-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Musafir

Minggu, 24 Mei 2026 | 07.41 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-24T00:41:42Z
Ilustrasi 


Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Hujan turun hampir seminggu penuh di kampung itu. Sungai yang biasanya tenang mulai berubah warna menjadi coklat pekat dan arusnya bergerak lebih deras dari biasanya. Titian kayu di tepian rumah panggung jadi licin, sementara suara katak bersahut-sahutan hampir sepanjang malam. Orang-orang kampung lebih banyak duduk di rumah sambil minum kopi panas karena jalan tanah sudah berubah jadi lumpur di mana-mana.


Sore itu langit masih mendung ketika sebuah perahu kecil terlihat muncul dari tikungan sungai. Perahu itu bergerak pelan melawan arus sambil sesekali terombang-ambing dihantam air. Seorang lelaki tua duduk sendirian di dalamnya dengan pakaian lusuh basah kuyup. Janggutnya sudah memutih sebagian dan wajahnya tampak letih seperti orang yang sudah berhari-hari berada di perjalanan.


Anak-anak yang sedang bermain di tepian langsung berhenti dan memperhatikan perahu itu. Tidak biasanya ada orang asing datang menjelang malam ketika hujan masih turun rintik-rintik. Perahu itu akhirnya merapat pelan di batang nibung tempat warga biasa mengikat sampan. Lelaki tua itu turun perlahan sambil membawa buntalan kain kecil di bahunya.


“Ada rumah tumpangan di kampung ini?” tanyanya pelan.


Kebetulan Penggawo Budin sedang lewat menuju balai marga membawa payung daun nipah. Baru melihat orang asing saja wajah Penggawo Budin langsung berubah serius seperti menemukan mata-mata dari negeri jauh. Ia mendekat perlahan sambil memperhatikan lelaki tua itu dari ujung kepala sampai kaki.


“Bapak ini dari mana?” tanya Penggawo Budin.

“Dari hulu.”

“Hulu mana?”

Lelaki tua itu tersenyum kecil.

“Jauh.”

Jawaban itu malah membuat Penggawo Budin makin curiga.


Tidak lama kemudian berita tentang musafir asing itu sudah sampai ke balai marga. Depati Leman yang sedang duduk menikmati pisang goreng langsung menghentikan kunyahannya waktu mendengar cerita Penggawo Budin. Menurut Penggawo Budin, orang tua itu sangat mencurigakan karena datang sendirian saat musim hujan dan tidak banyak bicara.


“Jangan-jangan dia pelarian,” bisik Penggawo Budin.

Ketib Nurdin yang duduk dekat jendela langsung menghela napas panjang.

“Semua orang asing di mata Budin memang selalu jadi pelarian.”

Hulubalang Karim yang sejak tadi sibuk mengeringkan tombaknya ikut menimpali.

“Atau mungkin cuma orang kecapekan.”


Namun Penggawo Budin tetap tidak yakin. Menurutnya, orang yang terlalu sedikit bicara justru lebih berbahaya daripada orang yang banyak bicara. Depati Leman mulai ikut berpikir serius karena sebagai depati ia memang harus menjaga keamanan kampung. Walaupun begitu, ia juga tidak mau terlihat terlalu takut di depan warga.


“Panggil orang itu ke balai,” kata Depati Leman akhirnya.


Menjelang magrib, musafir tua itu datang ke balai marga ditemani beberapa warga. Pakaiannya sudah sedikit kering, tetapi wajahnya masih tampak letih. Ia duduk bersila dengan tenang di lantai papan balai sementara warga memperhatikannya diam-diam dari belakang tiang.


Depati Leman berdeham kecil sebelum mulai bertanya.

“Siapa nama bapak?”

“Orang biasa memanggil saya Wak Daud.”

“Mau ke mana?”

“Belum tahu.”


Penggawo Budin langsung melirik curiga ke arah Hulubalang Karim.

“Tuh kan…”

Ketib Nurdin kembali memijat pelipisnya sendiri.


Wak Daud lalu bercerita bahwa ia sudah lama mengembara dari kampung ke kampung menyusuri sungai. Kadang ia bekerja membantu orang membuat jala ikan, kadang membantu memperbaiki perahu bocor. Karena musim hujan makin berat di hulu, ia memutuskan turun ke hilir mencari tempat singgah sementara.


Warga mulai sedikit tenang mendengar penjelasan itu. Namun Penggawo Budin masih belum puas. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Wak Daud.


“Kalau memang cuma musafir,” katanya pelan, “kenapa datang malam-malam?”


Wak Daud tersenyum kecil.


“Karena perahu saya tidak bisa melawan hujan.”


Jawaban itu sederhana sekali sampai beberapa warga malah tertawa kecil melihat wajah serius Penggawo Budin.


Depati Leman akhirnya memutuskan Wak Daud boleh tinggal sementara di surau dekat balai. Ketib Nurdin yang mengurus surau tidak keberatan selama orang tua itu menjaga kebersihan tempat menginapnya. Hulubalang Karim malah terlihat kasihan melihat keadaan Wak Daud yang tampak sangat lelah.


Malam itu hujan turun makin deras. Angin sungai bertiup dingin sampai suara daun nipah terdengar seperti orang berbisik di luar rumah. Sebagian warga masih membicarakan musafir tua itu sambil minum kopi di beranda rumah masing-masing. Wak Senah bahkan sudah membuat cerita sendiri bahwa Wak Daud mungkin sebenarnya saudagar kaya yang hartanya disembunyikan di dalam perahu kecilnya.


Keesokan paginya kampung kembali geger.


Perahu kecil milik Wak Daud ternyata hanyut terbawa arus sungai saat malam. Beberapa warga melihat tali pengikatnya putus dan sampannya sudah tidak ada sejak subuh. Wak Daud sendiri hanya duduk diam di serambi surau sambil memandangi sungai yang masih keruh.


“Itu satu-satunya harta saya,” katanya pelan.


Depati Leman langsung merasa tidak enak hati. Sebagai depati, ia merasa tamu yang datang ke kampung seharusnya mendapat perlindungan. Hulubalang Karim segera mengajak beberapa warga mencari perahu itu ke hilir. Bahkan Penggawo Budin yang semalam paling curiga ikut sibuk membawa galah panjang.


Pencarian berlangsung hampir sampai tengah hari. Sungai masih deras dan banyak ranting kayu hanyut di arus. Ketib Nurdin yang ikut di perahu belakang mulai khawatir karena cuaca terlihat akan hujan lagi.


Tiba-tiba Hulubalang Karim menunjuk ke arah semak rawa dekat tikungan sungai.

“Itu dia!”

Perahu Wak Daud ternyata tersangkut di akar pohon rambai yang tumbuh miring ke sungai. Sebagian badan perahu sudah kemasukan air, tetapi masih bisa diselamatkan. Warga langsung ramai menariknya ke tepian sambil saling berteriak memberi bantuan.


Wak Daud yang melihat itu tampak sangat terharu. Tangannya sampai gemetar waktu memegang kembali perahu kecilnya. Ia lalu duduk perlahan di batang kayu sambil memandangi warga satu per satu.


“Saya sudah lama mengembara,” katanya pelan. “Jarang ada kampung yang mau repot membantu orang asing."


Depati Leman langsung membetulkan songkok batiknya supaya terlihat makin berwibawa.


“Hm. Di sini tamu tetap tamu.”

Penggawo Budin yang berdiri di belakang mendadak batuk kecil.

“Walaupun awalnya saya kira Wak Daud mata-mata.”

Semua orang langsung tertawa. 


Bahkan Wak Daud sendiri sampai ikut tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah malu Penggawo Budin yang mendadak pura-pura sibuk memeriksa tali perahu (***) 

×
Berita Terbaru Update