-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Jadi Sajian Wajib Gotong Royong, Kini Mulai Langka: Mengenal Juedeh Gule Kelape, Kue Tradisional Khas Melayu Banyuasin

Jumat, 12 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-12T01:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Di tengah gempuran aneka kue modern dan jajanan instan, masih ada satu warisan kuliner Orang Melayu Banyuasin yang menyimpan cerita panjang tentang kebersamaan dan kehidupan kampung, yaitu Juedeh Gule Kelape atau yang lebih dikenal sebagai Kue Gule Kelape.


Bagi masyarakat tua di Banyuasin, nama kue ini tentu tidak asing. Dahulu, Juedeh Gule Kelape hampir selalu hadir saat kegiatan sambetan atau gotong royong memasak untuk acara pernikahan, sedekahan, syukuran, maupun hajatan keluarga. Kue ini bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari tradisi yang mempertemukan banyak orang dalam suasana kerja bersama. 


Proses membuat juedeh gule kelape 

Kue Gule Kelape dibuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di kampung, yaitu kelapa, gula merah, tepung beras, gula pasir, dan air. Kesederhanaan bahan tersebut justru menunjukkan kecerdasan kuliner masyarakat Melayu Banyuasin tempo dulu yang mampu menciptakan sajian bercita rasa khas dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.


Proses pembuatannya memerlukan kesabaran. Tepung beras terlebih dahulu digoreng hingga berubah warna menjadi kecokelatan. Setelah itu kelapa juga digoreng sampai mengeluarkan aroma harum yang khas. Pada tahap berikutnya, gula merah, gula pasir, dan air dimasak hingga larut dan mengental sebelum dicampurkan secara perlahan dengan tepung yang telah disiapkan.


Adonan kemudian terus diaduk di atas api agar tidak gosong. Setelah tercampur rata, kelapa yang telah digoreng dimasukkan sedikit demi sedikit hingga membentuk adonan padat berwarna cokelat tua. Pada tahap inilah aroma manis gula berpadu dengan wangi kelapa sangrai yang menggugah selera.


Sepiring juedeh gule kelape 

Salah satu ciri khas Juedeh Gule Kelape adalah proses pencetakannya. Adonan yang masih panas ditekan kuat-kuat ke dalam cetakan agar padat dan tidak mudah pecah. Setelah dingin, kue dipotong membentuk segitiga-segitiga kecil yang menjadi ciri khas tampilannya hingga sekarang.


Tekstur kue ini cukup unik. Tidak selembut bolu dan tidak serenyah kerupuk. Saat digigit, terasa padat namun tetap mudah hancur di mulut. Rasa manis gula merah mendominasi, disertai sensasi gurih dari kelapa yang membuat siapa saja ingin mencicipinya lagi.


Di beberapa kampung tua Banyuasin, pembuatan Juedeh Gule Kelape masih dilakukan secara bersama-sama. Para ibu biasanya berkumpul sambil mengaduk adonan dalam jumlah besar, lalu membungkus atau mencetaknya secara bergotong royong. Suasana seperti inilah yang membuat kue tradisional tersebut memiliki nilai budaya yang jauh lebih besar daripada sekadar makanan.


Menurut kebiasaan masyarakat Melayu Banyuasin, kue ini paling nikmat disantap bersama teh campah, yaitu teh tawar hangat yang menjadi teman setia berbagai kue tradisional kampung. Perpaduan rasa manis kue dengan kesegaran teh tawar menciptakan keseimbangan rasa yang sederhana tetapi berkesan.


Kini keberadaan Juedeh Gule Kelape mulai jarang ditemukan. Tidak banyak generasi muda yang masih mengetahui cara membuatnya. Padahal di balik setiap potongannya tersimpan cerita tentang gotong royong, kebersamaan, dan kearifan kuliner Orang Melayu Banyuasin yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Karena itulah, Juedeh Gule Kelape bukan hanya layak dikenang sebagai makanan tradisional, tetapi juga patut dijaga sebagai bagian dari identitas budaya Banyuasin yang memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu mampu merawat kebersamaan melalui sebuah hidangan sederhana (***) 

×
Berita Terbaru Update