-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketahanan Pangan Banyuasin Makin Diperhitungkan Nasional, Askolani Paparkan Strategi di CNBC Indonesia

Minggu, 08 Februari 2026 | 17.59 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-09T10:46:57Z
Image
Ilustrasi 


BANYUASIN POS — Pemerintah Kabupaten Banyuasin di bawah kepemimpinan Askolani dan Wakil Bupati Netta Indian semakin mendapat perhatian di tingkat nasional melalui keberhasilan dan keseriusannya membangun ketahanan pangan berbasis potensi lokal. Komitmen tersebut disampaikan langsung Bupati Banyuasin dalam podcast yang ditayangkan CNBC Indonesia pada Jumat (6/2/2026) pukul 18.00 WIB dari Jakarta.


Dalam kesempatan itu, Askolani menjelaskan bahwa Pemkab Banyuasin melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura terus melakukan peningkatan luas dan kualitas lahan pertanian dengan mengonversi lahan rawa menjadi sawah produktif. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan produksi beras sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah.


Kebijakan tersebut selaras dengan Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian pangan nasional menuju swasembada. Menurut Askolani, swasembada pangan dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dengan mengoptimalkan seluruh potensi lahan yang tersedia.


Kabupaten Banyuasin sendiri memiliki potensi Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 189.345 hektare. Potensi ini, kata Askolani, merupakan karunia Tuhan yang harus dikelola secara bertanggung jawab sebagaimana tertuang dalam Sapta Cita Banyuasin ke-4, yakni mewujudkan nilai tambah sumber daya alam dan ekonomi menuju Banyuasin sejahtera, serta dijabarkan dalam Program Prioritas Banyuasin Makmur.


Untuk memastikan keberlanjutan produksi, Pemkab Banyuasin fokus menjaga kualitas beras dan meningkatkan kesejahteraan petani. Upaya tersebut dilakukan melalui rehabilitasi lahan, pendampingan petani, serta penyaluran sarana produksi pertanian. Anggaran daerah diarahkan pada target produksi 1,2 juta ton, terutama untuk penyediaan sarana produksi.


Sementara itu, pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pertanian—seperti tanggul, saluran tersier, dan pintu air—masih sangat membutuhkan dukungan pemerintah pusat, khususnya dari Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, dan Kementerian Transmigrasi. Dukungan ini diharapkan tidak hanya terpusat di Kecamatan Muara Telang, tetapi juga menjangkau kecamatan lain sebagai sentra pangan di Banyuasin.


Askolani mengakui bahwa hilirisasi produk padi di Banyuasin saat ini masih didominasi skala rumah tangga, dengan mayoritas petani menjual hasil panen dalam bentuk gabah. Ke depan, Pemkab Banyuasin berkomitmen mendorong tumbuhnya industri pengolahan padi guna meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani.


Pemkab Banyuasin juga mengapresiasi bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang telah banyak disalurkan kepada petani. Bantuan tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong kenaikan indeks pertanaman (IP). Saat ini, IP rata-rata Banyuasin berada di angka 1,4, dengan IP200 baru mencapai 40 persen dan IP300 sekitar 10 persen.


“Jika IP200 bisa ditingkatkan menjadi 60 persen dan IP300 menjadi 25 persen, maka target produksi 1,2 juta ton sangat realistis untuk dicapai,” ujar Askolani. Selain peningkatan IP, produktivitas juga ditargetkan naik dari rata-rata 6,1 ton GKP per hektare menjadi 7,1 ton GKP per hektare dengan dukungan alsintan.


Pemkab Banyuasin juga telah menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 44 Tahun 2019 tentang Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B) seluas 104.973 hektare. Lahan tersebut, bersama LBS berdasarkan data ATR/BPN, telah disosialisasikan kepada masyarakat tani agar tidak dialihfungsikan ke komoditas non-pangan seperti sawit.


Menjelang panen raya pada 11 Februari 2026, Askolani mengungkapkan optimisme dengan produktivitas mencapai 8 ton per hektare. Pemkab Banyuasin bersama Bulog Kanwil Sumsel-Babel dan pemerintah pusat berupaya memastikan harga gabah petani tetap di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.


Meski mengandalkan lahan pasang surut, dukungan pusat melalui Program Optimasi Lahan (OPLAH) dinilai sangat membantu petani. Modernisasi pintu air, normalisasi saluran tersier, serta pembangunan tanggul telah meningkatkan efektivitas produksi di berbagai wilayah Banyuasin.


Dengan meningkatnya produksi, kesejahteraan petani menjadi prioritas utama. Melalui tujuh program prioritas daerah, termasuk Petani Makmur dan pembentukan Brigade Pangan dari kalangan milenial, Pemkab Banyuasin berharap pertanian padi menjadi sektor yang menjanjikan, berkelanjutan, dan mampu mengantarkan masyarakat Banyuasin menuju kesejahteraan (***) 

×
Berita Terbaru Update