![]() |
| Obrolan Kaum Marjinal |
Di bawah pohon beringin yang sudah lebih dulu berdiri daripada sebagian besar janji politik, Mang Midun, Jek Pakis, dan Mak Irah kembali menggelar rapat tidak resmi. Rapat ini tidak ada notulen, tidak ada absensi, dan yang paling penting, tidak ada uang perjalanan dinas. Topik hari itu adalah Koperasi Desa Merah Putih yang sedang ramai dibicarakan. Mang Midun yang sedang menyusun mie instan di rak warung bertanya, “Pakis, koperasi ini nanti bikin rakyat kaya atau bikin rakyat rapat terus?”
Jek Pakis yang baru saja mengantar penumpang ke ujung kampung langsung tertawa. “Kalau lihat pengalaman kita, Din, yang paling cepat berkembang biasanya bukan koperasinya, tapi spanduk peresmiannya.” Mak Irah yang sedang mengupas singkong ikut menyela. “Jangan sinis dulu. Siapa tahu kali ini benar-benar berhasil. Masa setiap dengar program baru, kita langsung curiga?” Namun setelah diam sebentar, ia menambahkan, “Walaupun memang biasanya yang paling duluan datang itu baliho, bukan manfaatnya.”
Mang Midun mengangguk pelan. Ia masih ingat berbagai program yang dulu datang dengan nama-nama indah. Ada yang katanya memberdayakan, ada yang katanya menggerakkan ekonomi, ada juga yang katanya mempercepat kesejahteraan. “Masalahnya,” kata Midun, “orang kampung ini sudah terlalu sering diberi janji yang dikemas seperti parcel Lebaran. Bungkusnya cantik, isinya kadang cuma kalender.” Mereka bertiga tertawa, meski tawa itu terdengar seperti orang yang sudah terlalu akrab dengan kekecewaan.
“Tapi sebenarnya koperasi itu ide bagus,” kata Jek Pakis sambil menyeruput kopi. “Kalau dikelola benar, petani bisa jual hasil panen lebih mudah, pedagang kecil bisa dapat modal, dan warga tidak perlu lagi pinjam uang ke tetangga yang bunga pinjamannya lebih galak dari rentenir.” Mak Irah langsung mengangguk setuju. Menurutnya, yang dibutuhkan desa bukan sekadar bangunan baru atau papan nama baru, melainkan pengurus yang jujur dan mau bekerja. “Kalau pengurusnya rajin rapat tapi malas kerja, koperasi bisa berubah jadi tempat minum kopi paling mahal di desa.”
Angin sore berembus pelan. Daun-daun beringin bergerak seperti sedang ikut mendengarkan. Mang Midun lalu berkata, “Kadang aku heran. Di negeri ini, yang sering kekurangan bukan program, tapi kepercayaan. Rakyat sudah terlalu sering mendengar kata ‘sejahtera’ sampai kata itu terdengar seperti iklan obat kuat.” Jek Pakis nyaris tersedak kopinya mendengar kalimat itu. Mak Irah sampai menepuk-nepuk meja sambil tertawa terbahak-bahak.
Menjelang magrib, obrolan mereka pun berakhir. Tidak ada kesimpulan resmi, apalagi rekomendasi kebijakan. Mereka hanya berharap Koperasi Desa Merah Putih tidak berakhir sebagai koleksi nama besar yang dipasang di depan gedung kosong. Sebab rakyat desa tidak butuh seremoni yang meriah. Mereka lebih senang melihat beras di dapur bertambah, dagangan laku, dan anak-anak bisa sekolah tanpa membuat orang tuanya pusing tujuh keliling. Kalau itu yang terjadi, mungkin untuk pertama kalinya pohon beringin akan mendengar tiga orang marjinal ini memuji program pemerintah tanpa perlu menyelipkan ironi di setiap kalimatnya (***)
