-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Jadi Mainan Favorit Anak Kampung, Seletup Rambat Kini Makin Jarang Ditemukan

Kamis, 11 Juni 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-11T00:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Bagi anak-anak yang tumbuh di pedesaan pada era 1980-an hingga awal 2000-an, nama seletup tentu bukan sesuatu yang asing. Buah kecil yang tumbuh liar di pagar kebun, tepi sawah, dan semak belukar ini pernah menjadi bagian dari permainan sehari-hari. Tak sedikit yang rela menjelajah kebun hanya untuk mencari buah yang sudah matang dan siap "diletupkan" di punggung tangan.


Namun tidak semua seletup adalah tanaman yang sama. Di banyak daerah Melayu, masyarakat mengenal dua jenis tanaman yang sama-sama disebut seletup. Pertama adalah rambusa (Passiflora foetida) yang lebih dikenal sebagai seletup rambat karena tumbuh menjalar dan memanjat. Kedua adalah ciplukan (Physalis angulata) yang sering disebut seletup semak karena tumbuh tegak sebagai perdu atau semak kecil.


Meski sama-sama memiliki buah yang terbungkus kelopak menyerupai kantong atau jaring, keduanya berasal dari keluarga tumbuhan yang berbeda. Karena bentuk buahnya sekilas mirip, banyak orang yang kerap menyamakannya.


Di wilayah Banyuasin dan beberapa daerah Sumatera Selatan, seletup rambat atau rambusa merupakan tanaman liar yang cukup mudah ditemukan pada masa lalu. Batangnya menjalar di atas semak, pagar kayu, atau rerumputan tinggi. Buahnya yang bulat kecil tersembunyi di balik jaring-jaring hijau yang terbentuk dari kelopak bunga.


Saat masih muda, buah rambusa berwarna hijau. Ketika matang, warnanya berubah menjadi kuning cerah hingga jingga. Pada saat itulah anak-anak biasanya mulai memetiknya. Sebagian dimakan langsung, sebagian lagi dijadikan mainan.


Permainan yang paling populer adalah meletupkan buah di punggung tangan. Buah yang matang ditempelkan lalu ditekan perlahan hingga mengeluarkan bunyi kecil seperti "plop". Dari kebiasaan itulah muncul sebutan letup-letup atau seletup. Bunyi sederhana tersebut ternyata mampu menghadirkan kesenangan yang sulit dijelaskan oleh anak-anak masa kini yang tumbuh di tengah gawai dan permainan digital.


Selain menjadi mainan, buah rambusa yang matang juga dikenal memiliki rasa yang cukup enak. Daging buahnya tipis dengan biji-biji hitam kecil yang diselimuti lendir bening. Rasanya manis dengan sentuhan asam yang menyegarkan, mengingatkan pada markisa dalam versi yang jauh lebih kecil.


Tak heran jika sebagian orang menjulukinya sebagai markisa hutan atau markisa mini. Julukan itu memang cukup beralasan karena rambusa masih memiliki hubungan kekerabatan dengan tanaman markisa.


Di balik ukurannya yang kecil, buah rambusa juga mengandung berbagai zat gizi yang bermanfaat. Kandungan vitamin C, kalsium, zat besi, dan antioksidannya membantu menjaga daya tahan tubuh. Meski demikian, masyarakat sejak dahulu sudah mengetahui satu aturan penting, yakni hanya memakan buah yang benar-benar matang.


Buah rambusa yang masih hijau sebaiknya tidak dikonsumsi karena mengandung senyawa alami yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Karena itu, anak-anak kampung dulu selalu menunggu hingga warna buah berubah menjadi kuning sebelum memetiknya.


Kini keberadaan seletup rambat semakin jarang terlihat. Semak belukar yang dahulu menjadi habitat alaminya banyak yang telah berubah menjadi kawasan permukiman, perkebunan intensif, maupun infrastruktur lainnya. Akibatnya, tanaman liar yang pernah begitu akrab dengan kehidupan anak-anak desa perlahan menghilang dari lingkungan sekitar.


Meskipun demikian, kenangan tentang seletup rambat tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Bagi generasi yang pernah merasakan masa kecil di kampung, melihat buah kecil berwarna kuning yang tersembunyi di balik jaring hijau itu sering kali cukup untuk membawa mereka kembali pada masa ketika kebahagiaan bisa ditemukan hanya dengan bermain di kebun dan mendengar bunyi letupan kecil dari sebuah buah liar (***) 

×
Berita Terbaru Update