-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Dianggap Gulma, Kini Dijual Mahal: Kisah Seletup Semak yang Pernah Menemani Masa Kecil

Jumat, 12 Juni 2026 | 07.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-12T00:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Bagi anak-anak kampung pada masa lalu, seletup semak bukanlah tanaman asing. Ia tumbuh begitu saja di pematang sawah, tanah kosong, kebun yang jarang dibersihkan, hingga tepi selokan. Tidak ada yang menanamnya secara khusus. Namun justru karena tumbuh liar itulah tanaman ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan.


Dalam tradisi Melayu, tanaman yang dikenal luas sebagai ciplukan ini disebut seletup semak. Nama tersebut diberikan untuk membedakannya dari seletup rambat atau rambusa yang tumbuh menjalar pada semak dan pagar. Jika rambusa merambat, maka seletup semak tumbuh tegak sebagai perdu kecil dengan tinggi sekitar lutut hingga pinggang orang dewasa.


Anak-anak zaman dulu mengenal seletup semak bukan karena khasiatnya, melainkan karena kesenangannya. Buah yang masih terbungkus kelopak menggembung sering dipetik untuk dijadikan mainan. Bungkus tipis yang menyerupai lampion kecil itu dipukulkan ke dahi atau punggung tangan hingga pecah dan mengeluarkan bunyi "plop". Dari bunyi sederhana itulah muncul sebutan seletup.


Bentuk buahnya memang unik. Saat masih muda, buah dan bungkusnya berwarna hijau. Kelopak yang membungkus buah mengembang seperti lentera kecil dan menggantung di antara daun-daun. Ketika matang, bungkus tersebut berubah menjadi cokelat kekuningan dan mengering, sementara buah di dalamnya berubah menjadi kuning keemasan.


Bagi anak-anak kampung, menemukan seletup semak yang sudah matang adalah keberuntungan tersendiri. Buahnya dapat langsung dimakan setelah dibuka dari bungkusnya. Rasanya manis, segar, sedikit asam, dan memiliki sensasi yang mengingatkan pada tomat mini. Karena ukurannya kecil, buah ini biasanya habis dalam sekali suap.


Dahulu keberadaan seletup semak sering dianggap tidak penting. Para petani bahkan kerap mencabutnya karena dianggap gulma yang tumbuh di antara tanaman budidaya. Tidak banyak yang menyangka bahwa tanaman liar tersebut suatu hari akan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.


Kini seletup semak justru mulai dibudidayakan di berbagai daerah. Di pasar modern dan supermarket, buah ini sering dipasarkan dengan nama goldenberry atau morel berry. Harganya pun tidak murah. Buah yang dahulu tumbuh bebas di pematang sawah kini bisa dijual puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kilogram.


Perubahan pandangan masyarakat terhadap seletup semak tidak lepas dari berbagai penelitian yang mengungkap kandungan gizinya. Buah mungil ini diketahui mengandung vitamin C, vitamin A, zat besi, flavonoid, polifenol, serta berbagai senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.


Dalam pengobatan tradisional, hampir seluruh bagian tanaman dimanfaatkan. Daun, batang, akar, hingga buahnya telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan herbal. Banyak orang percaya tanaman ini dapat membantu menjaga kadar gula darah, meredakan peradangan, membantu menurunkan tekanan darah, serta digunakan sebagai obat pendamping untuk demam dan batuk.


Meski demikian, masyarakat terdahulu juga memahami satu aturan penting yang diwariskan secara turun-temurun. Buah seletup semak tidak boleh dimakan ketika masih hijau. Hanya buah yang telah matang sempurna dan berwarna kuning yang aman untuk dikonsumsi. Buah yang masih mentah dapat menimbulkan gangguan pencernaan dan rasa tidak nyaman pada perut.


Di tengah maraknya makanan modern dan buah impor, seletup semak menyimpan cerita yang berbeda. Ia bukan sekadar tanaman liar atau buah herbal. Ia adalah bagian dari kenangan masa kecil banyak orang yang tumbuh di desa. Kenangan tentang bermain di sawah sepulang sekolah, mencari buah liar bersama teman-teman, lalu memecahkan lampion kecil itu di tangan sambil tertawa riang.


Hari ini seletup semak mungkin hadir di rak supermarket dengan kemasan menarik dan harga yang cukup tinggi. Namun bagi mereka yang pernah tumbuh di kampung, nilainya jauh lebih besar dari sekadar harga jual. Ia adalah pengingat bahwa kebahagiaan masa kecil sering kali datang dari hal-hal sederhana yang tumbuh liar di sekitar kita (***) 

×
Berita Terbaru Update