-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Sekali Gigit Langsung Lumer! Rahasia Kue Bangkit yang Bikin Orang Melayu Selalu Rindu Kampung Halaman

Kamis, 18 Juni 2026 | 11.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-18T04:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Ada banyak kue tradisional yang menghiasi meja saat hari raya, kenduri, maupun acara keluarga. Namun, di antara beragam sajian itu, Kue Bangkit memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat Melayu. Bukan hanya karena rasanya yang manis dan gurih, tetapi juga karena setiap gigitannya seolah membawa pulang kenangan masa kecil yang sulit dilupakan.


Kue bangkit merupakan kue kering tradisional khas Melayu yang telah lama dikenal di berbagai daerah, terutama di Riau, Palembang, Sumatera Utara, hingga Malaysia. Nama "bangkit" sendiri berasal dari proses pembuatannya. Saat dipanggang, ukuran kue ini akan mengembang atau "bangkit" hingga hampir dua kali lipat dari ukuran semula. Dari situlah nama unik tersebut lahir dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.


Bagi masyarakat Melayu, kue bangkit bukan sekadar makanan ringan. Kehadirannya sering menjadi simbol kebersamaan dalam keluarga. Menjelang hari raya, dapur rumah biasanya dipenuhi aroma santan, pandan, dan tepung sagu yang sedang disangrai. Para ibu, nenek, hingga anak-anak ikut terlibat dalam proses pembuatannya. Momen itulah yang menjadikan kue bangkit memiliki nilai emosional yang begitu kuat.


Keistimewaan kue bangkit terletak pada teksturnya yang sangat khas. Bagian luarnya terasa renyah, tetapi sesaat setelah masuk ke mulut, kue ini langsung hancur dan meleleh di lidah. Sensasi tersebut sulit ditemukan pada jenis kue kering lainnya. Tidak heran jika banyak orang mengaku sulit berhenti setelah mencicipi satu keping.


Bahan-bahan yang digunakan sebenarnya cukup sederhana. Tepung sagu atau tepung tapioka menjadi bahan utama yang dipadukan dengan santan kental, gula, dan kuning telur. Namun, ada satu tahapan penting yang menentukan cita rasa kue bangkit, yakni proses menyangrai tepung bersama daun pandan. Tahapan ini menghasilkan aroma harum yang menjadi ciri khas kue bangkit sejak dahulu.


Secara tradisional, warna kue bangkit cenderung putih bersih atau sedikit kekuningan. Namun, perkembangan zaman membuat kue ini hadir dalam berbagai variasi rasa yang semakin menarik tanpa menghilangkan karakter aslinya.


Varian paling klasik adalah Kue Bangkit Santan Kampung. Rasanya sederhana tetapi sangat kaya cita rasa berkat perpaduan santan segar dan wangi pandan. Inilah jenis yang paling sering ditemui dalam tradisi masyarakat Melayu.


Kemudian hadir Kue Bangkit Susu yang menawarkan rasa lebih modern. Tambahan susu bubuk atau susu kental manis membuat teksturnya semakin lembut dengan cita rasa gurih manis yang disukai berbagai kalangan.


Bagi pecinta rempah, Kue Bangkit Jahe menjadi pilihan menarik. Aroma dan rasa jahe memberikan sensasi hangat yang khas, sehingga sering disajikan pada perayaan tertentu, termasuk saat perayaan Imlek.


Ada pula Kue Bangkit Gula Merah atau Aren yang memiliki warna kecokelatan alami. Perpaduan gula aren menghasilkan aroma karamel yang harum serta rasa manis legit yang lebih dalam dibandingkan varian lainnya.


Sementara itu, generasi muda banyak menyukai Kue Bangkit Keju. Perpaduan manis tradisional dengan gurihnya keju menciptakan rasa yang unik dan lebih akrab dengan lidah anak-anak maupun remaja.


Di tengah gempuran berbagai camilan modern, keberadaan kue bangkit tetap bertahan. Bahkan, banyak perantau Melayu yang sengaja membawa kue ini ke kota-kota besar sebagai pengobat rindu kampung halaman. Sebab bagi mereka, aroma pandan yang keluar dari sekeping kue bangkit bukan sekadar aroma makanan, melainkan aroma rumah, keluarga, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.


Kue bangkit membuktikan bahwa warisan kuliner tradisional tidak pernah kehilangan pesonanya. Semakin lama dikenal, semakin banyak pula orang yang jatuh cinta pada kelembutan rasa dan cerita budaya yang tersimpan di balik setiap keping nya (***) 

×
Berita Terbaru Update