![]() |
| Ilustrasi |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Di sebuah hutan rawa yang luas di tanah Banyuasin, hiduplah berbagai macam binatang yang telah lama berbagi tempat tinggal. Ada rusa yang gemar mencari rumput muda di tepi rawa, ada beruk yang suka membuat keributan di pucuk-pucuk pohon, dan ada pula burung kuwau yang setiap pagi memamerkan keindahan bulunya. Kehidupan di hutan itu berjalan sebagaimana biasanya, mengikuti irama alam yang tenang dan tidak tergesa-gesa. Setiap penghuni hutan memahami aturan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi tanpa perlu banyak diperdebatkan.
Sejak zaman yang bahkan tidak lagi dapat diingat oleh para penghuni hutan yang paling tua, seekor harimau sumatera menjadi penguasa seluruh kawasan itu. Harimau tersebut dikenal dengan nama Datuk Rimau, seekor harimau yang tubuhnya masih besar meskipun usianya telah lanjut. Belangnya tetap indah, suaranya masih berat, dan tatapannya membuat siapa saja menaruh hormat. Tidak ada yang berani menentang perintahnya karena selama bertahun-tahun Datuk Rimau dianggap mampu menjaga ketertiban dan keadilan bagi seluruh penghuni hutan.
Jika Datuk Rimau memutuskan suatu perkara, semua pihak menerimanya tanpa banyak bicara. Jika terjadi perselisihan, para binatang akan datang menghadapnya untuk meminta penyelesaian. Bahkan buaya-buaya tua yang terkenal keras kepala pun memilih diam ketika Datuk Rimau sedang berbicara. Pengaruhnya begitu besar sehingga banyak anak binatang tumbuh dengan keyakinan bahwa hutan dan Datuk Rimau adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Namun pada suatu siang yang panas, ketika angin dari arah sungai berembus pelan dan dedaunan hampir tidak bergerak, seekor kancil muda duduk termenung di bawah pohon tembesu yang besar. Namanya Kancil Kecik, seekor kancil yang terkenal cerdas sekaligus banyak akal. Ia sering berhasil lolos dari berbagai masalah dengan kecerdikannya sehingga perlahan-lahan mulai memandang dirinya lebih tinggi daripada kenyataannya. Hari itu ia tampak memikirkan sesuatu yang sangat serius.
Seekor kura-kura tua yang sedang berjalan mencari daun muda melihat Kancil duduk dengan wajah murung. Kura-kura itu berhenti dan memandangnya cukup lama karena biasanya Kancil tidak pernah bisa diam. Ia selalu bergerak ke sana kemari atau berbicara tentang berbagai hal yang menurutnya menarik. Melihat Kancil diam seperti itu membuat kura-kura menjadi penasaran.
"Ada apa denganmu, Kancil?" tanya kura-kura.
"Aku sedang memikirkan masa depan," jawab Kancil.
"Masa depan yang bagaimana?"
"Aku ingin menjadi raja hutan."
Kura-kura berkedip beberapa kali. Ia memandang tubuh kecil Kancil dari kepala hingga kaki, lalu dari kaki kembali ke kepala. Setelah itu ia menghela napas panjang dan melanjutkan perjalanannya tanpa berkata apa-apa lagi. Sikap diam itu justru membuat Kancil merasa tersinggung karena baginya diam kadang lebih menyakitkan daripada tertawa.
Keesokan harinya kabar tersebut menyebar ke seluruh penjuru hutan lebih cepat daripada aliran air saat musim hujan. Burung-burung membicarakannya dari dahan ke dahan, sementara monyet-monyet menjadikannya bahan lelucon sepanjang hari. Bahkan seekor biawak yang biasanya tidak peduli urusan siapa pun terlihat tersenyum ketika mendengar kabar itu. Semakin banyak yang menertawakannya, semakin kuat pula keinginan Kancil untuk membuktikan dirinya.
Beberapa hari kemudian Kancil mulai berkeliling hutan untuk mencari dukungan. Ia merasa bahwa seorang calon raja harus memiliki pengikut yang banyak. Dengan penuh percaya diri ia mendatangi berbagai kelompok binatang dan menyampaikan gagasan-gagasannya. Anehnya, semakin sering berbicara, semakin besar pula keyakinannya bahwa dirinya memang pantas menjadi raja.
"Sahabat-sahabat rusa," kata Kancil suatu hari, "kalau aku menjadi raja, rumput akan tumbuh lebih hijau dan lebih banyak."
Para rusa saling pandang.
"Lalu bagaimana caranya?" tanya seekor rusa.
"Itu urusan nanti. Yang penting percayalah dulu."
Sebagian rusa mengangguk meskipun mereka sendiri tidak memahami maksudnya. Mereka merasa lebih mudah mengangguk daripada berdebat panjang di bawah terik matahari. Lagi pula, janji yang terdengar indah sering kali lebih menyenangkan daripada kenyataan yang biasa-biasa saja. Kancil menganggap anggukan itu sebagai tanda dukungan besar.
Kepada burung-burung ia menjanjikan musim buah yang lebih panjang. Kepada beruk ia menjanjikan pohon-pohon yang lebih rendah agar mudah dipanjat. Kepada babi hutan ia menjanjikan lumpur yang lebih dingin dan lebih nyaman untuk berendam. Tidak seorang pun benar-benar memahami bagaimana semua itu bisa terjadi, tetapi banyak yang tetap bertepuk tangan karena kata-kata Kancil terdengar menarik.
Lama-kelamaan hutan mulai terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang setia kepada Datuk Rimau karena menghormati pengalamannya. Ada yang mendukung Kancil karena merasa perubahan terdengar lebih menyenangkan daripada keadaan sekarang. Namun jumlah terbesar justru berasal dari kelompok yang selalu mendukung siapa saja yang tampak akan menang. Kelompok terakhir ini terkenal paling pandai menyesuaikan diri dengan arah angin.
Jika Datuk Rimau lewat, mereka memuji kebijaksanaannya yang luar biasa. Jika Kancil lewat, mereka memuji keberanian dan kecerdasannya yang katanya belum pernah ada sebelumnya. Jika keduanya lewat bersamaan, mereka tiba-tiba menemukan urusan penting di tempat lain. Tingkah mereka sering membuat buaya tua di tepi sungai tertawa sendiri. Menurutnya, manusia bukan satu-satunya makhluk yang pandai berubah warna sesuai keadaan.
Pada suatu malam, Kancil mengadakan pertemuan besar di lapangan rawa yang luas. Obor-obor dari ranting kering dipasang di berbagai sudut sehingga suasana tampak meriah. Banyak binatang datang karena penasaran, sementara sebagian lainnya datang hanya untuk mencari hiburan malam. Kancil berdiri di atas batang kayu besar dan mulai berbicara dengan penuh semangat.
"Sahabat-sahabatku, menurut kalian apa yang kurang dariku?"
Tidak ada yang menjawab.
"Aku cerdas, bukan?"
"Betul!" teriak beberapa binatang.
"Aku cepat, bukan?"
"Betul!"
"Aku berani, bukan?"
"Betul!"
Seekor landak yang berada di belakang kerumunan perlahan mengangkat tangannya.
"Silakan bicara," kata Kancil.
"Datuk Rimau juga cerdas, cepat, dan berani."
Suasana mendadak sunyi. Banyak binatang menoleh ke arah landak seolah-olah ia baru saja menjatuhkan sarang lebah ke tengah kerumunan. Kancil tersenyum, tetapi senyum itu terlihat lebih kaku daripada biasanya. Sejak malam itu, landak tidak pernah lagi diminta hadir dalam pertemuan-pertemuan berikutnya.
Sementara itu Datuk Rimau mendengar semua kabar yang beredar. Banyak binatang datang memintanya mengambil tindakan sebelum keadaan menjadi semakin rumit. Namun harimau tua itu tetap tenang dan tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Ia lebih sering duduk di tepi sungai sambil memandangi aliran air yang terus bergerak tanpa tergesa-gesa.
Suatu malam seekor burung hantu bertanya kepadanya.
"Datuk, mengapa Datuk membiarkan semua ini terjadi?"
"Karena tidak semua pelajaran bisa diajarkan dengan nasihat," jawab Datuk Rimau.
"Lalu dengan apa?"
"Dengan pengalaman."
Tidak lama kemudian Kancil secara terbuka menantang Datuk Rimau. Ia menyatakan bahwa hutan membutuhkan pemimpin baru yang lebih muda dan lebih segar. Banyak binatang berkumpul karena mengira akan terjadi pertengkaran besar yang menarik untuk ditonton. Namun yang terjadi justru sangat berbeda dari perkiraan mereka.
"Kalau kau ingin menjadi raja, silakan buktikan kemampuanmu," kata Datuk Rimau.
"Maksud Datuk?" tanya Kancil.
"Mulai besok, selama satu bulan, kau yang mengurus seluruh urusan hutan."
Kancil langsung menyetujui tantangan itu tanpa berpikir panjang. Dalam bayangannya menjadi raja berarti duduk di tempat tinggi, menerima penghormatan, dan mengeluarkan perintah. Ia membayangkan hidupnya akan menjadi jauh lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Bahkan malam itu ia sulit tidur karena terlalu gembira.
Hari pertama berjalan sangat baik. Banyak binatang datang memberi selamat dan memuji keberaniannya. Hari kedua juga terasa menyenangkan karena belum ada masalah yang berarti. Namun memasuki hari ketiga, berbagai keluhan mulai berdatangan dari segala penjuru hutan. Saat itulah Kancil mulai menyadari bahwa kenyataan ternyata tidak semudah pidato.
Para rusa mengeluhkan berkurangnya rumput di padang rawa. Burung-burung mengeluhkan sarang mereka yang rusak akibat angin kencang. Babi hutan mengeluhkan genangan lumpur yang mulai mengering. Beruk mengeluhkan pohon buah yang tidak lagi menghasilkan buah sebanyak biasanya. Semua datang dengan harapan Kancil mampu menyelesaikan persoalan mereka.
Kancil berlari dari pagi hingga malam tanpa sempat beristirahat. Setiap masalah yang selesai justru melahirkan masalah baru yang tidak kalah rumit. Ia mulai kehilangan waktu untuk membuat pidato-pidato panjang yang dulu sangat disukainya. Bahkan untuk mencari buah kesukaannya pun ia sering tidak sempat.
Seminggu kemudian matanya mulai cekung. Dua minggu kemudian suaranya menjadi serak karena terlalu banyak berbicara dan mendengar keluhan. Tiga minggu kemudian langkahnya tidak lagi ringan seperti biasanya. Sebulan penuh terasa lebih panjang daripada setahun dalam hidupnya.
Ketika masa satu bulan berakhir, seluruh penghuni hutan kembali berkumpul di lapangan rawa. Mereka ingin mengetahui apa yang akan dikatakan Kancil setelah merasakan sendiri kehidupan seorang pemimpin. Datuk Rimau datang dengan langkah tenang seperti biasanya. Tidak ada kemarahan ataupun ejekan di wajah harimau tua itu.
"Bagaimana rasanya menjadi raja?" tanya Datuk Rimau.
Kancil terdiam cukup lama.
"Aku kira menjadi raja itu menyuruh orang lain bekerja."
Ia menarik napas panjang.
"Ternyata lebih banyak mendengar keluhan daripada memberi perintah."
Semua binatang mendengarkan dengan saksama.
"Aku kira menjadi raja itu selalu dihormati."
Kancil tersenyum pahit.
"Ternyata lebih sering disalahkan ketika sesuatu tidak berjalan baik."
Ia kembali menundukkan kepala.
"Aku kira menjadi raja itu duduk nyaman di tempat tinggi."
Kancil memandang tanah yang berlumpur di bawah kakinya.
"Ternyata seorang pemimpin harus sering turun ke tempat yang paling kotor agar tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Datuk Rimau mengangguk pelan. Tidak ada kata-kata kemenangan di wajahnya karena sejak awal ia tidak pernah menganggap Kancil sebagai musuh. Ia hanya melihat seekor anak muda yang terlalu cepat percaya pada bayangannya sendiri. Dan seperti banyak makhluk muda lainnya, Kancil membutuhkan pengalaman untuk memahami apa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Hari itu Kancil mengumumkan bahwa ia tidak lagi ingin menjadi raja hutan. Banyak binatang terkejut karena mengira ia akan terus berjuang mempertahankan ambisinya. Namun Kancil justru terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memahami sesuatu yang dulu tidak pernah ia pikirkan.
Sejak saat itu Kancil kembali menjalani hidup seperti biasa. Ia masih cerdik, masih suka membuat kehebohan kecil, dan kadang-kadang masih membuat para penghuni hutan menggelengkan kepala. Namun setiap kali mendengar ada yang terlalu bersemangat mengejar kekuasaan, ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya. Di bawah rindangnya pohon-pohon tua Banyuasin, ia akhirnya mengerti bahwa tidak semua orang yang ingin memimpin benar-benar siap memikul beban kepemimpinan, dan tidak semua yang tampak kuat sebenarnya ingin menjadi penguasa (***)
