-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pak Pandir Menjadi Hakim Lomba

Senin, 03 Agustus 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-03T02:00:00Z
Ilustrasi Pak Pandir Menjadi Hakim Lomba Ayam

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 


Sejak beberapa hari terakhir, kampung sedang ramai karena akan diadakan lomba ayam berkokok. Lomba itu bukan untuk mengadu ayam, melainkan menilai siapa yang memiliki suara paling merdu, paling panjang, dan paling tepat saat fajar menyingsing. Kerio Rahmad ingin acara berlangsung tertib agar warga bisa bergembira tanpa ribut-ribut. Ketib Badrun bahkan sudah menyiapkan doa pembuka agar perlombaan membawa keberkahan dan tidak berubah menjadi ajang saling mengejek.


Masalah muncul ketika orang yang ditunjuk menjadi hakim mendadak sakit perut setelah terlalu banyak menyantap durian semalam. Warga saling berpandangan mencari pengganti yang dianggap adil dan disegani. Entah siapa yang memulai usul itu, tiba-tiba terdengar suara dari belakang, "Pak Pandir saja!" Sebelum Kerio Rahmad sempat menolak, warga yang lain malah bertepuk tangan seolah keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat.


Pak Pandir datang dengan langkah ringan sambil membetulkan pecinya yang miring. Wajahnya berseri-seri seperti baru saja menerima hadiah besar, padahal tugasnya hanya menjadi hakim lomba ayam. Ia berdiri tegak di tengah lapangan sambil mengelus kumis tipisnya yang nyaris tidak terlihat. Penggawo Juhri yang melihat dari kejauhan langsung memijat dahinya karena firasat buruknya mulai datang tanpa diundang.


"Pandir, kau tahu tugas hakim?" tanya Kerio Rahmad.

"Tahu."

"Apa tugasnya?"

"Memberi keputusan."

"Bagus."

"Kalau ayamnya bandel, boleh saya hukum berdiri di pojok?"

Kerio Rahmad langsung menarik napas panjang.


Perlombaan pun dimulai. Seekor ayam jantan milik seorang warga dilepas lebih dahulu. Ayam itu berdiri gagah, mengepakkan sayap, lalu berkokok nyaring sampai burung-burung di pohon ikut beterbangan. Warga bertepuk tangan karena suaranya memang merdu dan panjang. Namun Pak Pandir hanya mengangguk pelan sambil menulis sesuatu di atas daun pisang yang dipakainya sebagai buku nilai.


Penggawo Juhri mendekat dengan rasa penasaran. Ia melihat Pak Pandir memberi angka "dua" besar di samping nama ayam pertama. Juhri bingung karena ayam itu jelas tampil sangat baik. Ketika ditanya alasannya, Pak Pandir menjelaskan dengan wajah serius bahwa ayam itu terlalu cepat selesai berkokok. Menurutnya, kalau ayam ingin menang, seharusnya berkokok sampai matahari benar-benar naik agar penonton merasa puas.


Giliran ayam kedua tampil. Ayam itu justru diam saja sambil mematuk pasir dan sesekali menggaruk tanah. Warga mulai bersiul karena menganggap ayam itu gugup. Anehnya, Pak Pandir malah tersenyum lebar dan memberi nilai sepuluh. Semua orang melongo melihat keputusan yang terasa terbalik itu.


"Pandir, mengapa ayam yang diam malah dapat nilai paling tinggi?" tanya Kerio Rahmad.

"Karena dia hemat suara."

"Hemat suara?"

"Iya. Penyanyi hebat itu tahu kapan harus diam."

Penggawo Juhri hampir menjatuhkan buku catatannya.


Ketib Badrun mencoba menenangkan keadaan agar warga tidak ribut. Dengan suara lembut ia meminta Pak Pandir memakai aturan yang sudah disepakati sejak awal. Pak Pandir mengangguk berkali-kali seolah benar-benar memahami nasihat itu. Namun beberapa saat kemudian ia malah mengangkat kedua tangannya dan meminta semua ayam berdiri berjajar menghadap ke arahnya.


"Untuk apa ayam-ayam itu disuruh berbaris?" tanya Ketib Badrun.

"Saya mau lihat akhlaknya."

"Akhlak ayam?"

"Iya. Mana tahu ada yang suka memotong antrean."

Ketib Badrun menutup wajahnya sambil menghela napas panjang.


Lomba semakin kacau ketika seekor ayam tiba-tiba mengejar kupu-kupu. Tanpa berpikir panjang, Pak Pandir ikut berlari di belakang ayam itu sambil berteriak bahwa peserta tidak boleh meninggalkan arena sebelum pengumuman selesai. Warga yang melihat tingkahnya langsung tertawa terbahak-bahak. Penggawo Juhri ikut mengejar Pak Pandir, sementara Kerio Rahmad mengejar Penggawo Juhri, sehingga dari kejauhan mereka tampak seperti rombongan orang sedang berlomba lari tanpa garis akhir.


Setelah ayam itu berhasil ditangkap, Pak Pandir memeluknya erat-erat sambil mengusap kepalanya penuh kasih sayang. Ia berkata bahwa ayam tersebut pantas mendapat penghargaan khusus karena memiliki semangat menjelajah yang tinggi. Kerio Rahmad hampir tersedak mendengar alasan itu. Warga yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tidak mampu lagi berdiri tegak karena perut mereka terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa.


"Pandir, kau ini sedang menjadi hakim atau pelatih ayam?" tanya Kerio Rahmad.

"Sebentar jadi hakim, sebentar jadi penyemangat."

"Mengapa begitu?"

"Kasihan ayamnya. Dari tadi dinilai terus, tidak ada yang memuji."

Kerio Rahmad hanya menggeleng pelan.


Saat tiba waktu mengumumkan pemenang, semua warga berkumpul dengan penuh harap. Pak Pandir berdiri di atas bangku kayu sambil membawa selembar daun pisang yang penuh coretan. Ia membersihkan tenggorokannya berkali-kali seolah hendak membacakan keputusan yang sangat penting. Suasana menjadi hening sampai suara jangkrik pun terdengar jelas.


"Dengan mempertimbangkan suara, sikap, semangat, kesabaran, dan wajah para peserta," kata Pak Pandir lantang, "maka pemenangnya adalah..."


Semua orang menunggu dengan napas tertahan.

"...semua ayam!"

Warga saling berpandangan kebingungan.

"Kenapa semua ayam menang?" tanya Penggawo Juhri.

Pak Pandir tersenyum lebar.


"Kalau ada yang kalah, nanti ayamnya sedih. Kalau ayam sedih, besok pagi siapa yang mau membangunkan kita?"


Lapangan langsung meledak oleh gelak tawa. Bahkan Kerio Rahmad yang sejak pagi berusaha menjaga wibawanya akhirnya ikut tertawa sampai tongkatnya hampir terjatuh. Ketib Badrun mengusap janggutnya sambil tersenyum dan berkata bahwa mungkin baru kali itu ada lomba yang seluruh pesertanya menjadi juara. Sejak hari itu, setiap kali warga mengenang lomba ayam tersebut, mereka tidak lagi mengingat ayam yang paling merdu, melainkan hakimnya yang berhasil membuat satu kampung tertawa sepanjang hari (***) 

×
Berita Terbaru Update