-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kuau Raja Mencari Ujung Pelangi

Minggu, 21 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-21T01:00:00Z
Kuau Raja Mencari Ujung Pelangi 

Suatu sore setelah hujan deras mengguyur hutan rawa Banyuasin, langit tiba-tiba berubah sangat indah. Di atas sungai yang berkilauan muncul sebuah pelangi besar dengan warna-warna cerah yang membentang dari satu ujung hutan ke ujung lainnya. Semua penghuni hutan keluar dari tempat berlindung mereka untuk melihat pemandangan yang jarang muncul itu.


Kuau Raja yang sedang berteduh di bawah pohon jelutung langsung terpukau. Matanya membesar melihat lengkungan warna-warni yang seolah menyentuh bumi di kejauhan. Semakin lama ia memandang, semakin besar pula rasa ingin tahunya.


"Aku ingin tahu apa yang ada di ujung pelangi itu," gumamnya.

Kebetulan saat itu Serindit sedang bertengger di atas ranting dekatnya.

"Aku pernah dengar di ujung pelangi ada gunung madu," kata Serindit.

"Siapa yang bilang?"

"Belibis."

Kuau Raja langsung mengangguk-angguk.


Kalau sumber beritanya Belibis, biasanya kabarnya bisa berubah tiga kali sebelum matahari terbenam. Namun kata "gunung madu" sudah cukup membuatnya tertarik.


Tidak lama kemudian mereka menemukan Belibis yang sedang berenang di rawa.


"Benarkah ada gunung madu di ujung pelangi?" tanya Kuau Raja.


Belibis saling berpandangan.

"Gunung madu?"

"Siapa yang bilang?"

"Serindit."

Semua Belibis langsung menoleh ke arah Serindit.

"Aku dengarnya dari kalian!"


Belibis-belibis itu mulai saling menyalahkan hingga akhirnya tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali menyebarkan cerita tersebut. 


Meski begitu, Kuau Raja sudah terlanjur penasaran. Ia mengajak Serindit mencari ujung pelangi sebelum warna-warni itu menghilang dari langit.


Mereka berjalan melewati rawa, menyeberangi anak sungai, lalu masuk ke hutan yang lebih dalam. Dari kejauhan, pelangi itu tampak begitu dekat. Namun setiap kali mereka mendekat, ujung pelangi seolah bergeser menjauh.


"Aneh," kata Kuau Raja.

"Pelangi ini seperti takut bertemu kita."

"Atau mungkin malu," jawab Serindit.


Mereka terus berjalan sampai bertemu Beruang Madu yang sedang menjilati sisa madu pada sebuah sarang kosong.


"Ke mana kalian?" tanya Beruang Madu.

"Mencari ujung pelangi."

Mata Beruang Madu langsung berbinar.

"Kalau ada gunung madu, aku ikut!"


Tak lama kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Namun semakin jauh mereka berjalan, ujung pelangi tetap tidak kunjung dekat.


Di tepi sungai mereka bertemu Buaya Muara yang sedang berendam.


"Apa yang kalian cari?" tanya Buaya Muara.

"Ujung pelangi."

Buaya Muara tertawa keras hingga air sungai beriak.

"Aku tahu tempatnya."

"Di mana?" tanya Kuau Raja.

"Di belakang tikungan sungai sana."


Mendengar itu, mereka segera berlari ke arah yang ditunjuk Buaya Muara. Setelah sampai di sana, ternyata pelangi masih jauh seperti sebelumnya.

Dari belakang terdengar suara tawa Buaya Muara menggema di sepanjang sungai.

"Dia mengerjai kita!" teriak Beruang Madu kesal.


Matahari mulai turun semakin rendah. Warna pelangi perlahan memudar. Saat itulah mereka tiba di sebuah lapangan kecil yang dipenuhi bunga liar. Di sana berdiri Rusa Sambar yang sedang memandangi langit.


"Kalian terlihat lelah," katanya.

"Kami mencari ujung pelangi sejak tadi."

Rusa Sambar menatap mereka lalu menoleh ke arah langit.

"Kalau begitu, apakah kalian menemukannya?"

Kuau Raja mendongak. Pelangi itu kini tampak berada jauh di tempat lain lagi. 


"Tidak."

Serindit menggeleng.

"Juga tidak ada gunung madu."

Beruang Madu tampak paling kecewa mendengar kalimat itu.


Saat mereka masih berdiri di sana, warna pelangi perlahan menghilang dari langit sore. Satu demi satu warnanya memudar sampai akhirnya lenyap sama sekali. Yang tersisa hanya cahaya keemasan matahari yang menyinari rawa dan sungai Banyuasin.


Beruang Madu menghela napas panjang.

"Aku berjalan sejauh ini tanpa menemukan madu."

Serindit tertawa.

"Aku berjalan sejauh ini tanpa menemukan pelangi."

Kuau Raja ikut tertawa.

"Tapi setidaknya kita menemukan Buaya Muara yang ternyata lebih jahil daripada biasanya."


Mereka semua tertawa bersama. Bahkan Rusa Sambar yang biasanya tenang terlihat tersenyum kecil. Sementara di kejauhan, Buaya Muara masih tertawa sendirian di sungai karena berhasil mengirim tiga hewan berkeliling hutan mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa dikejar.



×
Berita Terbaru Update