-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Cermai dan Kenangan Kampung yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Minggu, 14 Juni 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-14T00:31:29Z
Infografis Banyuasin Pos 

BANYUASIN POS — Jauh sebelum layar ponsel menjadi pusat perhatian anak-anak, halaman rumah, kebun, dan pepohonan di sekitar kampung adalah ruang bermain yang tak pernah sepi. Di antara berbagai tanaman buah yang tumbuh di lingkungan masyarakat Banyuasin, pohon cermai menjadi salah satu yang paling akrab dengan kehidupan anak-anak Melayu tempo dulu.


Pohon cermai mudah ditemukan di pekarangan rumah, tepi jalan kampung, hingga sudut kebun keluarga. Buahnya kecil, berlekuk-lekuk, berwarna hijau kekuningan, dan memiliki rasa asam yang khas. Meski sederhana, buah inilah yang sering menghadirkan cerita dan kenangan yang masih melekat hingga sekarang.


Bagi banyak orang Melayu Banyuasin, musim cermai identik dengan berkumpul bersama teman-teman seusai pulang sekolah. Anak-anak akan beramai-ramai mendatangi pohon yang sedang berbuah lebat. Sebagian memanjat dahan untuk mengguncang ranting, sementara yang lain menunggu di bawah untuk memungut buah yang berjatuhan. Suasana riuh penuh canda menjadi pemandangan yang biasa ditemui di kampung-kampung.


Menikmati cermai tidak selalu dilakukan dengan cara sederhana. Ada kebiasaan yang cukup populer di kalangan anak-anak, yaitu mencampur buah cermai dengan garam, cabai rawit, dan sedikit gula merah. Buah kemudian diremas atau ditumbuk kasar hingga menghasilkan campuran rasa asam, pedas, asin, dan manis yang menggugah selera. Meski membuat wajah mengernyit karena rasa asamnya, camilan sederhana ini justru menjadi favorit banyak anak.


Di rumah-rumah panggung Banyuasin, cermai juga kerap diolah menjadi manisan. Buah yang sudah cukup matang dimasak bersama gula hingga menghasilkan cita rasa yang lebih manis dan tekstur yang kenyal. Manisan cermai sering disimpan sebagai kudapan keluarga, terutama saat sore hari ketika anggota keluarga berkumpul di beranda rumah.


Tak hanya menjadi makanan, buah cermai juga memiliki tempat tersendiri dalam dunia permainan anak kampung. Buah yang masih muda dan keras sering dimanfaatkan sebagai peluru pletokan bambu. Permainan sederhana itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak yang menghabiskan waktu luang di kebun karet, lapangan rumput, atau halaman rumah.


Kini, keberadaan pohon cermai tidak lagi semudah dahulu ditemukan. Perubahan tata ruang permukiman, berkurangnya halaman rumah, dan bergesernya pola hidup masyarakat membuat pohon ini perlahan semakin jarang ditanam. Generasi muda pun lebih mengenal aneka camilan modern dibandingkan buah-buahan lokal yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.


Meski demikian, cermai tetap hidup dalam ingatan banyak orang Banyuasin. Buah kecil dengan rasa asam yang kuat itu menyimpan cerita tentang masa ketika kebahagiaan bisa ditemukan dari hasil memanjat pohon bersama kawan-kawan. Ia menjadi pengingat tentang kehidupan kampung yang sederhana, hangat, dan penuh kebersamaan.


Bagi generasi yang pernah tumbuh di tanah Banyuasin, cermai bukan sekadar buah. Ia adalah bagian dari jejak masa kecil, saksi persahabatan, dan warisan rasa yang terus bertahan dalam kenangan, meskipun zaman telah banyak berubah (***) 

×
Berita Terbaru Update