![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
BANYUASIN POS – Nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis pada perdagangan Jumat pagi, 5 Juni 2026. Setelah sempat dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda perlahan mampu membalikkan keadaan dan kembali menguat di pasar spot.
Data perdagangan yang dikutip dari Kontan pada pukul 09.35 WIB menunjukkan rupiah sempat dibuka di level Rp18.062 per dolar AS atau melemah sekitar 0,08 persen dibanding penutupan hari sebelumnya. Namun tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Menjelang pukul 09.24 WIB, rupiah berhasil rebound dan berada di posisi Rp18.017 per dolar AS.
Posisi tersebut membuat rupiah menguat sekitar 0,18 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang tercatat di level Rp18.049 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia pada pagi hari.
Pergerakan mata uang di Asia sendiri berlangsung beragam. Peso Filipina menjadi mata uang yang mencatat kenaikan terbesar kedua setelah rupiah dengan penguatan 0,13 persen. Yen Jepang juga bergerak positif sekitar 0,04 persen, sementara dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih berada dalam tekanan. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk setelah melemah hingga 0,82 persen. Ringgit Malaysia turun 0,5 persen, diikuti baht Thailand yang terkoreksi 0,08 persen dan dolar Taiwan yang melemah 0,07 persen.
Tekanan juga masih terlihat pada dolar Singapura yang turun 0,05 persen, sedangkan yuan China melemah tipis sekitar 0,01 persen. Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar regional masih cenderung berhati-hati meskipun beberapa mata uang mulai menunjukkan tanda pemulihan.
Sementara itu, data pasar valuta asing yang ditampilkan TradingView pada pukul 10.36 WIB menunjukkan pasangan USD/IDR berada di level Rp18.025 per dolar AS. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding posisi pembukaan harian di Rp18.034 per dolar AS, menandakan dolar AS mengalami pelemahan tipis sekitar 0,05 persen terhadap rupiah.
Meski berhasil menguat pada perdagangan pagi ini, posisi rupiah masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun 2026, USD/IDR tercatat telah naik sekitar 7,84 persen, sementara dalam kurun satu tahun terakhir kenaikannya mencapai lebih dari 10 persen. Data tersebut menggambarkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda, meski dalam jangka pendek mulai terlihat adanya ruang pemulihan.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah sentimen ekonomi global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan. Stabilitas inflasi, arus modal asing, serta kebijakan suku bunga di Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang akan menentukan langkah rupiah selanjutnya (***)
