![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Bahasa sering menyimpan jejak sejarah yang tidak kita sadari. Banyak kata dan ungkapan yang digunakan sehari-hari ternyata berasal dari alam, tradisi, atau kebiasaan masyarakat masa lalu. Salah satu contohnya adalah frasa "kuning langsat", sebuah ungkapan yang sangat populer dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia untuk menggambarkan warna kulit seseorang.
Hingga kini, ketika seseorang disebut memiliki kulit kuning langsat, yang terbayang adalah warna kulit yang cerah, bersih, dan bercahaya. Warna tersebut tidak seputih kulit orang Eropa, tetapi juga tidak segelap kulit sawo matang. Ia berada di antara keduanya, dengan semburat kekuningan yang tampak alami. Namun, mengapa warna kulit itu disebut kuning langsat?
Jawabannya dapat ditemukan pada buah langsat, salah satu buah tropis yang telah lama tumbuh di kawasan Asia Tenggara. Buah ini masih satu keluarga dengan duku dan kokosan. Bentuknya bulat kecil, tumbuh bergerombol dalam tandan, dengan rasa manis yang disertai sedikit sensasi asam yang menyegarkan.
Ketika matang, kulit buah langsat berwarna kuning muda hingga kuning kecokelatan. Warna inilah yang kemudian menjadi sumber lahirnya istilah kuning langsat. Masyarakat Melayu masa lalu yang hidup dekat dengan alam menggunakan berbagai unsur lingkungan sebagai pembanding warna. Karena warna kulit buah langsat dianggap indah dan khas, maka warna tersebut dijadikan metafora untuk menggambarkan warna kulit manusia.
Dalam khazanah budaya Melayu, penggunaan benda-benda alam sebagai pembanding warna merupakan hal yang lazim. Kita mengenal istilah merah delima, hijau daun, hitam manis, atau biru laut. Semua istilah itu lahir dari pengamatan masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Demikian pula dengan kuning langsat yang berasal dari warna buah langsat yang matang.
Menariknya, sebagian orang pernah menggunakan istilah "putih langsat". Namun, sejumlah ahli bahasa menilai bahwa istilah kuning langsat sebenarnya lebih tepat. Alasannya sederhana. Ketika orang menyebut buah langsat, yang paling mudah dikenali adalah warna kulit luarnya yang kuning keemasan, bukan warna daging buahnya yang putih. Karena itu, frasa kuning langsat dianggap lebih sesuai dengan karakteristik buah tersebut.
Dalam sastra Melayu klasik, warna kulit kuning langsat sering menjadi simbol kecantikan. Banyak pantun lama menggambarkan gadis berkulit kuning langsat sebagai sosok yang elok dipandang. Warna kulit tersebut dianggap mencerminkan kesehatan, kelembutan, dan keanggunan. Tidak heran jika istilah itu bertahan hingga sekarang dan masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Bagi masyarakat Melayu di Sumatera, termasuk di Banyuasin, buah langsat bukanlah tanaman asing. Pohonnya tumbuh baik di daerah beriklim tropis dan menghasilkan buah yang menjadi favorit masyarakat ketika musim panen tiba. Bahkan sebelum hadirnya berbagai buah impor, langsat merupakan salah satu buah yang paling ditunggu-tunggu karena rasanya yang manis dan segar.
Selain lezat, buah langsat juga memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Daging buahnya mengandung vitamin, mineral, dan serat. Sementara itu, penelitian modern menemukan bahwa kulit buah langsat mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa buah yang selama ini dikenal karena rasanya ternyata juga menyimpan manfaat yang lebih luas.
Keberadaan istilah kuning langsat memperlihatkan betapa erat hubungan antara bahasa dan lingkungan. Bahasa tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh bersama pengalaman hidup masyarakat. Ketika masyarakat akrab dengan pohon langsat, maka nama buah itu pun masuk ke dalam perbendaharaan bahasa dan menjadi bagian dari cara mereka menggambarkan dunia.
Kini, mungkin tidak semua anak muda pernah memetik atau menikmati buah langsat langsung dari pohonnya. Namun, istilah kuning langsat tetap hidup dan terus digunakan. Frasa tersebut menjadi pengingat bahwa bahasa Melayu dan bahasa Indonesia menyimpan banyak warisan budaya yang berasal dari alam sekitar.
Dengan demikian, setiap kali kita mendengar ungkapan "kulit kuning langsat", sesungguhnya kita sedang menyebut nama sebuah buah yang telah menemani kehidupan masyarakat Nusantara selama berabad-abad. Sebuah buah sederhana yang tidak hanya memberikan kenikmatan rasa, tetapi juga meninggalkan jejak yang abadi dalam bahasa dan budaya Melayu (***)
