![]() |
| Infografis Banyuasin Pos |
Bagi anak-anak Melayu Banyuasin yang tumbuh pada era 1990-an atau lebih awal, terutama di wilayah Kecamatan Banyuasin III, bermain di kebun karet tua, semak belukar, dan tepian hutan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Sepulang sekolah atau saat libur, anak-anak kampung sering menghabiskan waktu menjelajahi kebun dan lahan yang masih alami. Di tengah petualangan sederhana itu, ada satu buah liar yang sangat dikenal dan sering menjadi incaran mereka. Buah tersebut adalah gelindingan.
Gelindingan tumbuh liar di tempat-tempat yang lembap dan teduh. Tanaman ini banyak ditemukan di bawah naungan pepohonan atau di sela-sela kebun karet yang sudah tua. Di Banyuasin, masyarakat mengenalnya dengan nama gelindingan, sedangkan di berbagai daerah lain buah ini lebih dikenal dengan nama marasi atau marashi. Dalam dunia botani, tanaman tersebut bernama Curculigo latifolia, sejenis tanaman herba tahunan yang berasal dari Indonesia, Semenanjung Malaya, hingga kawasan Indo-China.
Tanaman gelindingan memiliki tinggi sekitar 30 hingga 50 sentimeter. Ia berkembang biak melalui rhizoma atau rimpang yang menjalar di dalam tanah. Daunnya memanjang dengan tekstur berlipat-lipat seperti alur yang terbuka. Bentuk daunnya sering membuat orang yang belum mengenalnya mengira tanaman ini sebagai anakan kelapa sawit. Namun bagi anak-anak Banyuasin tempo dulu, rumpun daun itulah yang menjadi petunjuk keberadaan buah manis yang tersembunyi di bawahnya.
![]() |
| Buah gelindingan atau marasi matang |
Keunikan gelindingan tidak hanya terletak pada buahnya, tetapi juga pada cara buah itu tumbuh. Buah-buahnya muncul dari bagian bawah tanaman dan menempel sangat dekat dengan permukaan tanah. Tak jarang dompolannya tertutup lapisan daun kering dan humus sehingga harus dicari dengan cara menyingkap serasah di sekitar pangkal rumpun.
Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih bening dengan semburat kuning yang muncul dari tangkai terpisah dari batang utamanya. Dari bunga itulah kemudian berkembang buah berukuran kecil, sekitar satu sentimeter. Saat matang, buah berwarna putih keunguan dengan daging berwarna putih bersih. Di dalamnya terdapat banyak biji kecil berwarna hitam yang membuat tampilannya sekilas mirip buah naga dalam ukuran mini.
Bagi anak-anak kampung, menemukan gelindingan selalu menjadi kegembiraan tersendiri. Selain rasanya yang manis, buah ini memiliki keistimewaan yang membuatnya berbeda dari buah liar lainnya. Gelindingan dikenal sebagai buah pengubah rasa atau miracle fruit alami.
Setelah memakan gelindingan, berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi sesudahnya akan terasa berbeda. Air putih yang biasanya tawar dapat terasa manis seperti air sirup. Teh pahit pun berubah menjadi lebih manis di lidah. Bahkan buah-buahan yang terkenal sangat asam seperti lemon, jeruk, mangga muda, atau buah pala dapat terasa manis dan lebih nikmat.
Keajaiban tersebut berasal dari kandungan protein alami yang disebut curculin. Protein ini bekerja pada reseptor pengecap di lidah sehingga mampu mengubah persepsi rasa untuk sementara waktu. Efeknya dapat bertahan sekitar 30 menit sebelum perlahan menghilang seiring aktivitas air liur yang membersihkan permukaan lidah.
Dulu, anak-anak Banyuasin sering menjadikan kemampuan unik gelindingan sebagai permainan. Setelah menemukan dan memakannya bersama-sama, mereka akan mencoba minum air putih atau mencicipi buah-buahan asam untuk merasakan perubahan rasa yang terjadi. Rasa takjub dan tawa yang muncul saat air putih terasa seperti sirup menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang sulit dilupakan.
Selain dikenal karena keunikannya, marasi atau gelindingan juga telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Berdasarkan berbagai sumber, bagian akar tanaman ini dipercaya dapat digunakan untuk membantu mengatasi sakit kepala, gangguan ginjal, sakit perut akibat masuk angin atau kedinginan, serta meningkatkan stamina tubuh. Sementara itu, buahnya sering disebut berpotensi menjadi pemanis alami bagi penderita diabetes karena mampu menghadirkan sensasi manis tanpa tambahan gula.
Dalam pengobatan tradisional, buah gelindingan juga digunakan untuk membantu meredakan demam, batuk, bengkak, malaria, serta melancarkan buang air kecil. Biji-bijinya yang kecil berwarna hitam bahkan kadang dicampurkan ke dalam minuman sebagai penyegar tubuh. Meskipun demikian, berbagai manfaat tersebut masih memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut untuk memastikan tingkat keamanan dan khasiatnya.
Kini, tanaman gelindingan semakin sulit ditemukan di Banyuasin. Berkurangnya kawasan hutan kecil, semak alami, dan kebun-kebun tua menyebabkan habitat tanaman ini ikut menyusut. Akibatnya, buah yang dahulu begitu akrab dengan kehidupan anak-anak kampung perlahan mulai terlupakan.
Padahal, gelindingan bukan sekadar buah liar. Ia merupakan bagian dari kekayaan hayati lokal yang menyimpan nilai budaya, pengetahuan tradisional, dan kenangan kolektif masyarakat Banyuasin. Di balik ukurannya yang kecil, tersimpan cerita tentang masa ketika anak-anak masih sangat dekat dengan alam dan mampu menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang tumbuh di sekitar mereka (***)

