-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kancil Masuk Dusun

Rabu, 24 Juni 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-24T02:00:00Z
Ilustrasi Kancil Masuk Dusun 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Pada suatu pagi yang cerah di sebuah hutan rawa di Tanah Banyuasin, Si Kancil berjalan menyusuri tepian sungai kecil yang airnya tenang. Burung-burung berkicau di atas pohon gelam, sementara angin menggerakkan daun-daun nipah di tepi rawa. Kancil sebenarnya sedang mencari buah-buahan muda yang biasa tumbuh di pinggir hutan. Namun, seperti biasa, rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada rasa laparnya.


Dari kejauhan, Kancil melihat kepulan asap tipis naik ke langit. Asap itu bukan berasal dari hutan, melainkan dari sebuah dusun yang berada tidak jauh dari tepi sungai. Kancil belum pernah masuk ke dusun itu sebelumnya. Ia hanya sering mendengar cerita dari burung-burung tentang halaman rumah yang luas, kebun buah yang rapi, dan kolam ikan yang penuh gemericik air.


"Aku cuma melihat-lihat saja," gumam Kancil sambil tersenyum.


Tanpa berpikir panjang, Kancil mengikuti jalan setapak yang biasa dilalui warga. Semakin dekat ke dusun, semakin banyak hal yang menarik perhatiannya. Ada jemuran kain berwarna-warni yang berkibar tertiup angin, ada ayam yang berlarian di halaman, dan ada pula kambing yang sedang mengunyah rumput di bawah pohon mangga. Mata Kancil bergerak ke sana kemari karena hampir semua yang dilihatnya terasa baru.


Saat memasuki dusun, Kancil melihat sebuah kebun mentimun yang tumbuh subur di belakang rumah panggung. Buah-buahnya tampak segar dan mengilap terkena sinar matahari pagi. Perut Kancil langsung berbunyi pelan. Ia menelan ludah beberapa kali sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya.


"Wah, mentimunnya besar-besar sekali," bisiknya.


Kancil lalu melompat melewati pagar kecil dan mulai mengendus-endus tanaman mentimun. Ketika ia hendak menggigit satu buah, tiba-tiba terdengar suara ayam jantan yang berkokok sangat keras. Kancil terkejut hingga meloncat ke belakang. Dalam kepanikannya, ia malah menabrak tumpukan tempurung kelapa yang tersusun di dekat dapur warga.


Brak!


Tempurung-tempurung itu berguling ke mana-mana. Seekor ayam betina yang sedang mengerami telur langsung berlari ketakutan. Beberapa ekor itik yang berada di kolam ikut ribut mengepakkan sayap. Dalam sekejap suasana dusun yang tenang berubah menjadi gaduh.


"Ada apa ini?" teriak Itik.

"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja semuanya berisik!" jawab Ayam.


Kancil segera bersembunyi di balik batang pisang. Dadanya berdebar kencang. Ia mengintip dari sela-sela daun dan melihat warga masih berada di dalam rumah sehingga belum mengetahui keributan itu. Merasa aman, Kancil mulai bernapas lega. Namun, rasa penasarannya muncul lagi dan membuatnya tidak ingin segera pulang.


Tak jauh dari situ, ia melihat sebuah kolam ikan yang airnya sangat jernih. Ikan-ikan berenang berkelompok sambil sesekali muncul ke permukaan. Kancil mendekati kolam itu dengan hati-hati. Bayangannya sendiri terlihat jelas di permukaan air hingga ia sempat mengira ada kancil lain sedang memandangnya.


"Halo, siapa namamu?" tanya Kancil.


Bayangan itu tentu saja tidak menjawab. Kancil mengangguk-angguk seolah sedang berbicara dengan teman baru. Ia bahkan sempat membungkuk beberapa kali. Ketika ia melangkah lebih dekat, kakinya terpeleset lumut yang tumbuh di pinggir kolam.


Byur!

Tubuh Kancil tercebur ke dalam air. Ikan-ikan langsung berhamburan ke segala arah. Kancil mengayuh kaki sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil naik kembali ke daratan. Bulunya basah kuyup dan dipenuhi daun-daun kecil yang hanyut di kolam.


Dari atas pohon rambutan, seekor Monyet yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kancil tidak bisa menahan tawa. Ia tertawa sampai bergelantungan di dahan. Semakin melihat wajah Kancil yang kebingungan, semakin keras pula suara tawanya.


"Kau sedang mandi pagi, Cil?" ejek Monyet.

"Aku sedang memeriksa kedalaman kolam," jawab Kancil cepat.

"Memeriksa dengan seluruh badan?"

"Itu cara paling teliti."


Monyet kembali tertawa hingga hampir jatuh dari pohon. Sementara itu, Kancil berpura-pura membersihkan bulunya agar tidak terlihat malu. Ia lalu berjalan menuju ujung dusun sambil sesekali menoleh ke belakang. Sebelum keluar dari dusun, matanya sempat menangkap pemandangan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah, suara lesung yang ditumbuk dari kejauhan, dan perahu-perahu kecil yang terikat di tepi sungai.


Ketika matahari mulai meninggi, Kancil akhirnya kembali ke hutan rawa. Langkahnya sedikit lebih cepat karena bulunya belum benar-benar kering. Dari kejauhan masih terdengar suara Monyet yang tertawa dari arah dusun. Kancil hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis dan terus berjalan menyusuri tepian sungai yang membawanya pulang ke rimba Banyuasin (***) 

×
Berita Terbaru Update