-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pedada, Pohon Mangrove yang Menyimpan Buah dan Kehidupan Pesisir

Senin, 01 Juni 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-02T04:09:06Z
Infografis Banyuasin Pos 

Di kawasan muara sungai, rawa pasang surut, dan hutan bakau, tumbuh sebuah pohon yang sering luput dari perhatian banyak orang. Namanya pedada atau pidada. Pohon ini termasuk kelompok mangrove dari genus Sonneratia dan dikenal luas di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat Melayu, pedada bukan sekadar pohon liar di tepian air, melainkan bagian dari sumber pangan, obat tradisional, dan penyangga ekosistem pesisir yang telah hidup berdampingan dengan manusia sejak lama. 


Pedada yang paling dikenal di Indonesia adalah pedada merah (Sonneratia caseolaris). Pohon ini biasanya tumbuh di daerah berlumpur yang masih dipengaruhi pasang surut air laut, terutama di tepian sungai dan kawasan mangrove. Tingginya dapat mencapai 15 hingga 20 meter dengan batang kokoh serta akar napas yang mencuat dari tanah seperti tonggak-tonggak kecil di sekeliling pohon. Akar tersebut membantu pohon bernapas di tanah berlumpur yang miskin oksigen. 


Salah satu ciri paling menarik dari pedada adalah bunganya. Ketika mekar, bunga pedada menampilkan ratusan benang sari berwarna merah muda hingga kemerahan yang tampak mencolok di antara dedaunan hijau. Bunga ini biasanya mekar pada malam hari dan menghasilkan nektar yang melimpah. Karena itu, bunga pedada sering didatangi kelelawar, ngengat, dan berbagai serangga penyerbuk yang membantu proses reproduksi pohon tersebut.


Buah pedada berbentuk bulat agak pipih dengan warna hijau saat muda dan berubah ketika matang. Rasanya cenderung masam dengan aroma yang khas. Di berbagai daerah pesisir, buah ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Masyarakat mengolahnya menjadi sirup, dodol, wajik, selai, jus, hingga berbagai makanan tradisional lainnya. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan buah pedada mengandung vitamin dan berbagai senyawa yang berpotensi bermanfaat bagi kesehatan.


Selain buahnya, bagian lain dari pohon pedada juga memiliki manfaat. Daun muda kadang dijadikan lalapan, sementara beberapa masyarakat memanfaatkan bagian tertentu dari tumbuhan ini dalam pengobatan tradisional. Penelitian fitokimia menunjukkan bahwa pedada mengandung berbagai senyawa bioaktif yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan dan pangan. 


Bagi ekosistem pesisir, pedada memiliki peran yang sangat penting. Akar-akarnya membantu menahan lumpur dan mengurangi abrasi di tepian sungai maupun pantai. Pohon ini juga menjadi tempat berlindung berbagai jenis ikan, kepiting, burung, dan organisme lainnya yang hidup di kawasan mangrove. Keberadaan pedada ikut menjaga keseimbangan rantai kehidupan di wilayah pesisir yang sering menjadi benteng alami menghadapi gelombang dan perubahan lingkungan. 


Di banyak kampung pesisir Melayu, pohon pedada sering tumbuh berdampingan dengan nipah, bakau, dan perepat. Keberadaannya menghadirkan pemandangan khas rawa pasang surut yang tenang dan hijau. Ketika musim berbuah tiba, anak-anak kampung dahulu kerap memungut buah yang jatuh ke air, sementara orang-orang tua mengolahnya menjadi makanan rumahan. Dari pohon inilah terlihat bagaimana masyarakat pesisir membangun hubungan yang akrab dengan alam: mengambil seperlunya, memanfaatkan secukupnya, dan menjaga agar kehidupan tetap berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya (***) 

×
Berita Terbaru Update