![]() |
| Depati Leman dan Syekh Abdul Sattar |
Oleh: M. Irwan P. Ratu Bangsawan
Suatu pagi yang cerah, kampung di tepi sungai di Tanah Banyuasin mendadak ramai oleh kabar kedatangan seorang ulama besar bernama Syekh Abdul Sattar. Beliau adalah seorang tokoh agama keturunan Arab yang sangat dihormati di berbagai kampung sepanjang aliran sungai. Nama Syekh Abdul Sattar sudah lama dikenal karena keluasan ilmunya dan kerendahan hatinya. Bahkan ada warga yang mengaku pernah mendengar ceramah beliau dari kampung yang jaraknya dua hari perjalanan perahu.
Kabar itu pertama kali dibawa oleh Wak Senah. Sebagaimana biasanya, berita yang keluar dari mulut Wak Senah selalu bertambah besar sebelum sampai ke telinga orang lain. Ketika tiba di warung kopi, Syekh Abdul Sattar disebut sebagai ulama besar. Ketika sampai di pelantaran sungai, beliau sudah berubah menjadi ulama yang konon hafal seluruh kitab yang pernah ditulis manusia.
"Wak Senah, jangan berlebihan."
"Saya tidak berlebihan."
"Lalu kenapa katanya Syekh Abdul Sattar bisa membaca kitab dalam gelap?"
"Itu yang saya dengar."
Dalam waktu singkat, cerita tentang Syekh Abdul Sattar berkembang ke mana-mana. Ada yang mengatakan beliau mampu menghafal seribu hadis dalam sehari. Ada pula yang mengaku bahwa Syekh Abdul Sattar bisa mengetahui isi kitab hanya dengan memegang sampulnya. Semakin jauh kabar itu berjalan, semakin sulit membedakan mana fakta dan mana tambahan dari Wak Senah.
Tidak lama kemudian Penggawo Midun berlari menuju balai kampung dengan napas terengah-engah. Wajahnya tampak serius seperti baru saja melihat buaya masuk pasar. Padahal ia hanya berlari dari warung kopi ke balai kampung. Hulubalang Karim yang sedang mengelap tombaknya langsung berdiri karena mengira ada keadaan darurat.
"Depati Leman! Syekh Abdul Sattar akan datang!"
"Saya sudah tahu."
"Beliau membawa tujuh peti kitab!"
"Dari mana kau tahu?"
"Wak Senah bilang begitu."
Ketib Nurdin yang sedang duduk di sudut balai langsung mengusap wajahnya perlahan. Ia sudah terlalu sering melihat kabar berubah bentuk sebelum sampai ke tujuan. Namun kali ini ia memilih diam karena merasa percuma meluruskan cerita yang sudah terlanjur beranak-pinak. Lagi pula, tidak ada yang bisa mengalahkan kecepatan gosip Wak Senah.
Mendengar kabar kedatangan ulama besar, Depati Leman mulai sibuk mempersiapkan penyambutan. Sebagai seorang pasirah, ia ingin terlihat sebagai pemimpin yang berwawasan luas dan memiliki pengetahuan agama yang mendalam. Ia bahkan membuka kembali beberapa buku lama yang sudah lama tidak disentuh. Sayangnya, semakin banyak ia membaca, semakin banyak pula istilah yang membuatnya bingung.
"Aku harus terlihat berilmu di depan Syekh Abdul Sattar."
"Itu tidak salah," kata Ketib Nurdin.
"Aku ingin beliau kagum."
Ketib Nurdin langsung merasa khawatir.
Keesokan harinya sebuah perahu sederhana merapat di pelantaran batang nibung. Dari atas perahu turun seorang lelaki tua berwajah teduh dengan janggut putih yang rapi. Bersamanya hanya ada seorang murid muda dan beberapa bungkusan kitab yang tidak lebih banyak daripada bekal perjalanan biasa. Melihat itu, Penggawo Midun tampak sedikit kecewa karena peti-peti kitab yang ia ceritakan ternyata tidak ada.
Warga kampung menyambut Syekh Abdul Sattar dengan penuh hormat. Anak-anak berdiri berjajar di tepi pelantaran. Para orang tua menyambut dengan senyum hangat. Bahkan Wak Senah yang biasanya paling banyak bicara mendadak menjadi pendiam selama beberapa menit.
Acara penyambutan pun dimulai. Depati Leman berdiri paling depan dengan pakaian kebesarannya lengkap. Hulubalang Karim berdiri tegak di sampingnya sambil berusaha terlihat garang. Padahal dalam hati ia takut kalau tiba-tiba diminta berpidato di depan banyak orang.
"Selamat datang, Syekh Abdul Sattar."
"Terima kasih, Depati."
"Kami sangat berbahagia menerima kedatangan ulama besar yang terkenal sampai ke tujuh sungai dan sembilan rawa."
Syekh Abdul Sattar tersenyum ramah.
Merasa pidatonya berjalan lancar, Depati Leman mulai semakin percaya diri. Ia menambahkan berbagai kalimat yang menurutnya terdengar sangat berilmu. Beberapa warga mulai mengangguk walaupun sebenarnya tidak mengerti. Sementara Ketib Nurdin mulai menundukkan kepala karena merasa sesuatu yang memalukan akan segera terjadi.
"Sebagaimana kata pepatah Arab..."
Depati Leman berhenti.
Semua orang menunggu.
"Lupa saya."
Suasana langsung sunyi.
Beberapa anak kecil mulai tertawa pelan. Hulubalang Karim buru-buru batuk agar tawanya tidak terdengar. Penggawo Midun memalingkan wajah ke arah sungai. Sedangkan Wak Senah terlihat sangat menikmati kejadian tersebut.
Untunglah Syekh Abdul Sattar tertawa lebih dulu. Tawa beliau ringan dan hangat sehingga suasana yang semula canggung langsung mencair. Bahkan Depati Leman akhirnya ikut tertawa walaupun wajahnya sudah merah seperti cabai matang. Ketib Nurdin pun menghela napas lega.
Malam harinya diadakan pengajian di surau kampung. Warga datang berbondong-bondong hingga halaman surau penuh sesak. Syekh Abdul Sattar menyampaikan nasihat dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Tidak ada istilah yang rumit, tidak ada kata-kata yang dibuat tinggi, dan tidak ada usaha untuk menunjukkan siapa yang paling pintar.
Sepulang dari pengajian, Depati Leman terlihat lebih banyak diam daripada biasanya. Ia duduk di pelantaran batang nibung sambil memandangi sungai yang berkilau diterpa cahaya bulan. Hulubalang Karim, Penggawo Midun, dan Ketib Nurdin ikut duduk di dekatnya. Mereka mengira Depati Leman sedang memikirkan urusan pemerintahan yang berat.
"Kenapa diam saja, Depati?"
"Saya kalah."
"Kalah apa?"
"Saya berusaha terlihat pintar. Syekh Abdul Sattar tidak berusaha terlihat pintar, tetapi semua orang tahu beliau pintar."
Ketib Nurdin tersenyum kecil.
"Itulah bedanya ilmu dengan keinginan dipuji."
Penggawo Midun langsung mengangguk-angguk. Walaupun sebenarnya ia belum sepenuhnya memahami maksud kalimat tersebut. Namun ia merasa kalimat itu terdengar penting sehingga layak diangguki.
Keesokan paginya Syekh Abdul Sattar melanjutkan perjalanan ke kampung lain. Seluruh warga mengantar beliau sampai ke pelantaran. Depati Leman berdiri paling depan sambil melambaikan tangan. Kali ini ia tidak berusaha menunjukkan bahwa dirinya paling tahu atau paling pandai.
Setelah perahu Syekh Abdul Sattar menghilang di tikungan sungai, Wak Senah kembali membuka mulutnya. Warga yang mendengar langsung tahu bahwa gosip baru sedang lahir. Penggawo Midun bahkan sudah bersiap membawa kabar itu ke kampung sebelah sebelum sore tiba.
"Menurut saya," kata Wak Senah.
"Apa lagi sekarang?" tanya Hulubalang Karim.
"Syekh Abdul Sattar sebenarnya tahu pepatah Arab yang lupa diucapkan Depati Leman."
Semua orang langsung tertawa.
Bahkan Depati Leman ikut tertawa paling keras. Bagaimanapun juga, di kampung itu tidak ada yang lebih cepat menyebar daripada kabar dari Wak Senah. Dan tidak ada yang lebih sering dipermalukan oleh nasib dengan cara lucu selain Depati Leman sendiri (***)
