-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kuau Raja Mencari Raja Hutan

Kamis, 25 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-25T01:40:06Z
Ilustrasi Kuau Raja Mencari Raja Hutan 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Di hutan rimba yang luas di wilayah Melayu Banyuasin, hiduplah seekor burung Kuau Raja yang terkenal cerdik dan banyak akal. Tubuhnya tidak besar, tetapi langkahnya gesit dan pikirannya selalu dipenuhi rasa ingin tahu. Ia senang berjalan ke sana kemari, mengamati apa saja yang terjadi di hutan, mulai dari pohon yang tumbang hingga jejak kaki hewan yang baru melintas. Baginya, setiap hari selalu menyimpan sesuatu yang menarik untuk dicari tahu.


Suatu pagi, saat sedang mencari buah-buahan liar di tepi rawa, Kuau Raja mendengar burung-burung kecil berdebat.


"Harimau itu raja hutan!" kata seekor pipit.

"Bukan, Buaya Muara lebih pantas!" bantah yang lain.

"Kalau begitu mengapa bukan Gajah?" sahut seekor burung lagi.

Kuau Raja menghentikan langkahnya. Kepalanya langsung dipenuhi pertanyaan.

"Siapa sebenarnya raja hutan?" gumamnya.


Sepanjang hari pertanyaan itu terus mengganggunya. Ia bahkan lupa mencari makan siang karena terlalu sibuk memikirkannya. Menjelang sore, ia memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.


Hewan pertama yang ditemuinya adalah Rusa yang sedang minum di anak sungai.

"Rusa, siapa raja hutan?" tanya Kuau Raja.

"Tentu Harimau," jawab Rusa cepat. "Aku selalu menghindarinya."

Kuau Raja mengangguk lalu melanjutkan perjalanan.


Tidak jauh dari sana ia bertemu Beruk yang sedang memetik buah rambai.

"Menurutmu siapa raja hutan?" tanya Kuau Raja.

Beruk terkekeh.


"Kalau di atas pohon, Harimau tidak bisa mengejarku. Menurutku tidak ada yang lebih hebat daripada diriku sendiri."


Jawaban itu membuat Kuau Raja tertawa.


Menjelang petang ia tiba di tepi sungai besar. Seekor Buaya Muara sedang berdiam di dekat akar bakau.


"Siapa raja hutan?" tanya Kuau Raja lagi.

Buaya membuka mulutnya lebar-lebar.

"Kalau di sungai ini, tanyakan saja kepada ikan-ikan. Mereka pasti tahu jawabannya."


Kuau Raja cepat-cepat menjauh. Ia tidak yakin ikan-ikan yang dimaksud Buaya masih bisa menjawab pertanyaan apa pun.


Keesokan harinya ia menemui Harimau Belang. Saat itu Harimau sedang berjalan perlahan di antara pohon-pohon besar.


"Harimau, benarkah engkau raja hutan?" tanya Kuau Raja.

Harimau berhenti sejenak.

"Aku tidak tahu. Siapa yang bilang begitu?"

"Banyak yang bilang."


Harimau hanya mengangkat bahu lalu melanjutkan perjalanan tanpa menjawab lagi.


Kuau Raja semakin bingung. Setiap hewan memiliki jawaban yang berbeda. Akhirnya ia mendapat ide yang menurutnya sangat hebat.


Ia mengundang seluruh penghuni hutan berkumpul di sebuah lapangan dekat rawa. Kabar itu cepat menyebar. Burung-burung datang berkelompok. Rusa, beruk, monyet, biawak, bahkan Buaya Muara ikut muncul dari sungai. 


"Ayo kita tentukan siapa raja hutan!" seru Kuau Raja.

Awalnya semua tampak bersemangat. Namun tidak lama kemudian suasana berubah menjadi ramai.


"Harimau!"

"Buaya!"

"Gajah!"

"Beruk!"


Masing-masing memilih jagoannya sendiri. Suara mereka saling bersahutan. Burung-burung beterbangan. Monyet-monyet melompat dari dahan ke dahan sambil berteriak. Bahkan Buaya Muara dan Beruk saling melotot karena tidak mau mengalah.


Kuau Raja yang berdiri di atas tunggul kayu mulai pusing.

"Tunggu! Tunggu dulu!" teriaknya.

Namun tidak ada yang mendengarkan.


Saat keributan sedang memuncak, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari pinggir lapangan. Seekor Harimau muncul dari balik semak. Seketika suasana menjadi sunyi. Burung-burung berhenti berkicau. Beruk turun dari tunggul. Rusa mundur beberapa langkah.


Harimau memandang ke sekeliling dengan bingung.

"Ada apa?" tanyanya.

"Tidak ada," jawab Kuau Raja cepat.


Harimau mengangguk lalu berjalan menyeberangi lapangan menuju sungai. Saat Harimau lewat di dekat tepi air, Buaya Muara perlahan masuk ke dalam sungai. Tak lama kemudian Harimau pun menghilang di balik pepohonan.


Beberapa saat setelah itu, suasana kembali ramai.

"Nah, sekarang kita lanjut!" seru seekor monyet.

"Tidak usah," kata Kuau Raja sambil menggeleng.

"Kenapa?"


Kuau Raja memandang lapangan yang dipenuhi berbagai hewan. Sejak pagi mereka berdebat, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil membuat semua setuju.


Ia lalu meloncat turun dari tunggul kayu.

"Aku lapar. Lebih baik cari buah dulu."


Mendengar itu, beberapa burung tertawa. Beruk kembali memanjat pohon rambai. Rusa berjalan menuju padang rumput. Buaya menghilang ke dalam sungai. Satu per satu hewan meninggalkan lapangan hingga kembali sepi seperti biasa.


Kuau Raja sendiri terbang rendah menyusuri tepian rawa. Pertanyaannya memang belum benar-benar terjawab. Namun perjalanan mencari jawabannya ternyata jauh lebih menyenangkan daripada jawaban itu sendiri.


Sambil mematuk buah ara yang matang, ia tersenyum kecil. Besok mungkin ada pertanyaan lain yang lebih menarik untuk dicari tahu (***) 

×
Berita Terbaru Update