-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bahasa Melayu Banyuasin, Identitas Hidup Orang Melayu Banyuasin

Selasa, 10 Februari 2026 | 09.37 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-10T02:37:00Z
Ilustrasi 

Bahasa bukan sekadar alat bicara bagi Orang Melayu Banyuasin (OMB). Lebih dari itu, bahasa menjadi ruang tempat pengalaman hidup, nilai sosial, dan cara pandang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui bahasa, OMB menamai alam sekitarnya, mengatur hubungan sosial, sekaligus menegaskan siapa mereka dalam keseharian.


Bahasa Melayu Banyuasin tumbuh sebagai bagian dari rumpun besar bahasa Melayu, dengan kedekatan alami dengan Melayu Palembang dan Melayu Musi. Namun, dalam praktik sosial, bahasa ini memiliki ciri khas yang dikenali oleh penuturnya sendiri. Karena itu, dalam konteks budaya dan identitas, istilah “Bahasa Melayu Banyuasin” lebih terasa hidup dibandingkan sekadar penamaan teknis linguistik.


Keunikan utama Bahasa Melayu Banyuasin terletak pada kekayaan subdialeknya. Ia tidak hadir sebagai satu bentuk tunggal, melainkan sebagai jaringan ragam tutur yang berkembang di berbagai wilayah seperti Mainan, Lalang, Pulau, Pangkalan Balai, Lubuk Karet, hingga Betung. Bahkan, hampir setiap desa memiliki ciri tutur tersendiri—baik dari pilihan kata, intonasi, maupun cara menyusun ujaran.


Variasi tersebut tumbuh seiring sejarah permukiman Banyuasin yang tersebar di sepanjang sungai, rawa, dan talang. Sungai menjadi jalur pertemuan sekaligus ruang pembeda yang lentur. Akibatnya, perbedaan bahasa berkembang secara alami tanpa memutus hubungan antarwilayah. Dalam kehidupan sehari-hari, OMB kerap mampu mengenali asal-usul seseorang hanya dari beberapa kalimat pembuka.


Bahasa Melayu Banyuasin juga erat dengan etika sosial. Cara menyapa, memilih kata, hingga intonasi mencerminkan penghormatan terhadap usia, hubungan kekerabatan, dan posisi sosial. Kesalahan berbahasa sering dipahami bukan sebagai kesalahan tata bahasa semata, melainkan sebagai pelanggaran kepantasan dalam pergaulan.


Di tengah perubahan zaman, Bahasa Melayu Banyuasin menghadapi pergeseran ruang penggunaan. Bahasa Indonesia semakin dominan di sekolah dan administrasi, sementara bahasa lokal bertahan di ranah keluarga dan komunitas. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menandakan kemunduran. Campur kode justru menjadi strategi adaptif agar bahasa tetap hidup di tengah tuntutan modernitas.


Menariknya, hingga kini Bahasa Melayu Banyuasin belum banyak dikaji secara linguistik formal. Kekayaan subdialeknya dikenal luas secara empirik oleh masyarakat, tetapi belum terdokumentasi secara sistematis dalam penelitian. Celah inilah yang menunjukkan bahwa Bahasa Melayu Banyuasin bukan bahasa pinggiran, melainkan ladang pengetahuan budaya yang menunggu digarap.


Sebagai bagian dari objek Pemajuan Kebudayaan, Bahasa Melayu Banyuasin bukan hanya warisan masa lalu. Selama ia terus digunakan untuk bercerita, bercanda, menasihati, dan merundingkan hidup sehari-hari, bahasa ini akan tetap menjadi identitas hidup Orang Melayu Banyuasin—lentur, beragam, dan terus berdenyut bersama zamannya (***) 



×
Berita Terbaru Update