-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kuau Raja Bermimpi Bertemu Raja Sulaiman

Jumat, 26 Juni 2026 | 10.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-26T03:00:00Z
Kuau Raja Bermimpi Bertemu Raja Sulaiman 


Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan 

Hujan semalam membuat hutan rawa di Tanah Banyuasin terasa sejuk. Daun-daun masih dipenuhi embun, sementara kabut tipis melayang di atas sungai yang mengalir tenang. Setelah puas memakan buah bedaro yang masak di pinggir rawa, Kuau Raja berteduh di bawah pohon besar. Angin yang sepoi-sepoi membuat kelopak matanya semakin berat hingga akhirnya ia tertidur pulas.


Dalam tidurnya, Kuau Raja merasa sedang terbang sangat tinggi. Ia melintasi sungai-sungai yang berkelok, hutan yang hijau, dan pegunungan yang belum pernah dilihatnya. Tak lama kemudian ia mendarat di sebuah taman yang dipenuhi berbagai jenis burung dari seluruh penjuru dunia. Di tengah taman itu berdiri seorang raja yang wajahnya teduh dan dikelilingi bermacam-macam hewan.


Kuau Raja segera mengenali sosok itu.

"Itu pasti Raja Sulaiman," bisiknya pelan.


Belum sempat ia melangkah mendekat, seekor merak besar membentangkan ekornya hingga jalan tertutup rapat.


"Mau ke mana?" tanya merak itu.

"Aku ingin bertemu Raja Sulaiman."

"Sudah membuat janji?"

Kuau Raja menggeleng.

"Kalau begitu, antre dulu."


Kuau Raja menoleh ke belakang. Antreannya sangat panjang. Ada burung hudhud, merpati, pipit, bangau, bahkan seekor ayam jantan yang terus berkokok meskipun matahari belum terlihat.


Kuau Raja menghela napas.

"Kalau begini, bisa-bisa aku keburu bangun."


Ketika sedang berpikir, ia melihat seekor semut kecil membawa remah makanan yang jauh lebih besar daripada tubuhnya. Kuau Raja segera membantu mengangkat remah itu sampai ke mulut sarang. Semut kecil itu mengangguk senang lalu kembali bekerja bersama teman-temannya.


Saat itulah terdengar suara yang lembut namun jelas.


"Kuau Raja... kemarilah."

Kuau Raja menoleh ke segala arah.

Suara itu terdengar lagi.

"Kuau Raja... jangan malu-malu."


Ia terkejut. Raja Sulaiman sendiri yang sedang melambaikan tangan kepadanya.


Kuau Raja buru-buru berlari kecil mendekat lalu membungkukkan badan dengan hormat.


"Paduka mengenal nama saya?"

Raja Sulaiman tersenyum. 


"Aku mengenal banyak makhluk. Bukankah namamu memang Kuau Raja?"


Kuau Raja tersenyum lebar sampai matanya hampir tertutup.


"Wah... saya kira Paduka hanya mengenal Hudhud."


Beberapa burung di sekitar taman langsung tertawa kecil.


Raja Sulaiman kemudian mengajak Kuau Raja berjalan menyusuri taman. Mereka melewati kolam yang dipenuhi ikan, kebun buah yang rimbun, dan pepohonan tempat burung-burung bernyanyi silih berganti. Karena terlalu asyik melihat ke kanan dan ke kiri, Kuau Raja hampir saja menabrak seekor unta yang sedang duduk santai.


"Hati-hati, Kuau Raja," kata Raja Sulaiman sambil tersenyum.

Kuau Raja tertawa kecil.

"Saya memang sering lupa melihat jalan kalau sedang penasaran."


Setelah beberapa saat berjalan, Raja Sulaiman berhenti di bawah sebuah pohon yang rindang.


"Kuau Raja," katanya pelan, "menurutmu, burung apa yang paling hebat?"


Kuau Raja mengusap dagunya.

"Mungkin elang, karena terbangnya tinggi."

"Atau merak, karena bulunya indah."

"Atau Hudhud, karena menjadi sahabat Paduka."

Raja Sulaiman kembali tersenyum.

"Masih kurang tepat."

"Lalu siapa?"


"Burung yang paling hebat adalah burung yang selalu membuat hutan tempat tinggalnya menjadi lebih baik."


Kuau Raja mengangguk, tetapi wajahnya masih tampak berpikir keras.


"Tidak harus paling kuat?"

"Tidak."

"Tidak harus paling cantik?"

"Tidak."

"Tidak harus paling terkenal?"

"Tidak."

Kuau Raja tersenyum geli.

"Kalau begitu saya masih punya harapan."


Raja Sulaiman ikut tertawa mendengar jawaban itu.


Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.

"Kuau... Kuau Raja... bangun!"

Suara itu semakin lama semakin keras.


"Kuau Raja! Cepat bangun! Buah bedaro yang masak sudah banyak yang jatuh!"


Kuau Raja membuka matanya dengan kaget. Ternyata Serindit sedang bertengger di atas dahannya sambil menggoyang-goyangkan ranting tempat ia tidur.


"Kau mimpi apa?" tanya Serindit.

Kuau Raja masih terlihat linglung.

"Aku baru bertemu Raja Sulaiman."

"Wah, hebat sekali."

"Iya."

"Beliau bilang apa?"

Kuau Raja tersenyum sambil mengepakkan sayapnya.

"Yang paling membuatku senang... beliau memanggil namaku."


Serindit mengangguk kagum.

"Lalu setelah itu?"

Kuau Raja menghela napas.

"Setelah itu kau datang membangunkanku."

Serindit langsung tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu cepatlah makan buah bedaro."

"Kenapa?" 


"Supaya nanti siang kau tidur lagi. Siapa tahu Raja Sulaiman memanggilmu sekali lagi."


Kuau Raja ikut tertawa. Keduanya kemudian terbang menuju pohon bedaro yang sedang berbuah lebat, sementara angin pagi kembali berembus pelan di hutan rawa Banyuasin (***) 

×
Berita Terbaru Update