-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kuau Raja dan Kancil yang Mencari Ujung Dunia

Senin, 06 Juli 2026 | 11.06 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-06T04:06:30Z
Kuau Raja dan Kancil yang Mencari Ujung Dunia

Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 


Pagi itu kabut masih bergelantungan di atas rawa-rawa Tanah Banyuasin. Air sungai memantulkan warna langit yang pucat, sementara pohon-pohon nibung berdiri diam seperti sedang mendengarkan bisik angin. Di sebuah tunggul kayu yang setengah lapuk, Kuau Raja sedang membersihkan bulu-bulunya sambil bersiul riang. Belum selesai ia merapikan sayapnya, seekor Kancil datang dengan dada membusung dan wajah penuh percaya diri.


"Aku baru saja menemukan jalan menuju ujung dunia," kata Kancil tanpa diminta. "Kalau kau cukup berani, ikutlah denganku."


Kuau Raja memiringkan kepalanya. "Ujung dunia itu seperti apa?"


"Di sana tanah habis. Setelah itu kosong. Siapa yang melangkah sekali lagi pasti jatuh selamanya."


Kuau Raja menahan tawa. "Kalau begitu, bagaimana kau bisa pulang?"


Kancil berkedip beberapa kali. "Ya... aku berhenti tepat di tepinya."


Percakapan mereka didengar beberapa ekor Belibis yang sedang mencari siput di pinggir rawa. Seperti biasanya, burung-burung itu langsung menyebarkan kabar ke mana-mana. Tidak lama kemudian, Monyet Ekor Panjang bergelantungan di dahan sambil berteriak, "Ada yang mau melihat ujung dunia! Cepat, cepat!"


Tak sampai setengah jam, penghuni hutan mulai berdatangan. Burung Punai bertengger berderet di ranting. Rusa Sambar berdiri tenang di bawah pohon meranti sambil memperhatikan. Bahkan Buaya Muara ikut menyembulkan mata dari permukaan sungai karena takut kalau-kalau ujung dunia itu ternyata berada di wilayah kekuasaannya.


Kancil lalu memimpin rombongan menyusuri tepian sungai. Ia berjalan paling depan dengan langkah lebar seolah-olah benar-benar tahu arah. Padahal setiap kali tiba di persimpangan, diam-diam ia melihat ke kiri dan ke kanan sambil berharap tidak ada yang menyadari bahwa ia sebenarnya sedang menebak-nebak jalan.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah tebing tanah yang menghadap Sungai Banyuasin. Air sungai tampak sangat luas hingga menyatu dengan langit di kejauhan. Kancil segera meloncat ke atas batu besar.


"Itulah ujung dunia!" serunya bangga. "Lihat! Langit bertemu air. Tanah sudah habis."


Semua hewan memandang ke kejauhan. Memang dari tempat itu, air dan langit seperti bersambung menjadi satu garis tipis.


Kuau Raja mengangguk-angguk pelan. "Kalau begitu, mari kita buktikan." 


"Wah, tidak perlu dibuktikan," jawab Kancil cepat.


"Kenapa?"


"Nanti... nanti dunia bisa marah."


Kuau Raja tersenyum kecil. Ia lalu memungut sepotong batang nibung yang ringan dan cukup panjang. Dengan tenaga sekuat sayapnya, batang itu dilempar jauh ke arah garis langit.


Semua mata mengikuti batang kayu yang melayang, lalu jatuh dengan suara plung!


"Kalau benar itu ujung dunia," kata Kuau Raja santai, "batang itu pasti jatuh ke tempat kosong. Tapi tadi terdengar suara air."


Monyet Ekor Panjang langsung tertawa sampai berguling di dahan.


Kancil buru-buru menjawab, "Mungkin... mungkin ujung dunianya sedang bergeser."


Kuau Raja mengangguk lagi seolah membenarkan. "Masuk akal. Kalau begitu, mari kita kejar."


Kancil kembali berjalan. Anehnya, semakin jauh mereka berjalan menyusuri sungai, garis tempat langit bertemu air tetap berada jauh di depan.


Kuau Raja pura-pura terkejut. "Aneh sekali. Ujung dunia takut kepadamu. Dia terus lari."


Belibis mulai berbisik-bisik. Burung Punai saling berpandangan. Bahkan Buaya Muara sampai terkekeh pelan hingga air sungai bergelombang.


Karena mulai gugup, Kancil berkata, "Kalau begitu kita percepat langkah!"


"Jangan," sahut Kuau Raja. "Aku punya cara yang lebih cepat."


Ia menunjuk bayangan Kancil yang memanjang di tanah. 


"Coba kau suruh bayanganmu berlari lebih dulu. Kalau bayanganmu sampai di ujung dunia, kita tinggal menyusul."


Monyet Ekor Panjang langsung bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak. Belibis ikut ribut memberi semangat, "Ayo, suruh bayanganmu! Suruh bayanganmu!"


Kancil mulai kebingungan. Ia melompat ke kiri, bayangannya ikut ke kiri. Ia melompat ke kanan, bayangannya tetap mengikutinya. Ia berlari sekencang-kencangnya, bayangan itu tidak pernah mau meninggalkannya.


Kuau Raja pura-pura menggeleng sedih.


"Kasihan sekali. Rupanya bayanganmu pun tidak percaya ada ujung dunia."


Suara tawa meledak di sepanjang tepian sungai. Monyet Ekor Panjang hampir jatuh dari dahan. Belibis mengepak-ngepakkan sayap sambil mengulang ucapan Kuau Raja. Bahkan Buaya Muara sampai menyelam karena tidak kuat menahan tawanya.


Wajah Kancil memerah. Ia batuk kecil, mengusap hidungnya, lalu berkata pelan, "Sebenarnya... aku hanya ingin tahu siapa yang mudah percaya."


Kuau Raja mengangguk bijak sambil tersenyum usil.


"Aku juga begitu. Bedanya, aku ingin tahu siapa yang paling pandai bercerita."


Belum sempat Kancil membalas, Kuau Raja sudah mengepakkan sayapnya, melompat ke batang pohon yang tumbang, lalu berlari kecil memasuki rimbunnya hutan sambil bersiul riang. Dari balik semak, suaranya masih terdengar menggoda.


"Kalau nanti kau benar-benar menemukan ujung dunia, jangan lupa ikat dengan rotan. Biar besok tidak lari lagi!" (***) 

×
Berita Terbaru Update