-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pak Pandir dan Kerio Rahmad

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08.01 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-23T01:03:43Z


Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 


Di sebuah kampung tua di tanah Melayu Banyuasin, tinggallah seorang kerio bernama Rahmad. Orang-orang memanggilnya Kerio Rahmad. Kumisnya tebal melintang, suaranya besar, dan jalannya selalu seperti orang sedang memeriksa pasukan perang. Padahal tiap pagi kerjanya cuma berdiri di depan rumah sambil menyiram halaman sedikit-sedikit supaya orang kampung mengira dia sibuk.


Kalau Kerio Rahmad lewat, anak-anak langsung pura-pura rajin. Yang tadinya main gasing cepat-cepat angkat sapu. Yang lagi manjat pohon langsung turun sambil bawa daun singkong biar kelihatan seperti disuruh emak.


Tapi di kampung itu ada satu orang yang tak pernah takut dengan gaya Kerio Rahmad. Orang itu ya Pak Pandir.


Pak Pandir terkenal karena mulutnya ringan, otaknya melompat-lompat, dan kadang bicara dulu baru berpikir belakangan. Ia tinggal di rumah panggung kecil dekat kebun pisang. Pekerjaannya tak jelas. Kadang jadi penangkap ikan, kadang jual kayu bakar, kadang cuma duduk sambil mengipas ayam.


Suatu pagi Kerio Rahmad mengumumkan akan mengadakan ronda malam besar-besaran.

“Sekarang banyak pencuri ayam!” katanya di balai kampung. “Kita harus jaga keamanan!”

Orang kampung manggut-manggut. Padahal mereka tahu ayam yang hilang sebenarnya sering masuk kebun sebelah lalu lupa pulang. 


Kerio Rahmad berdiri tegak sambil menunjuk-nunjuk.

“Malam ini semua laki-laki ikut ronda! Termasuk kau, Pandir!”

Pak Pandir yang sedang makan pisang rebus langsung tersedak sedikit.

“Aku ikut, Kerio. Tapi aku ini kalau malam mataku rabun.”

“Rabun bagaimana?”

“Kalau gelap aku tak nampak apa-apa.”

Orang-orang ketawa kecil.

Kerio Rahmad mendengus. “Namanya juga malam! Memang gelap!”

“Tapi mataku lebih gelap lagi.”


Malam pun tiba. Orang-orang berkumpul membawa obor dan pentungan kayu. Ada yang semangat sekali karena baru pertama pegang pentungan. Dipukul-pukulnya pohon pisang sampai patah.


Pak Pandir datang paling akhir. Ia membawa lesung penumbuk padi kecil di pundaknya.

Kerio Rahmad melotot.

“Itu buat apa?”

“Kalau pencurinya lewat, kutumbuk sekalian.”

“Itu bukan pentungan, Pandir!”

Pak Pandir mengangguk santai. “Tapi kalau kena kepala, sama-sama benjol.”

Ronda dimulai. Mereka berjalan keliling kampung sambil teriak-teriak supaya pencuri takut.

“Hooiii... ronda malam!”

“Jaga kampung!”

“Awasss malinggg!”


Pak Pandir ikut berteriak paling keras sampai ayam-ayam dalam kandang kaget sendiri.

Baru sebentar berjalan, tiba-tiba terdengar suara gaduh di belakang surau tua.

Brakkk!

Semua orang berhenti.

Kerio Rahmad langsung berbisik tegang, “Pasti maling!”


Pak Pandir ikut tegang. Ia malah sembunyi di belakang orang paling kurus.

“Aku bagian doa saja,” katanya pelan.


Kerio Rahmad memberi aba-aba. Mereka berjalan mengendap-endap. Obor diangkat tinggi-tinggi. Nafas semua orang mulai berat seperti hendak perang besar.


Begitu sampai di belakang surau…

Seekor kambing meloncat keluar sambil membawa sarung di tanduknya.

“Astaga!” teriak seorang warga.

Pak Pandir yang paling terkejut langsung melempar lesung kecilnya ke udara. Lesung itu jatuh tepat mengenai tempayan air.

Byurrr!

Air menyiram semua orang termasuk Kerio Rahmad.

Kumis Kerio Rahmad langsung turun lemas kena air.

Orang-orang tak tahan ketawa.

Pak Pandir malah tepuk tangan. “Nah! Kalau malingnya terbakar, sekarang sudah padam.”

Kerio Rahmad menatap tajam sambil air masih menetes dari dagunya.

“Pandir! Otakmu itu di mana sebenarnya?”

Pak Pandir berpikir lama.

“Mungkin di rumah. Tadi terburu-buru jadi tak kubawa.”

Orang kampung makin pecah ketawa.


Ronda dilanjutkan lagi walaupun semangat mulai turun karena baju semua orang basah. Pak Pandir kini berjalan paling belakang sambil sesekali menguap.

Tiba-tiba ia berhenti.

“Kerio…”

“Apa lagi?”

“Aku curiga.”

Semua langsung diam.

“Ada apa?”


Pak Pandir menunjuk gelap di ujung jalan.

“Itu ada yang berdiri dari tadi.”

Semua menegang lagi. Kerio Rahmad mengangkat obor tinggi-tinggi.

Benar saja. Ada bayangan hitam tinggi berdiri diam.

“Pencuri!” bisik seseorang.


Kerio Rahmad maju pelan-pelan dengan gagah. Orang-orang ikut di belakangnya. Pak Pandir malah mundur dua langkah.


Saat sudah dekat, Kerio Rahmad langsung melompat sambil berteriak.

“Hoiii!”

Tak ada jawaban.

Obor diarahkan lebih dekat.


Ternyata itu cuma jemuran kain hitam yang tergantung di pagar.

Suasana hening beberapa detik.

Lalu terdengar suara Pak Pandir dari belakang.

“Nah, malingnya sudah jadi baju.”

Orang-orang kembali terbahak-bahak.


Kerio Rahmad malu sendiri. Tapi karena gengsi, ia pura-pura batuk sambil membetulkan songket di pinggangnya.


Menjelang tengah malam, ronda selesai. Semua duduk di balai kampung sambil minum kopi panas.


Kerio Rahmad masih kesal melihat Pak Pandir yang sedari tadi santai mengunyah ubi bakar.


“Pandir,” katanya akhirnya, “kau ini sebenarnya berguna atau tidak?”

Pak Pandir menatap kopi di tangannya.


“Kalau untuk makan, berguna. Kalau untuk mikir, kadang libur.”

Seorang warga sampai tersedak kopi mendengar jawaban itu.


Kerio Rahmad geleng-geleng kepala. Tapi sudut bibirnya mulai naik sedikit.

Tak lama kemudian terdengar suara ayam berkokok dari bawah kolong balai.


Semua menoleh.

Seekor ayam gemuk keluar sambil berjalan santai.

Pak Pandir langsung menunjuk ayam itu.

“Nah itu dia pencurinya!”

“Pencuri apa?”


“Itulah ayam yang hilang tiga hari lalu. Dia sembunyi sendiri rupanya.”


Kerio Rahmad menatap ayam itu lama sekali.

Lalu ia menghela napas berat.

“Satu kampung ronda semalaman gara-gara ayam bodoh.” (***) 

×
Berita Terbaru Update