![]() |
Kuau Raja dan Pesta Buah Hutan |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Suatu pagi, Kuau Raja berdiri di atas batang kayu yang melintang di tepi rawa. Ia memandang hutan yang hijau sambil mengangguk-angguk sendiri. Tiba-tiba sebuah gagasan muncul di kepalanya.
"Sudah lama kita tidak berpesta," katanya. "Kalau semua hewan berkumpul pasti seru."
Tanpa menunggu lama, Kuau Raja terbang mencari Serindit.
"Sebarkan kabar! Besok sore ada Pesta Buah Hutan."
"Siapa yang mengadakan?" tanya Serindit.
"Aku."
"Buahnya dari mana?"
Kuau Raja terdiam beberapa saat.
"Nanti juga ada."
Serindit menggeleng sambil tertawa kecil, tetapi ia tetap menyebarkan undangan ke seluruh penjuru hutan.
Keesokan harinya, hampir semua penghuni rimba berdatangan. Rusa Sambar datang membawa buah bedaro. Burung Punai membawa buah beringin yang ranum. Belibis datang beramai-ramai sambil membawa buah pedada yang mereka temukan di tepi rawa.
Beruang Madu muncul paling belakangan.
"Mana makanannya?" tanyanya sambil mengusap perut.
Kuau Raja langsung tersenyum lebar.
"Sebentar lagi."
Semua hewan duduk melingkar menunggu.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit berlalu.
Perut Beruang Madu mulai berbunyi.
"Grrrr..."
Belibis saling berbisik.
"Katanya pesta."
"Kok belum ada apa-apa?"
Saat itulah Monyet Ekor Panjang datang sambil memanggul setandan pisang hutan.
"Wah! Kalian sudah mulai?"
"Belum," jawab semua hewan serempak.
Melihat pisang yang dibawa Monyet, mata Kuau Raja langsung berbinar.
"Wah, bagus sekali! Taruh di tengah."
Belum lama kemudian datang Buaya Muara menyeret setumpuk buah nipah.
"Aku bawa ini."
"Bagus! Taruh di situ."
Tak lama sesudahnya, Burung Punai datang lagi membawa buah rambai. Beruang Madu menemukan pohon sialang dan membawa sepotong sarang madu. Bahkan Rusa Sambar kembali lagi dengan buah raman yang baru dipetik.
Lama-kelamaan, halaman kecil di tengah hutan penuh oleh aneka buah.
Serindit mendekati Kuau Raja.
"Kau sebenarnya sudah menyiapkan makanan atau belum?"
Kuau Raja berbisik pelan.
"Belum."
"Lalu?"
"Aku tahu kalau semua tamu pasti tidak enak datang dengan tangan kosong."
Serindit sampai terdiam beberapa saat.
"Kau ini..."
"...cerdik?" sambung Kuau Raja.
"...licik."
Kuau Raja tertawa kecil.
"Tapi lihatlah."
Semua hewan kini sibuk saling mencicipi buah yang dibawa masing-masing. Belibis mencoba madu. Beruang Madu mencicipi rambai. Monyet Ekor Panjang sibuk menghitung berapa banyak pisang yang masih tersisa. Bahkan Buaya Muara terlihat menikmati buah raman meskipun wajahnya berkali-kali meringis karena rasanya asam.
Harimau Rimba yang sejak tadi hanya duduk memperhatikan akhirnya berkata singkat.
"Ramai."
"Itu berarti pestanya berhasil," jawab Kuau Raja bangga.
Tiba-tiba Monyet Ekor Panjang menunjuk Kuau Raja.
"Tunggu dulu."
"Kenapa?"
"Kami semua membawa makanan."
"Iya."
"Kalau kau membawa apa?"
Semua mata langsung memandang Kuau Raja.
Kuau Raja berkedip beberapa kali.
"Aku..."
Ia berpikir keras.
"...membawa undangan."
Suasana hening sejenak.
Lalu seluruh hutan pecah oleh gelak tawa. Bahkan Buaya Muara sampai tersedak buah nipah, sementara Beruang Madu tertawa sambil memegang perutnya.
Sejak hari itu, setiap kali Kuau Raja berkata ingin mengadakan pesta lagi, Belibis selalu bertanya lebih dahulu.
"Undangannya sudah siap?"
"Sudah."
"Kalau makanannya?"
Kuau Raja tersenyum lebar.
"Nah... itu sebabnya aku mengundang kalian." (***)
