![]() |
| Ilustrasi |
Banyuasin Pos - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menegaskan tidak akan ada toleransi bagi pasukan AS jika berani melakukan invasi darat ke wilayah negaranya.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari Reuters, Hatami memerintahkan seluruh jajaran militer untuk meningkatkan kewaspadaan dan memantau setiap pergerakan musuh. Ia menegaskan, pihaknya siap menghadapi segala bentuk serangan.
“Tidak ada pasukan musuh yang boleh selamat jika mencoba operasi darat,” tegas Hatami, Jumat (3/4/2026).
Pernyataan keras juga datang dari Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Majid Mousavi. Ia menanggapi ancaman Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut akan membawa Iran kembali ke “Zaman Batu”.
Melalui pernyataan yang dimuat media militer Iran, Mousavi menyindir balik dengan nada tajam. Ia menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk ilusi dan kesombongan, bahkan menyinggung perbandingan sejarah panjang peradaban Iran dengan usia Amerika Serikat.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa gelombang mobilisasi nasional terus menguat. Ia menyebut sekitar 7 juta warga Iran telah menyatakan kesiapan untuk mengangkat senjata dan membela negara.
“Kalian datang ke rumah kami, maka kalian akan berhadapan dengan seluruh keluarga,” tulisnya dalam pernyataan di media sosial.
Sebelumnya, laporan media lokal Iran juga menyebut lebih dari satu juta pejuang telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan konflik darat. Mobilisasi ini mencakup pasukan militer reguler hingga relawan dari berbagai elemen masyarakat.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan AS tidak lagi sekadar perang pernyataan, melainkan telah berkembang menjadi kesiapsiagaan militer skala besar yang melibatkan partisipasi rakyat. Ketegangan yang terus meningkat pun menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik terbuka di kawasan Timur Tengah (***)
