![]() |
Banyak Orang Mengira Sama, Ternyata Kerupuk Getas Palembang dan Bangka Punya Cerita yang Berbeda |
Di meja makan masyarakat pesisir Sumatera bagian selatan, kerupuk bukan sekadar pelengkap hidangan. Ia adalah identitas budaya. Di antara beragam jenis kerupuk ikan, ada satu nama yang sering menimbulkan kebingungan, yakni kerupuk getas. Sebagian orang menganggapnya makanan khas Palembang, sementara yang lain meyakini getas adalah kuliner asli Bangka Belitung. Siapa sebenarnya yang benar?
Jawabannya menarik. Keduanya benar, tetapi dengan sejarah dan perkembangan yang berbeda.
Secara umum, kerupuk getas merupakan kerupuk berbahan dasar ikan laut, tepung sagu, garam, dan bumbu sederhana. Setelah adonan dibentuk, dikukus, dijemur hingga benar-benar kering, kerupuk kemudian digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur renyah dengan cita rasa ikan yang kuat. Di wilayah Bangka, makanan ini juga dikenal sebagai keretek.
Di Kepulauan Bangka Belitung, getas telah lama menjadi makanan tradisional masyarakat pesisir. Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah bahkan menyebut getas atau keretek sebagai hasil olahan masyarakat Pulau Bangka yang memanfaatkan kekayaan ikan laut, terutama ikan tenggiri. Dahulu makanan ini dibuat sebagai cara mengawetkan hasil tangkapan nelayan sebelum berkembang menjadi oleh-oleh khas daerah.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa getas merupakan salah satu produk perikanan paling penting di Bangka. Selain getas, masyarakat mengenal kericu, amplang, dan berbagai kerupuk ikan lainnya. Sentra produksinya berkembang di Desa Kurau Barat, Bangka Tengah, yang kini dipenuhi toko oleh-oleh berbasis hasil laut.
Sementara itu, di Palembang, kerupuk getas tumbuh bersama tradisi industri pempek. Bahan bakunya hampir sama, yakni ikan tenggiri atau ikan gabus yang dicampur tepung sagu. Banyak keluarga pembuat pempek juga memproduksi kerupuk getas sebagai produk sampingan. Karena itu, getas menjadi makanan yang akrab di rumah-rumah masyarakat Palembang sejak puluhan tahun lalu.
Meski sama-sama menggunakan ikan dan sagu, terdapat beberapa perbedaan yang cukup mencolok. Getas Bangka umumnya dibuat berbentuk bulat atau lonjong kecil dengan tekstur sangat renyah dan rasa ikan yang lebih dominan. Produk ini sering dimakan sebagai camilan maupun pelengkap makanan berkuah. Bahkan sebagian masyarakat menikmatinya bersama kuah cuko seperti saat menyantap pempek.
Di Palembang, ukuran kerupuk getas cenderung lebih besar dan lebih dekat dengan keluarga kemplang goreng. Tidak sedikit produsen yang memanfaatkan adonan yang sama dengan pempek sehingga aroma ikan dan karakter sagunya terasa lebih lembut. Kerupuk ini lazim disajikan sebagai pendamping nasi, pindang, tekwan, model, atau makanan berkuah lainnya.
Menariknya, perkembangan industri membuat batas antara kerupuk getas Palembang dan Bangka semakin tipis. Banyak produsen Bangka memasarkan produknya hingga Palembang, demikian pula sebaliknya. Mobilitas masyarakat serta perdagangan antarpulau menyebabkan resep saling memengaruhi sehingga konsumen modern sering sulit membedakan asal sebuah kerupuk hanya dari tampilannya.
Penelitian terbaru mengenai getas Bangka juga menunjukkan bahwa komposisi ikan memengaruhi kandungan protein, meskipun tidak terlalu memengaruhi tingkat kesukaan konsumen. Formulasi yang menggunakan dominasi ikan tenggiri menghasilkan kadar protein lebih tinggi sekaligus menjadi yang paling disukai panelis. Temuan ini memperlihatkan bahwa kualitas getas tidak hanya ditentukan teknik pengolahan, tetapi juga pemilihan bahan baku ikan.
Di balik kerenyahannya, kerupuk getas menyimpan kisah panjang hubungan manusia dengan laut. Tradisi mengolah ikan menjadi kerupuk muncul dari kebutuhan masyarakat pesisir untuk memperpanjang masa simpan hasil tangkapan sekaligus meningkatkan nilai ekonominya. Dari dapur-dapur sederhana para nelayan, lahirlah makanan yang kini menjadi identitas kuliner dua daerah bertetangga.
Maka, ketika seseorang bertanya apakah kerupuk getas berasal dari Palembang atau Bangka Belitung, jawabannya bukan memilih salah satu. Getas adalah warisan kuliner masyarakat pesisir Sumatera bagian selatan yang berkembang melalui jalur perdagangan, budaya Melayu, dan tradisi perikanan. Palembang membesarkannya bersama industri pempek, sedangkan Bangka Belitung menjadikannya salah satu ikon oleh-oleh daerah yang dikenal hingga mancanegara.
Pada akhirnya, siapa pun yang menggigit sepotong kerupuk getas sesungguhnya sedang menikmati bukan hanya rasa gurih ikan dan renyahnya sagu, tetapi juga sejarah panjang peradaban maritim Melayu yang diwariskan lintas generasi (***)
