-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman Berburu Napuh

Senin, 01 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-01T01:00:00Z
Ilustrasi 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Musim jambu hutan sedang tiba di hutan-hutan rawa sekitar kampung. Pohon-pohon jambu liar yang tumbuh di pinggir rawa dan tepian hutan nipah mulai dipenuhi buah yang masak kemerahan. Burung-burung datang bergerombol sejak pagi untuk mematuk buah yang ranum. Di saat seperti itulah napuh sering terlihat keluar mencari makan.


Napuh adalah sejenis kancil yang hidup di hutan-hutan rawa dan semak belukar. Tubuhnya kecil, kakinya ramping, dan gerakannya sangat cepat ketika berlari di antara akar-akar nibung dan nipah. Orang-orang kampung mengenalnya sebagai hewan yang cerdik dan sulit ditangkap. Selain daun muda dan pucuk tumbuhan, napuh sangat menyukai buah jambu hutan yang jatuh ke tanah.


Suatu pagi, seorang pemburu tua bernama Wak Saman datang ke balai marga membawa kabar yang membuat mata Depati Leman langsung berbinar. Menurut Wak Saman, beberapa ekor napuh sering terlihat datang ke bawah pohon jambu hutan di dekat rawa belakang kampung. Bahkan jejak kakinya masih terlihat jelas di lumpur yang lembap setelah hujan malam. Kabar itu segera membuat suasana balai menjadi lebih ramai daripada biasanya.


“Kalau begitu kita berburu,” kata Depati Leman mantap.


Penggawo Budin yang sedang mengunyah pisang goreng hampir tersedak.


“Berburu napuh?”


“Ya."


“Kalau begitu saya ikut."


Ketib Nurdin yang sedang duduk di sudut balai langsung menutup wajahnya sebentar. Ia belum tahu apa yang akan terjadi, tetapi pengalaman mengajarinya bahwa setiap kali Penggawo Budin berkata "saya ikut", biasanya akan muncul masalah baru. Hulubalang Karim sendiri hanya mengangguk pelan sambil membersihkan tombak panjangnya. Dalam hati, ia lebih penasaran melihat tingkah rombongan berburu daripada hasil buruannya nanti.


Keesokan paginya mereka berangkat sebelum matahari naik tinggi. Depati Leman memakai pakaian lapangan yang menurutnya cocok untuk pemburu berpengalaman, walaupun sebenarnya lebih mirip pakaian resmi yang sedikit dikusutkan. Hulubalang Karim membawa tombak panjang, Penggawo Budin membawa parang, sementara Ketib Nurdin hanya membawa tongkat kayu untuk membantu berjalan di rawa. Wak Saman memimpin perjalanan karena hanya dialah yang benar-benar memahami kebiasaan napuh.


Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Burung-burung hutan terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan dan udara pagi masih terasa sejuk. Sesekali mereka melihat buah jambu hutan yang jatuh berserakan di tanah. Menurut Wak Saman, tempat-tempat seperti itulah yang paling sering didatangi napuh.


Belum sampai setengah jam berjalan, Penggawo Budin sudah mulai mengeluh. Sepatunya tiga kali tertinggal di lumpur dan dua kali hampir jatuh karena terpeleset akar nibung. Keringatnya mengucur lebih deras daripada orang yang sedang bekerja seharian di sawah. Sementara napuh yang dicari belum juga terlihat batang hidungnya.


“Napuhnya jauh nian,” gerutunya.


“Napuh bukan pedagang kopi yang buka warung di tepi jalan,” jawab Hulubalang Karim.


Beberapa orang langsung tertawa kecil.


Mereka terus berjalan melewati semak-semak di bawah pohon nibung, lalu masuk ke kawasan hutan nipah yang lebih rapat. Di sana banyak pohon jambu hutan tumbuh liar dengan buah-buah yang bergelantungan di dahan. Beberapa buah yang matang tampak sudah jatuh dan sebagian memperlihatkan bekas gigitan hewan. Wak Saman langsung berjongkok memperhatikan tanah.


“Nah, ini baru jejak napuh,” katanya.


Semua orang mendekat.


Jejak-jejak kecil itu memang mengarah ke sebuah pohon jambu hutan yang cukup besar. Di bawahnya tampak beberapa buah yang sudah dimakan separuh. Wak Saman lalu memberi isyarat agar semua diam dan berjalan perlahan. Menurutnya, napuh kemungkinan masih berada tidak jauh dari situ.


Tidak lama kemudian, dari balik semak terlihat seekor napuh sedang memakan jambu hutan yang jatuh. Tubuhnya kecil, bulunya cokelat kemerahan, dan matanya terlihat waspada. Sesekali ia mengangkat kepala lalu kembali menggigit buah yang ada di tanah. Semua orang langsung membeku di tempat masing-masing.


“Itu dia,” bisik Hulubalang Karim.


Depati Leman langsung membusungkan dada.


“Sekarang waktunya menunjukkan kemampuan berburu.”


Padahal sepanjang hidupnya, pengalaman berburu Depati Leman lebih banyak berasal dari cerita orang lain.


Rombongan mulai bergerak perlahan. Semua berusaha menahan suara langkah agar tidak terdengar. Penggawo Budin bahkan berjalan berjinjit seperti pencuri ayam tengah malam. Namun baru beberapa menit kemudian terdengar suara keras dari belakang.


BRAK!


Semua orang terkejut.


Ternyata Penggawo Budin tersangkut akar nibung lalu jatuh menimpa semak berduri. Burung-burung langsung beterbangan ke segala arah. Wak Saman sampai memegang kepala sendiri melihat kejadian itu. Sementara napuh yang sedang makan langsung mengangkat kepala.


“Kalau ada napuh di sini, pasti dia sudah ketawa,” kata Wak Saman.


Mereka masih berharap hewan itu belum lari jauh. Namun ketika Depati Leman mencoba melangkah lebih dekat, kakinya justru menginjak ranting kering yang berbunyi keras.


KRETAK!


Napuh itu langsung melompat.


Lalu berlari.


Cepat sekali.


“Kejar!” teriak Depati Leman.


Mendadak seluruh rombongan berlari menembus semak dan lumpur. Napuh melesat di depan seperti bayangan cokelat yang sulit diikuti mata. Hulubalang Karim berusaha mengejar sambil menghindari akar-akar nibung. Penggawo Budin berlari sambil terengah-engah seperti orang mengejar perahu terakhir sebelum magrib.


Pemandangan itu lebih mirip lomba lari kampung daripada perburuan. Napuh terus melompat lincah melewati akar, semak, dan batang kayu tumbang. Sementara para pemburunya mulai kehilangan bentuk kewibawaan satu per satu. Bahkan Wak Saman yang paling berpengalaman pun hanya bisa melihat hewan itu makin menjauh.


Depati Leman yang paling bersemangat justru menjadi korban pertama. Kakinya tergelincir di lumpur lalu duduk mendadak di genangan air hitam. Songkok batiknya terbang dan jatuh beberapa langkah di belakangnya. Hulubalang Karim sempat menoleh, tetapi tidak berani tertawa.


Belum sempat membantu Depati Leman, terdengar teriakan lain dari belakang.


“Aduh!”


Ternyata Penggawo Budin masuk ke kubangan bekas kerbau berkubang. Separuh tubuhnya tenggelam di lumpur sampai hanya kepala dan kedua tangannya yang terlihat jelas. Wak Saman bahkan harus menariknya keluar seperti menarik jaring ikan yang tersangkut kayu.


Sementara itu napuh sudah lama menghilang. Yang tersisa hanya beberapa buah jambu hutan yang terguling di tanah dan jejak kaki kecil yang makin lama makin samar. Rombongan akhirnya berhenti di bawah pohon jambu hutan besar. Semua duduk kelelahan sambil membersihkan lumpur dari pakaian masing-masing.


Di tengah keheningan itu, Ketib Nurdin tersenyum kecil.


“Mungkin napuh itu lebih pintar daripada kita.”


“Jelas lebih pintar,” jawab Hulubalang Karim cepat.


Penggawo Budin mengangguk.


“Kalau tidak pintar, dia sudah jadi makan siang.”


Wak Saman tertawa sampai bahunya berguncang.


Depati Leman yang sejak tadi membersihkan lumpur dari songkok batiknya akhirnya ikut tersenyum. Ia sadar bahwa napuh bukan hewan yang bisa ditangkap hanya dengan semangat besar dan banyak perintah. Ada pengalaman, kesabaran, dan pengetahuan yang tidak bisa dibeli oleh jabatan atau banyaknya pengikut. Napuh kecil itu seolah mengajarkan pelajaran tanpa perlu berbicara sepatah kata pun.


Menjelang sore mereka pulang ke kampung tanpa membawa seekor napuh pun. Namun anehnya, warga tetap menyambut mereka dengan ramai setelah mendengar cerita kejar-kejaran di hutan. Menurut Wak Senah, hasil buruan boleh tidak ada, tetapi cerita lucunya sudah cukup untuk bahan obrolan sampai berhari-hari. Bahkan ada yang bilang napuh itu pasti masih tertawa di bawah pohon jambu hutan melihat tingkah para pemburu tadi pagi.


Sejak saat itu, setiap kali Depati Leman terlalu percaya diri tentang sesuatu yang belum pernah ia lakukan, Hulubalang Karim hanya perlu bertanya satu kalimat pendek.


“Masih ingat napuh pemakan jambu hutan itu, Depati Leman?”


Biasanya setelah mendengar kalimat itu, Depati Leman langsung berdeham panjang dan segera mengganti topik pembicaraan (***) 

×
Berita Terbaru Update