-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Jakarta ke Paris: Kurikulum atau Oleh-Oleh Diplomasi?

Minggu, 31 Mei 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-31T00:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Pemimpin Redaksi Banyuasin Pos 


Ada satu hal yang menarik dari cara Presiden Prabowo Subianto memandang hubungan internasional. Bagi beliau, diplomasi tampaknya bukan hanya urusan kerja sama ekonomi, pertahanan, atau politik luar negeri, melainkan juga dapat menjalar hingga ke ruang kelas sekolah. Pada Oktober 2025, saat menerima kunjungan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Jakarta, Prabowo menyatakan bahwa Bahasa Portugis perlu menjadi salah satu bahasa prioritas dalam sistem pendidikan Indonesia. Beberapa bulan kemudian, ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis dan bertemu Presiden Emmanuel Macron di Paris, Prabowo kembali menyampaikan keinginannya agar Bahasa Prancis diajarkan di seluruh jenjang sekolah. Dari Jakarta lahir gagasan tentang Portugis, dari Paris muncul gagasan tentang Prancis. Publik pun mulai bertanya-tanya: apakah arah kebijakan bahasa di sekolah kini ikut bergerak mengikuti peta perjalanan diplomasi?


Pertanyaan itu tentu bukan lahir karena masyarakat menolak bahasa asing. Sebaliknya, di era global seperti sekarang, kemampuan berbahasa asing justru menjadi kebutuhan. Dunia semakin terhubung. Batas-batas geografis semakin tipis. Anak-anak Indonesia pada masa depan akan berhadapan dengan dunia yang jauh lebih kompetitif dibanding generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan bekal untuk berkomunikasi, belajar, bekerja, dan berkolaborasi dengan masyarakat internasional. Dalam konteks itu, mempelajari Bahasa Portugis ataupun Bahasa Prancis jelas bukan sesuatu yang keliru.


Namun pendidikan bukanlah panggung yang bisa dengan mudah diubah dekorasinya setiap kali ada tamu negara yang datang atau setiap kali kepala negara melakukan kunjungan luar negeri. Pendidikan adalah proyek jangka panjang yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Karena itu setiap perubahan kurikulum seharusnya lahir dari kebutuhan nasional yang terukur, bukan sekadar dari semangat sesaat yang muncul dalam suasana diplomatik yang hangat. Apa yang terlihat sederhana dalam pidato kenegaraan sesungguhnya memiliki konsekuensi yang panjang ketika diterjemahkan ke dalam kebijakan pendidikan.


Bahasa, bagaimanapun juga, bukan sekadar mata pelajaran tambahan yang dapat ditempel begitu saja ke dalam jadwal sekolah. Di belakang satu bahasa terdapat kebutuhan guru yang kompeten, buku ajar yang memadai, pelatihan, kurikulum, anggaran, hingga kesiapan sekolah-sekolah di berbagai daerah. Sampai hari ini masih banyak sekolah yang menghadapi persoalan mendasar. Ada yang kekurangan guru, ada yang fasilitasnya terbatas, ada pula yang masih berjuang meningkatkan kemampuan membaca dan berhitung para siswanya. Karena itu publik berhak bertanya: apakah kesiapan tersebut sudah tersedia sebelum instruksi diberikan?


Yang lebih menarik lagi adalah kenyataan bahwa bangsa ini sebenarnya sedang menghadapi persoalan bahasa yang lain. Ratusan bahasa daerah perlahan kehilangan penuturnya. Di banyak tempat, anak-anak sudah tidak lagi fasih berbicara menggunakan bahasa ibu mereka. Beberapa bahasa bahkan berada di ambang kepunahan. Ironisnya, bahasa daerah yang hidup ratusan tahun dan menjadi rumah bagi kebudayaan lokal sering kali tidak memperoleh perhatian sebesar bahasa asing yang baru diperkenalkan. Kita tampak begitu bersemangat membuka pintu bagi bahasa dari luar, tetapi sering lupa menyapu halaman rumah sendiri.


Tentu saja tidak ada yang salah dengan memperluas cakrawala bangsa melalui penguasaan berbagai bahasa dunia. Bahasa adalah jendela peradaban. Semakin banyak bahasa yang dipahami, semakin luas pula kesempatan untuk mengenal dunia. Akan tetapi sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak menjadi maju karena rakyatnya mempelajari banyak bahasa asing. Mereka maju karena memiliki pendidikan yang kuat, riset yang berkembang, ekonomi yang produktif, dan kebudayaan yang percaya diri. Bahasa asing kemudian menjadi alat untuk memperluas pengaruh dan menjalin hubungan, bukan tujuan utama yang dikejar.


Barangkali yang perlu dijaga adalah proporsi. Diplomasi memang penting. Hubungan baik dengan Brasil penting. Hubungan baik dengan Prancis juga penting. Namun yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan benar-benar lahir dari kebutuhan bangsa sendiri. Sebab sekolah bukanlah ruang resepsi kenegaraan yang tata letaknya dapat berubah mengikuti daftar tamu. Sekolah adalah tempat menyiapkan masa depan. Dan masa depan sebuah bangsa biasanya dibangun dengan perencanaan yang tenang, bukan dengan euforia yang datang bersama setiap kunjungan diplomatik (***) 

×
Berita Terbaru Update