangi itu di depan warga pasar. Tuan Mahyudin tersenyum lebar sampai matanya hampir hilang tertutup pipi.


Sejak hari itu Depati Leman jadi rajin memakai minyak wangi ke mana-mana. Mau ke balai marga memakai minyak. Pergi ke pasar memakai minyak. Bahkan saat memeriksa kebun warga pun tetap memakai minyak tersebut. Bau harum Depati Leman sampai bisa tercium lebih dulu sebelum orangnya muncul di tikungan jalan titian.


Penggawo Budin malah mulai ikut kagum sendiri.

“Memang beda auranya sekarang.”


Hulubalang Karim cuma menahan senyum sambil membuang muka ke arah sungai.

Masalah mulai muncul tiga hari kemudian. Pagi itu Depati Leman datang ke balai marga dengan pakaian resmi hitam lengkap dan minyak wangi andalannya. Namun baru duduk sebentar di kursi balai, wajahnya mulai berubah aneh. Hidungnya bergerak-gerak seperti orang mencium sesuatu yang tidak beres.


“Ada bau apa ini?” gumam Depati Leman pelan.

Warga yang duduk dekatnya mulai saling pandang.


“Bau apa?”

“Macam bangkai musang…”


Penggawo Budin mendekat sedikit lalu langsung mundur lagi sambil menutup hidung.

“Ya Allah…”


Hulubalang Karim bahkan sampai menutup hidung memakai ujung kain sampinnya.


Ternyata minyak wangi mahal milik Depati Leman mulai berubah bau setelah terkena panas beberapa hari. Aroma kasturinya bercampur dengan bau tengik yang aneh sampai membuat orang pening kalau terlalu dekat. Semakin banyak dipakai, semakin kuat pula baunya menyebar ke seluruh balai.


Wak Senah yang baru masuk balai langsung berhenti di pintu.

“Siapa bawa ikan tapah busuk?”


Balai mendadak sunyi sebentar sebelum beberapa warga mulai menahan tawa.


Depati Leman cepat-cepat mencium ujung bajunya sendiri. Mukanya langsung berubah merah malu waktu menyadari sumber bau itu ternyata dari minyak wanginya sendiri. Namun karena warga mulai saling melirik sambil menahan ketawa, ia pura-pura tetap tenang sambil membetulkan songkok batiknya.


“Mungkin… cuaca panas,” katanya pelan.


“Bukan cuaca panas,” jawab Hulubalang Karim sambil menahan senyum. “Itu minyak mahal Depati Leman.”


Balai langsung pecah oleh suara tawa warga.


Depati Leman buru-buru menyuruh Penggawo Budin mencari Tuan Mahyudin ke pasar tepian. Namun ketika Penggawo Budin sampai di sana, lapak minyak wangi itu sudah kosong. Perahu kecil milik pedagang itu juga sudah tidak ada lagi di tepian sungai.


“Lari dia…” kata Penggawo Budin waktu kembali ke balai.


Depati Leman hanya duduk diam sambil memandangi botol kecil minyak wangi di tangannya. Bau anehnya masih samar-samar tercium di udara balai. Hulubalang Karim sudah membuang muka ke luar jendela supaya tidak tertawa keras lagi.


Menjelang siang, Ketib Nurdin baru datang dari surau setelah mendengar keributan warga di balai. Baru beberapa langkah masuk, ia langsung berhenti sambil mengernyitkan hidung.


“Bau apa ini?”

Warga langsung tertawa lagi.


Ketib Nurdin akhirnya duduk sambil tersenyum tipis ke arah Depati Leman.


“Wibawa itu bukan dari minyak, Depati Leman.”


Kali itu bahkan Wak Senah yang paling cerewet di kampung ikut mengangguk setuju sambil kipas-kipas hidungnya sendiri (***) 

×
Berita Terbaru Update