-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Wajib Ada Saat Ramadan, Kini Banyak Anak Muda Tak Lagi Mengenalnya

Kamis, 25 Juni 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-25T02:00:00Z
Dulu Wajib Ada Saat Ramadan, Kini Banyak Anak Muda Tak Lagi Mengenalnya

Di tengah gempuran aneka makanan modern yang memenuhi meja berbuka puasa saat ini, ada satu makanan sederhana yang justru menghadirkan nostalgia mendalam bagi generasi 1960-an hingga 1980-an. Namanya roti koing. Bentuknya kecil, bulat, keras, dan nyaris tanpa rasa. Namun bagi banyak orang tua di Sumatera Selatan, termasuk Banyuasin, roti inilah yang selalu hadir menemani bulan Ramadan. Bahkan, bagi sebagian keluarga, berbuka puasa terasa belum lengkap jika tidak ada roti koing di meja makan. 


Anak-anak zaman sekarang mungkin akan heran melihat roti ini. Teksturnya begitu keras sehingga sulit digigit langsung. Karena itu, roti koing biasanya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam teh panas atau kopi hangat. Setelah beberapa saat, roti akan melunak, mengembang, dan siap disantap. Cara makan yang unik inilah yang menjadi ciri khas roti koing sejak puluhan tahun lalu. 


Di bulan Ramadan, roti koing sering disandingkan dengan kolang-kaling, kurma, cincau, atau dawet. Kehadirannya bukan sekadar makanan pengganjal lapar setelah seharian berpuasa, tetapi juga bagian dari tradisi keluarga. Banyak orang tua mengenang bagaimana mereka duduk bersama keluarga sambil menyeruput teh hangat dan menikmati roti koing menjelang waktu Magrib. 


Asal-usul roti koing sendiri menyimpan kisah menarik. Menurut berbagai sumber sejarah kuliner, roti ini lahir pada masa penjajahan ketika gula menjadi barang yang sulit diperoleh. Masyarakat kemudian membuat roti tanpa gula sehingga menghasilkan cita rasa yang tawar. Tak disangka, roti sederhana tersebut justru disukai masyarakat dan terus diproduksi hingga bertahan lintas generasi. Karena bentuk dan karakteristiknya yang khas, roti ini juga dikenal dengan sebutan roti raden atau roti klatak. 


Pada era 1960-an hingga 1980-an, roti koing sangat mudah ditemukan di warung-warung tradisional, pasar rakyat, hingga kedai kopi. Harganya murah dan mampu bertahan lama karena kadar airnya rendah. Tak sedikit orang tua yang menyimpan stok roti koing selama Ramadan sebagai persediaan untuk berbuka maupun sahur. Saat itu, pilihan makanan belum sebanyak sekarang sehingga roti koing menjadi salah satu camilan favorit masyarakat. 


Nama "koing" sendiri diyakini berasal dari bunyi keras yang terdengar ketika dua roti saling beradu. Meskipun tidak semua sumber menyebutkan asal-usul nama tersebut secara pasti, masyarakat Palembang telah lama mengenal istilah itu sebagai identitas kuliner khas daerah mereka. Teksturnya yang keras bahkan sering menjadi bahan candaan di tengah keluarga. Namun justru dari keunikannya itulah roti koing memperoleh tempat istimewa di hati masyarakat.


Seiring perkembangan zaman, popularitas roti koing mulai menurun. Generasi muda lebih akrab dengan aneka roti modern, pastry, donat, dan berbagai makanan kekinian. Banyak penjual tradisional yang berhenti memproduksi roti koing karena permintaan pasar terus berkurang. Kini, roti tersebut lebih banyak diburu oleh kalangan orang tua yang ingin mengenang masa kecil mereka. 


Padahal, di balik kesederhanaannya, roti koing menyimpan nilai sejarah yang penting. Ia menjadi saksi bagaimana masyarakat mampu beradaptasi pada masa sulit. Dari keterbatasan bahan pangan lahirlah sebuah makanan yang kemudian menjadi bagian dari identitas budaya kuliner Sumatera Selatan.


Bagi generasi yang tumbuh pada dekade 1960-an hingga 1980-an, aroma teh panas dan roti koing bukan sekadar kenangan tentang makanan. Ia adalah kenangan tentang kebersamaan keluarga, tentang suara azan Magrib yang ditunggu-tunggu, tentang meja makan sederhana yang penuh kehangatan, dan tentang Ramadan yang terasa begitu dekat dengan tradisi.


Kini, ketika berbagai makanan modern silih berganti hadir di meja berbuka, roti koing tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan banyak orang. Mungkin rasanya sederhana, bahkan cenderung tawar. Namun nilai nostalgia yang tersimpan di dalamnya jauh lebih manis daripada gula yang dahulu sulit didapatkan. Itulah sebabnya roti koing tetap dikenang sebagai salah satu teman setia buka puasa yang tak tergantikan bagi generasi lama Sumatera Selatan (***) 


×
Berita Terbaru Update