-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Idul Adha dan Jalan Pulang Menjadi Manusia

Selasa, 26 Mei 2026 | 13.59 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-26T06:59:33Z
Pandangan Redaksi Banyuasin Pos 

Hari Raya Idul Adha selalu datang membawa suasana yang berbeda. Tak hanya gema takbir yang memenuhi langit kampung dan kota, tetapi juga menghadirkan ruang renung tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan kehidupan itu sendiri. Ada sesuatu yang terasa lebih sunyi sekaligus lebih hangat pada hari-hari ini. Orang-orang pulang, keluarga berkumpul, dan halaman masjid kembali ramai oleh langkah warga yang membawa hewan kurban dengan wajah penuh harap.


Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh persaingan, ambisi, dan pertunjukan kemewahan, Idul Adha justru mengajarkan tentang keikhlasan melepaskan sesuatu yang dicintai. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita yang diulang setiap tahun, melainkan pengingat bahwa manusia sering kali terlalu erat menggenggam ego, kepentingan pribadi, bahkan keserakahan. Padahal hidup kadang meminta kita belajar merelakan demi sesuatu yang lebih besar dan lebih bermakna.


Di kampung-kampung Banyuasin, nilai itu sebenarnya sudah lama hidup dalam keseharian masyarakat. Tradisi bergotong royong saat penyembelihan kurban, pembagian daging kepada tetangga, hingga kebiasaan saling mengantar makanan, menunjukkan bahwa Idul Adha bukan hanya ibadah individual. Ada semangat kebersamaan yang tumbuh dari peristiwa itu. Orang yang berkecukupan berbagi tanpa merasa lebih tinggi, sementara yang menerima tidak dipandang rendah. Semua duduk dalam satu rasa sebagai sesama manusia.


Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya mudah, harga kebutuhan yang terus bergerak naik, dan keresahan sosial yang kadang terasa di mana-mana, Idul Adha menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari besarnya pembangunan fisik. Ketahanan sosial justru lahir dari kepedulian antarwarga. Dari tangan yang mau berbagi. Dari hati yang tidak tega melihat orang lain kekurangan.


Karena itu, makna kurban seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Yang lebih penting adalah keberanian menyembelih sifat tamak, iri hati, kebencian, dan keangkuhan yang diam-diam tumbuh dalam diri manusia. Tidak sedikit orang mampu membeli hewan kurban, tetapi masih sulit berlaku adil kepada sesama. Tidak sedikit pula yang rajin beribadah, tetapi mudah melukai orang lain lewat ucapan dan perilaku.


Idul Adha juga mengingatkan bahwa pemimpin, pejabat, tokoh masyarakat, bahkan siapa pun yang diberi amanah, sejatinya sedang diuji oleh nilai pengorbanan. Apakah kekuasaan dipakai untuk melayani atau justru memperkaya diri sendiri. Apakah jabatan menjadi jalan membantu masyarakat atau sekadar tempat mencari penghormatan. Spirit pengorbanan dalam Idul Adha mestinya hidup dalam cara memimpin dan mengambil keputusan.


Pada akhirnya, Idul Adha bukan sekadar hari raya yang datang lalu berlalu setiap tahun. Ia adalah panggilan untuk kembali menjadi manusia yang lebih lembut hatinya, lebih peduli kepada sesama, dan lebih jujur kepada diri sendiri. Sebab dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar, tetapi masih sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki empati dan keikhlasan (***) 

×
Berita Terbaru Update