-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman Pengen Rambai

Selasa, 02 Juni 2026 | 16.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-02T09:00:00Z
Depati Leman Pengen Rambai 

Musim rambai memang selalu punya tempat tersendiri di hati orang-orang kampung. Buah kecil berwarna kuning keemasan itu tidak hanya enak dimakan, tetapi juga sering menjadi alasan orang dewasa kembali berperilaku seperti anak-anak. Begitu musim rambai tiba, orang-orang mulai bertanya ke sana kemari tentang pohon yang sedang berbuah lebat. Bahkan ada yang rela mendayung perahu berjam-jam hanya demi membawa pulang satu bakul rambai.


Suatu pagi, ketika sedang minum kopi di pelantaran batang nibung dekat balai marga, Depati Leman mendengar dua orang warga bercerita tentang sebuah pohon rambai tua di pinggir rawa. Menurut cerita mereka, pohon itu sedang berbuah sangat lebat sampai dahan-dahannya melengkung ke bawah. Buahnya bergelantungan seperti lampu-lampu kecil berwarna emas. Mendengar cerita itu, mata Depati Leman langsung berbinar.


“Rambai?” tanya Depati Leman.

“Iya, Depati Leman.”

“Manis?”

“Manis nian.”


Sejak saat itu, pikiran Depati Leman tidak lagi tenang. Ke mana-mana yang terbayang hanya rambai. Saat menghadiri musyawarah kampung, ia membayangkan rambai. Saat memeriksa jalan titian, ia membayangkan rambai. Bahkan ketika makan siang, ia merasa lauk yang ada di depannya kurang lengkap karena tidak ditemani rambai.


Penggawo Budin yang melihat perubahan itu mulai khawatir. Menurutnya, belum pernah ada orang yang memikirkan rambai seserius itu. Bahkan waktu harga ikan naik pun Depati Leman tidak pernah semurung sekarang. Semakin lama, wajah depati itu semakin terlihat seperti orang yang sedang menunggu surat penting dari kota.


“Depati Leman sakit?” tanya Penggawo Budin.

“Tidak.”

“Lalu kenapa melamun terus?”

“Aku lagi memikirkan rambai.”

Penggawo Budin langsung mengangguk pelan.

“Oh... sudah parah rupanya.”


Sore harinya Depati Leman mengumpulkan Hulubalang Karim, Penggawo Budin, dan Ketib Nurdin di balai marga. Wajahnya terlihat serius seperti hendak membahas urusan besar. Bahkan beberapa warga yang melihat dari luar mengira akan ada rapat penting mengenai keamanan kampung atau hasil panen. Tidak sedikit yang ikut mendekat karena penasaran.


“Ada tugas untuk kita,” kata Depati Leman.

Hulubalang Karim langsung duduk tegak.

“Perintah apa, Depati Leman?”

“Kita cari rambai.”

Suasana langsung sunyi.


Ketib Nurdin memejamkan mata perlahan.


Sedangkan Penggawo Budin terlihat bingung antara ingin tertawa atau ikut serius.


Keesokan paginya mereka berangkat menyusuri sungai kecil menuju rawa tempat pohon rambai itu berada. Wak Senah yang mendengar kabar tersebut bahkan ikut menitip pesan agar dibawakan rambai kalau memang dapat. Menurut Wak Senah, rambai yang dimakan sambil minum kopi sore jauh lebih nikmat daripada mendengar gosip tetangga. Pesan itu membuat Depati Leman semakin bersemangat.


Perjalanan dimulai dengan penuh keyakinan. Air sungai sedang pasang dan cuaca cukup cerah. Burung-burung kecil beterbangan dari semak-semak nipah ketika perahu mereka lewat. Di kanan kiri sungai tumbuh berbagai pohon hutan yang menjulang tinggi.


Tiba-tiba Penggawo Budin berdiri di ujung perahu sambil menunjuk ke arah daratan. Wajahnya tampak sangat yakin seperti baru menemukan lokasi harta karun yang hilang puluhan tahun. Bahkan ia sampai hampir menjatuhkan dayung karena terlalu bersemangat. Semua orang langsung menoleh ke arah yang ditunjuknya.


“Nah, itu dia!” serunya.


Dari kejauhan tampak sebuah pohon duku hutan berdiri cukup besar di tepi rawa. Daunnya rimbun dan batangnya kokoh. Namun pohon itu sama sekali tidak berbuah karena memang bukan musimnya. Beberapa rantingnya bahkan terlihat kosong tanpa setangkai buah pun.


“Budin,” kata Hulubalang Karim pelan.

“Iya?”

“Itu pohon duku hutan.”

“Ya, lalu?”

“Duku hutan tidak sedang berbuah.”


Penggawo Budin menyipitkan mata lalu memperhatikan lebih lama. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari kesalahannya. Wajahnya langsung berubah seperti orang yang salah naik perahu ke kampung orang.


“Kirain rambai,” gumamnya.

Ketib Nurdin langsung tertawa kecil.


“Kalau pohonnya saja tidak ada buah, kau sudah tahu itu rambai dari mana?”


Beberapa orang ikut tertawa. Sedangkan Penggawo Budin buru-buru duduk kembali sambil pura-pura memperhatikan awan.


Perjalanan kemudian dilanjutkan lebih jauh masuk ke kawasan rawa. Tidak lama kemudian mereka menemukan pohon rambai yang sebenarnya. Pohon itu memang luar biasa besar. Dahan-dahannya penuh dengan buah rambai yang bergelantungan rapat seperti untaian manik-manik emas. Bahkan dari bawah sudah terlihat beberapa buah matang yang menguning sempurna.


“Masya Allah...” gumam Depati Leman.


Untuk beberapa saat, semua orang hanya memandangi pohon itu. Pohon rambai tersebut tumbuh tepat di tepi rawa yang cukup dalam. Batangnya tinggi dan licin karena lumut. Tidak ada seorang pun yang langsung berani memanjat.


“Karim,” kata Depati Leman.

“Iya, Depati Leman.”

“Kau hulubalang.”

“Iya.”

“Panjatlah.”


Hulubalang Karim langsung menghela napas panjang.


Dengan susah payah ia mulai memanjat pohon rambai. Beberapa kali kakinya hampir terpeleset karena batang pohon yang licin. Penggawo Budin berdiri di bawah sambil memberi petunjuk yang tidak diminta. Semakin banyak ia bicara, semakin bingung pula Hulubalang Karim.


“Kiri sedikit!”

“Bukan kiri itu!”

“Yang atas!”

“Yang atas yang mana?”

“Ya atas!”


Hulubalang Karim hampir saja melempar dompolan rambai ke kepala Penggawo Budin.


Akhirnya beberapa tangkai rambai berhasil dijatuhkan. Depati Leman langsung mengambil satu dompolan dan mulai mengupas buahnya. Wajahnya tampak bahagia seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah. Ketib Nurdin juga ikut mencicipi beberapa butir sambil tersenyum tipis. Bahkan Penggawo Budin mulai memasukkan rambai ke dalam kantong kainnya tanpa banyak bicara.


Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dari arah semak-semak bawah pohon tiba-tiba muncul beberapa ekor monyet. Rupanya sejak tadi mereka juga sedang mengincar rambai yang sama. Begitu melihat manusia menikmati buah-buah itu, para monyet mulai ribut dan melompat dari dahan ke dahan.


“Eh...” kata Penggawo Budin.

“Kenapa mereka lihat kita begitu?” tanya Depati Leman.

“Karena itu rambai mereka mungkin.”


Belum sempat siapa pun menjawab, seekor monyet besar melempar kulit rambai yang tepat mengenai songkok batik Depati Leman.


PLAK!

Semua orang terdiam.


Depati Leman mengangkat kulit rambai yang menempel di songkoknya.

Seekor monyet lain langsung ikut melempar.

PLUK!

Kali ini mengenai bahu Penggawo Budin.


Maka terjadilah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun. Sekelompok manusia dewasa yang dipimpin seorang depati tiba-tiba sibuk menghindari lemparan kulit rambai dari pasukan monyet penghuni rawa. Hulubalang Karim yang masih berada di atas pohon buru-buru turun secepat mungkin. Ketib Nurdin bahkan sampai tertawa melihat kekacauan itu.


Akhirnya rombongan memutuskan mundur sambil membawa rambai secukupnya. Mereka naik ke perahu dan menjauh dari pohon tersebut. Dari kejauhan, beberapa monyet masih terlihat duduk di dahan sambil menikmati rambai yang tersisa. Entah kenapa, wajah mereka tampak seperti sedang menang dalam suatu pertandingan.


Dalam perjalanan pulang, Depati Leman duduk diam sambil memegang satu dompolan rambai. Ia memakan buah itu perlahan sambil memandang sungai yang berkilau terkena cahaya sore. Setelah beberapa saat, Hulubalang Karim akhirnya bertanya.


“Masih ingin rambai lagi, Depati Leman?”

Depati Leman mengangguk.

“Tentu.”

“Besok kita ke sana lagi?”

Depati Leman berpikir sebentar.

Lalu menggeleng.

“Biarlah monyet-monyet itu menikmati bagiannya juga."


Ketib Nurdin tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Sedangkan Penggawo Budin yang sejak tadi sibuk mengupas rambai langsung menyela.


“Kalau begitu minggu depan kita cari durian.”


Semua orang langsung tertawa. Bahkan perahu yang mereka tumpangi terasa lebih ringan sepanjang perjalanan pulang menyusuri sungai rawa Banyuasin yang tenang menjelang senja (***) 

×
Berita Terbaru Update