-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Gulo Puan, Si Manis Warisan Bangsawan Palembang yang Kini Kian Sulit Ditemukan

Minggu, 21 Juni 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-21T00:00:00Z

Gulo Puan, Si Manis Warisan Bangsawan Palembang yang Kini Kian Sulit Ditemukan



Di tengah gempuran aneka makanan modern yang terus bermunculan, ada satu kuliner tradisional dari Sumatera Selatan yang masih menyimpan pesona masa lalu. Namanya Gulo Puan, makanan khas yang dahulu begitu lekat dengan kehidupan para bangsawan di lingkungan Kesultanan Palembang Darussalam. Rasanya yang unik, proses pembuatannya yang panjang, serta keberadaannya yang semakin langka menjadikan kuliner ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya yang patut dijaga.


Dalam bahasa Palembang, gulo berarti gula, sedangkan puan berarti susu. Sesuai namanya, Gulo Puan dibuat dari perpaduan gula dan susu kerbau rawa yang dimasak hingga menghasilkan tekstur menyerupai karamel lembut berwarna cokelat keemasan. Sekilas tampilannya sederhana, namun cita rasanya begitu khas. Ada sensasi manis yang lembut dengan sedikit rasa gurih yang mengingatkan pada keju. Teksturnya halus, sedikit berpasir, dan sangat nikmat disantap bersama roti, pisang goreng, secangkir kopi hangat, bahkan menjadi bahan pelengkap dalam pembuatan kue tradisional seperti kue delapan jam.


Di balik kelezatannya, Gulo Puan menyimpan proses pembuatan yang tidak mudah. Sejak pagi hari ketika matahari mulai menyinari hamparan rawa, para perajin berangkat menuju kandang kerbau yang berada di tengah kawasan perairan. Kerbau-kerbau rawa terlebih dahulu dimandikan sebelum diperah susunya. Dari ratusan kerbau yang dipelihara, hanya kerbau yang sedang menyusui yang dapat menghasilkan susu, dengan rata-rata produksi sekitar satu setengah hingga dua liter per ekor.


Susu yang telah terkumpul kemudian dicampur dengan gula pasir menggunakan perbandingan lima liter susu untuk satu kilogram gula. Campuran tersebut dimasak dalam wajan besar dengan api kecil sambil terus diaduk selama berjam-jam. Proses yang memakan waktu sekitar lima jam ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Sedikit saja lengah, hasil akhirnya bisa berubah. Setelah melalui proses panjang, susu dan gula perlahan mengental hingga membentuk gumpalan lembut berwarna kecokelatan yang menjadi ciri khas Gulo Puan.


Masyarakat setempat meyakini bahwa pada masa lampau Gulo Puan merupakan hidangan istimewa yang hanya dinikmati oleh kalangan Sultan dan bangsawan. Karena bahan bakunya terbatas dan proses pembuatannya rumit, makanan ini memiliki nilai yang tinggi. Tidak mengherankan jika sejak dahulu Gulo Puan dikenal sebagai kuliner mewah yang tidak mudah diperoleh oleh masyarakat umum.


Hingga sekarang, citra eksklusif tersebut masih terasa. Produksi yang terbatas membuat Gulo Puan menjadi salah satu kuliner langka di Sumatera Selatan. Harganya relatif mahal dibandingkan makanan tradisional lainnya, bahkan bisa mencapai sekitar seratus ribu rupiah per kilogram. Banyak pembeli akhirnya memilih membeli dalam ukuran yang lebih kecil agar tetap bisa menikmati cita rasa khasnya.


Salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi pembuatan Gulo Puan adalah Desa Pulo Layang di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Desa yang dikelilingi kawasan rawa ini telah lama dikenal sebagai sentra penghasil Gulo Puan. Dari tempat inilah kuliner legendaris tersebut dibawa ke Palembang untuk dipasarkan, terutama pada hari Jumat ketika masyarakat berkumpul di kawasan Pasar Jumat sekitar Masjid Agung Palembang.


Lebih dari sekadar makanan, Gulo Puan adalah cerita tentang kehidupan masyarakat rawa, tentang hubungan manusia dengan alam, serta tentang kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap sendok Gulo Puan menyimpan jejak tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun. Di dalamnya tersimpan kisah para peternak kerbau, para ibu yang setia mengaduk adonan berjam-jam, dan masyarakat yang terus menjaga resep warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.


Karena itulah, menikmati Gulo Puan bukan hanya soal memanjakan lidah. Ada nilai sejarah, budaya, dan identitas daerah yang ikut dirasakan dalam setiap suapannya. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, keberadaan Gulo Puan mengingatkan kita bahwa warisan kuliner tradisional adalah bagian penting dari jati diri masyarakat Sumatera Selatan yang layak untuk terus dilestarikan (***) 

×
Berita Terbaru Update