-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pohon Kurma yang Berjalan Pulang ke Rumah Orang Jujur

Jumat, 28 November 2025 | 09.58 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-28T02:58:00Z
Ilustrasi

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Ada kisah yang membuat Rasulullah ﷺ menitikkan air mata. Bukan karena luka, bukan pula karena kehilangan, tapi karena kejujuran yang begitu bening hingga langit pun ikut bergetar. Kisah itu datang dari seorang sahabat bernama Abu Dujanah, lelaki yang hidup sederhana tapi hatinya dijaga seperti mutiara di dasar samudra. Ia dikenal sebagai pejuang tangguh di medan perang, namun ternyata pertempuran terbesarnya justru terjadi di halaman rumahnya sendiri — melawan godaan sebutir kurma yang tidak halal.


Setiap selesai salat, Abu Dujanah bergegas pulang. Rasulullah sempat heran — mengapa ia tak pernah berlama-lama dalam zikir bersama? Hingga suatu hari, sang Nabi bertanya, dan Abu Dujanah menjawab dengan jujur: di pekarangannya ada pohon kurma milik tetangga yang dikenal munafik. Ia takut anak-anaknya tanpa sengaja memetik buah dari pohon itu. Maka setiap kali pulang, yang ia buru bukan dunia, melainkan kehalalan rezeki. Ia ingin memastikan tak ada yang haram menyentuh mulut keluarganya.


Suatu hari, Abu Dujanah mendapati anaknya tengah memakan kurma dari pohon itu. Dengan panik, ia berusaha mengeluarkannya dari mulut sang anak. Anak kecil itu menangis — dan mungkin di situlah dunia ikut menangis bersamanya. Sebab dalam tangisan anak itu ada pelajaran besar: bahwa seorang ayah sejati bukan hanya memberi makan, tapi memastikan makanan itu bersih dari dosa.


Ketika mendengar kisah itu, Rasulullah ﷺ tak kuasa menahan air mata. Lalu beliau memanggil pemilik pohon, menawarkan surga sebagai gantinya — pohon dari zamrud biru, disirami emas merah, bertangkai mutiara putih. Tapi lelaki munafik itu menolak. Ia hanya mau dibayar kontan, sebab imannya tak pernah tumbuh seperti pohon yang ia punya. Hingga akhirnya Abu Bakar membeli pohon itu dan memberikannya kepada Abu Dujanah, dan Rasulullah berkata, “Aku yang menanggung gantinya untukmu.”


Malamnya, sesuatu yang mustahil terjadi: pohon kurma itu berpindah sendiri ke halaman Abu Dujanah. Seolah bumi tahu di mana ia harus menegakkan batangnya. Seolah Tuhan ingin berkata, “Kejujuran selalu tahu jalan pulang.” Pohon itu berjalan bukan karena mukjizat tanah, tapi karena restu langit kepada hati yang bersih.


Kisah ini seperti bisikan lembut bagi zaman yang serba terburu dan licik. Kita mungkin tak punya pohon yang berpindah, tapi kita masih punya hati yang bisa memilih tanahnya sendiri — tanah kejujuran, tanah ketulusan. Sebab setiap langkah jujur, sekecil apa pun, akan menemukan rumahnya suatu hari nanti. Dan mungkin, seperti Abu Dujanah, kelak kita akan melihat keajaiban yang berjalan pelan, tapi pasti: bahwa rezeki yang halal selalu tahu ke mana ia harus pulang (***) 

×
Berita Terbaru Update