![]() |
| Ilustrasi |
Di banyak daerah, kue sering hanya dianggap pelengkap hidangan. Datang saat hajatan, dimakan sambil minum kopi, lalu dilupakan begitu saja. Namun bagi masyarakat Orang Melayu Banyuasin, ada satu kue yang menyimpan cerita lebih panjang dari sekadar rasa manis di lidah. Namanya juedeh engkok, sebuah kue tradisional yang bentuknya menyerupai angka delapan dan hingga kini masih bertahan di tengah gempuran makanan modern.
Sekilas, bentuk kue ini memang sederhana. Adonannya dibuat dari bahan-bahan yang akrab ditemukan di dapur masyarakat kampung, lalu dibentuk melingkar menyerupai angka delapan sebelum digoreng hingga berwarna keemasan. Tetapi justru pada bentuk itulah tersimpan pesan yang diwariskan turun-temurun. Angka delapan dianggap melambangkan kesinambungan hidup, harapan yang tidak putus, serta doa agar rezeki dan kebahagiaan terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yang menarik, juedeh engkok tidak pernah benar-benar berdiri sendiri sebagai makanan. Ia hampir selalu hadir bersama cerita keluarga. Di banyak kampung Banyuasin, proses pembuatannya sering dilakukan secara bersama-sama. Para ibu, nenek, saudara, hingga tetangga berkumpul di dapur, berbagi tugas sambil bercakap tentang kehidupan sehari-hari. Dari situlah nilai kebersamaan tumbuh. Kue ini seakan menjadi alasan sederhana untuk mempererat hubungan antarmanusia yang mulai jarang ditemukan pada zaman serba praktis sekarang.
![]() |
| Juedeh Engkok |
Tak heran jika juedeh engkok kerap muncul dalam berbagai perhelatan adat, terutama menjelang pesta pernikahan. Kehadirannya bukan sekadar pemanis meja hidangan. Bagi banyak keluarga, bentuk lingkar yang saling menyambung pada kue tersebut menjadi lambang harapan agar rumah tangga yang dibangun tetap kokoh, harmonis, dan panjang usia. Karena itu, menyajikan juedeh engkok dalam acara keluarga sering dimaknai sebagai bentuk doa yang disampaikan tanpa kata-kata.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan kue tradisional seperti ini sebenarnya menyimpan pelajaran penting. Banyak orang mungkin mengenal Banyuasin melalui sungai, hutan rawa, atau hasil alamnya. Padahal, identitas sebuah daerah juga hidup melalui makanan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Juedeh engkok menjadi pengingat bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan besar atau upacara megah. Kadang-kadang, budaya justru bertahan lewat sesuatu yang sederhana, yang tersaji di atas piring dan dinikmati bersama keluarga.
Karena itulah juedeh engkok lebih pantas disebut sebagai simbol ingatan kolektif masyarakat Banyuasin daripada sekadar kudapan tradisional. Saat seseorang menggigit kue ini, yang hadir bukan hanya rasa manis, tetapi juga jejak kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan pesan agar akar budaya tidak tercerabut oleh zaman. Mungkin itulah alasan mengapa hingga hari ini, banyak orang Banyuasin masih menyimpan tempat khusus di hati mereka untuk kue berbentuk angka delapan tersebut (***)

