-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pak Pandir dan Ketib Badrun: Sebuah Kisah dari Tanah Banyuasin

Kamis, 14 Mei 2026 | 20.39 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-14T13:40:49Z

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Di sebuah kampung tua di Tanah Banyuasin, tinggallah seorang ketib bernama Badrun. Orang-orang memanggilnya Ketib Badrun. Tubuhnya kurus tinggi seperti galah penjemur kain. Jenggotnya tipis, tetapi suaranya besar sekali. Kalau dia batuk di ujung kampung, ayam di ujung lain bisa salah mengira sudah masuk waktu subuh.


Ketib Badrun orangnya sangat serius. Terlalu serius malah. Kalau berbicara selalu pelan sambil berdeham lebih dulu.


“Ehem... menurut syariat...” begitu biasanya dia membuka pembicaraan.


Padahal yang dibahas kadang cuma soal kambing masuk kebun cabai.


Di kampung itu juga ada Pak Pandir. Orangnya baik hati dan suka membantu, tetapi pikirannya sering melenceng ke mana-mana. Kalau disuruh membeli garam, bisa-bisa dia pulang membawa kapur sirih karena sama-sama berwarna putih.


Suatu sore Ketib Badrun datang ke rumah Pak Pandir. Waktu itu Pak Pandir sedang duduk di bawah rumah panggung sambil mengipasi ikan asin.


“Pandir,” kata Ketib Badrun serius.

Pak Pandir langsung berdiri tegak.

“Siap, Tib.”


“Aku mau pergi ke kampung sebelah malam ini. Ada urusan pernikahan.”


Pak Pandir mengangguk cepat seperti dia sendiri yang mau menikah.


“Nah, ayam peliharaanku kutitipkan kepadamu. Jangan sampai hilang.”


Pak Pandir langsung menepuk dadanya.

“Tenang saja, Tib. Ayammu kujaga seperti menjaga anak sendiri.”

Ketib Badrun menyipitkan mata.

“Itulah yang membuatku khawatir.”


Tetapi ayam itu tetap ditinggalkan. Ayam jantan berwarna merah hitam, besar, gagah, dan sombong. Jalannya seperti hulubalang sedang berpatroli di pasar.


Malam harinya Pak Pandir menjaga ayam itu dengan penuh semangat. Dia membuat kandang kecil dekat rumahnya. Diberi lampu minyak pula. Bahkan ayam itu diajak berbicara.


“Ayam Ketib ini jangan takut. Selama ada aku, tidak akan ada pencuri.”


Ayam itu malah mematuk sarung Pak Pandir.

“Lihat tingkahnya,” gumam Pak Pandir. “Belum jadi gulai saja sudah galak.”


Menjelang tengah malam Pak Pandir mulai mengantuk. Dia takut ayam itu dicuri orang, jadi kandangnya ditarik masuk ke bawah kelambu.


“Biar dekat denganku,” katanya.

Tidak lama kemudian terdengar suara gaduh.

Brak!


Pak Pandir terbangun kaget. Dalam gelap dia melihat bayangan bergerak-gerak dekat kepalanya.

“Maling!” teriaknya.


Tanpa berpikir panjang dia langsung memukul bayangan itu memakai bantal guling. Bayangan itu meloncat-loncat makin liar. Pak Pandir semakin panik. Dipukul lagi menggunakan sandal. Setelah beberapa kali dihajar, suasana tiba-tiba menjadi sunyi.


Pak Pandir duduk sambil terengah-engah.

“Hah! Kalah juga kau.”

Lalu dia tidur lagi dengan perasaan bangga.


Keesokan paginya Ketib Badrun pulang. Baru sampai halaman rumah, dia langsung bertanya.

“Mana ayamku?”

Pak Pandir tersenyum lebar.

“Aman.”

“Mana?”


Pak Pandir membuka kelambu dengan gaya penuh kemenangan.


Di situ ayam Ketib Badrun tergeletak kaku. Bulunya acak-acakan. Sebelah matanya masih terbuka.


Ketib Badrun melongo.

“Ini kenapa?!”

Pak Pandir menggaruk kepala.

“Dia melawan pencuri semalam.”

“Mana pencurinya?”

Pak Pandir diam sebentar.

“Mungkin kabur.”


Ketib Badrun menatap ayamnya. Lalu menatap Pak Pandir. Setelah itu menatap ayamnya lagi.


“Pandir...” katanya pelan. “Jangan-jangan kaulah yang memukul ayamku?”


Pak Pandir cepat-cepat menggeleng.

“Tidak mungkin! Aku memukul maling!”

“Tetapi malingnya mana?”

Pak Pandir mulai bingung sendiri.

“Itu... mungkin malingnya menyamar jadi ayam.”


Ketib Badrun langsung memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Orang-orang kampung yang mendengar keributan mulai berdatangan. Ada yang pura-pura prihatin, tetapi bibirnya sudah bergetar menahan tawa.


Kerio kampung sampai ikut datang melihat.

“Ada apa ribut-ribut pagi begini?”

Ketib Badrun menunjuk Pak Pandir.

“Dia membunuh ayamku.”

Pak Pandir langsung membela diri.

“Bukan membunuh. Salah sasaran.”

Orang-orang makin pecah tertawa.


Seorang warga bertanya, “Pandir, memang pencurinya seperti apa?”

Pak Pandir menjawab dengan yakin, “Gelap. Berbulu. Lompat-lompat.”

“Itu memang ayam!”

“Tetapi malam-malam semua makhluk bisa berubah.”


Ketib Badrun hampir jatuh terduduk menahan kesal. Namun karena satu kampung sudah tertawa semua, akhirnya dia ikut tertawa juga walaupun wajahnya masih merah.


Sebagai ganti rugi, Pak Pandir berjanji akan mencarikan ayam baru.


Sore harinya dia pergi ke pasar. Menjelang magrib dia pulang sambil membawa seekor bebek kurus.

Ketib Badrun bengong.

“Ini bebek.”

Pak Pandir mengangguk bangga.


“Memang. Aku cari ayam tidak ada. Jadi aku ambil yang suaranya hampir sama.”

“Itu mana sama?!”

“Sama-sama membangunkan orang pagi.”

Ketib Badrun langsung menepuk jidat. 


Belum sempat marah lagi, bebek itu tiba-tiba menggigit sarung Ketib Badrun sampai lepas. Ketib Badrun meloncat sambil memegangi kainnya, sedangkan Pak Pandir tertawa sampai terguling di tanah.


Orang-orang kampung yang melihat langsung heboh. Ada yang sampai duduk di jalan karena terlalu keras tertawa.


Sementara itu bebek kurus tadi berjalan mondar-mandir dengan sombong, persis seperti ayam Ketib Badrun dahulu (***) 

×
Berita Terbaru Update