-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Orang Begubelan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 08.31 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-06T01:31:00Z
Ilustrasi Depati Leman dan Orang Begubelan 

Pada suatu musim ketika air sungai sedang surut dan jalan-jalan titian mulai ramai dilalui orang, kampung itu mendadak heboh oleh kabar begubelan atau belerian. Di kalangan Orang Melayu Banyuasin, begubelan bukanlah hal yang asing. Tradisi itu sudah dikenal sejak lama sebagai jalan terakhir bagi sepasang bujang dan gadis yang tidak mendapat restu atau mengalami jalan buntu dalam urusan pernikahan. Walaupun begitu, setiap kali terjadi perkara begubelan, kampung tetap saja ramai seperti ada pesta yang datang tanpa undangan.


Kabar kali ini melibatkan seorang bujang bernama Jalal dan seorang gadis bernama Siti. Keduanya sudah lama saling menyukai, tetapi keluarga Siti belum menyetujui hubungan mereka. Menurut cerita yang beredar di warung kopi, ayah Siti menganggap Jalal terlalu miskin dan belum memiliki pekerjaan tetap. Sementara menurut cerita lain, masalah sebenarnya bukan soal miskin, melainkan karena Jalal terlalu sering memancing sehingga dianggap lebih dekat dengan ikan daripada masa depannya sendiri.


Seperti biasa, cerita yang beredar berkembang lebih cepat daripada kenyataan. Pagi hari orang mendengar satu versi. Siang hari muncul tiga versi baru. Menjelang sore, bahkan sudah ada yang yakin bahwa Jalal dan Siti kabur menggunakan perahu besar sambil membawa peti harta karun, padahal kenyataannya mereka hanya berjalan kaki menuju rumah Ketib Nurdin.


Malam sebelum kabar itu menyebar luas, Jalal dan Siti sebenarnya sudah lebih dahulu datang ke rumah Ketib Nurdin. Sebagai ketib kampung, Ketib Nurdin memang sering menjadi tempat masyarakat meminta nasihat dalam urusan agama dan keluarga. Ketika pintu rumah diketuk menjelang tengah malam, Ketib Nurdin sempat mengira ada warga yang sakit atau membutuhkan pertolongan mendadak. Namun begitu melihat Jalal dan Siti berdiri di depan rumah dengan wajah tegang, ia langsung memahami apa yang sedang terjadi.


“Apa kalian sudah memikirkan baik-baik keputusan ini?” tanya Ketib Nurdin.

“Sudah, Ketib,” jawab Jalal.

“Dan kalian datang dengan kemauan sendiri?”

“Iya,” jawab Siti pelan.


Ketib Nurdin lalu mempersilakan keduanya masuk. Ia tidak memarahi mereka, tetapi juga tidak langsung membenarkan tindakan tersebut. Sebagai orang yang dituakan, ia tahu bahwa tugasnya adalah mengamankan keadaan terlebih dahulu sebelum persoalan menjadi lebih besar. Karena itulah Jalal dan Siti sementara tinggal di rumahnya sambil menunggu penyelesaian adat.


Keesokan paginya Penggawo Budin datang tergopoh-gopoh ke balai marga dengan napas terengah-engah. Wajahnya terlihat sangat serius seperti baru menemukan rahasia besar kerajaan. Bahkan sebelum duduk, ia sudah mulai bicara. Orang-orang yang melihatnya dari jauh langsung tahu bahwa ada kabar baru yang akan membuat kampung ramai.


“Depati Leman! Ada orang begubelan!”

Depati Leman yang sedang minum kopi hampir tersedak.

“Siapa?”

“Jalal dan Siti.”

“Sudah pasti?”

“Seratus persen.”

“Dari mana kau tahu?”

“Satu kampung sudah tahu.”


Ketib Nurdin yang kebetulan baru datang ke balai marga langsung tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Baginya, ukuran kebenaran berdasarkan jumlah orang yang bergosip adalah ilmu baru yang hanya dimiliki Penggawo Budin. Hulubalang Karim sendiri sibuk mengelus dagunya sambil mencoba menahan tawa. Namun Depati Leman mulai serius karena perkara seperti ini memang termasuk urusan adat yang harus diselesaikan dengan baik.


Sore itu Depati Leman bersama Hulubalang Karim dan Penggawo Budin mendatangi rumah Ketib Nurdin. Di sanalah ternyata Jalal dan Siti diamankan sementara waktu. Keduanya duduk berdampingan dengan wajah tegang seperti murid yang sedang menunggu hasil ujian. Walaupun begitu, dari cara mereka saling melirik, terlihat jelas bahwa mereka tidak menyesal sedikit pun atas keputusan yang sudah diambil.


“Benar kalian yang begubelan?” tanya Depati Leman.

“Benar, Depati Leman,” jawab Jalal.

“Sudah dipikirkan matang-matang?”

“Sudah.”

“Tidak menyesal?”

Jalal dan Siti saling pandang.

“Tidak.”


Penggawo Budin yang berdiri di belakang langsung mengangguk-angguk. Entah kenapa ia tampak lebih yakin daripada kedua orang yang ditanya. Bahkan beberapa kali ia terlihat hendak ikut menjawab sebelum ditatap Ketib Nurdin.


Sesuai adat yang berlaku, pasangan itu tetap tinggal sementara di rumah Ketib Nurdin sambil menunggu musyawarah. Mereka tidak langsung dibawa menemui keluarga perempuan karena dikhawatirkan suasana masih panas. Tugas Ketib Nurdin adalah menjaga mereka sekaligus memastikan tidak ada tindakan yang memperkeruh keadaan. Sementara itu, Depati Leman mulai mempersiapkan pertemuan adat untuk menyelesaikan perkara tersebut secara baik-baik.


Keesokan harinya balai marga dipenuhi orang. Keluarga Jalal datang. Keluarga Siti datang. Para tetua kampung datang. Bahkan ada beberapa warga yang sebenarnya tidak ada urusan, tetapi tetap hadir karena menganggap musyawarah adat jauh lebih menarik daripada mendengarkan radio.


Ayah Siti duduk dengan wajah masam sejak awal. Sementara ibu Siti terus mengipas-ngipas wajahnya walaupun udara pagi tidak terlalu panas. Di sisi lain, keluarga Jalal tampak canggung seperti orang yang datang terlambat ke pesta orang lain. Suasana sempat tegang sebelum Depati Leman membuka musyawarah.


Depati Leman menjelaskan bahwa perkara ini harus diselesaikan secara adat, agama, dan kekeluargaan. Semua pihak harus diberi kesempatan berbicara. Tidak boleh ada yang merasa menang sendiri dan tidak boleh ada yang merasa dipermalukan. Menurutnya, tujuan adat adalah menjaga kehormatan semua pihak, bukan mencari pihak yang kalah.


Setelah semua pihak menyampaikan pendapat, para pemuka adat mulai membahas penyelesaian. Sesuai kebiasaan yang berlaku, pihak laki-laki harus memenuhi kewajiban adat karena telah melangkahi tahapan madik dan meminang. Ada denda adat yang harus dibayar sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga perempuan. Selain itu, keluarga laki-laki juga wajib datang secara resmi untuk meminta maaf dan menyelesaikan seluruh urusan dengan baik.


Ayah Siti yang sejak tadi diam akhirnya mulai melunak. Ia sebenarnya bukan tidak menyukai Jalal. Ia hanya kecewa karena tidak diajak bicara sejak awal. Menurutnya, kalau memang niatnya baik, pintu rumah tidak pernah tertutup bagi orang yang datang dengan sopan.


Jalal lalu berdiri dan meminta maaf di depan semua orang. Suaranya sempat bergetar karena gugup. Namun kata-katanya terdengar tulus. Siti yang duduk di sampingnya bahkan sampai menundukkan kepala karena terharu. Suasana yang tadinya tegang perlahan mulai mencair.


Saat itulah Penggawo Budin kembali mengangkat tangan.

“Kali ini boleh bicara?”

Depati Leman menghela napas panjang.

“Bicaralah.”

Penggawo Budin berdiri dengan penuh percaya diri.


“Menurut saya, kalau dua orang sudah saling suka, lebih baik cepat diselesaikan. Kalau terlalu lama, nanti yang belum tentu menikah malah lebih banyak rapat daripada yang sudah menikah.”


Balai marga langsung sunyi beberapa detik. Lalu terdengar tawa kecil dari berbagai sudut ruangan. Bahkan ayah Siti yang sejak pagi memasang wajah keras akhirnya ikut tersenyum. Ketib Nurdin menggeleng pelan sambil menahan tawa.


Musyawarah akhirnya mencapai kesepakatan. Denda adat ditetapkan secara wajar. Keluarga laki-laki menerima keputusan dengan lapang dada. Keluarga perempuan pun bersedia memberikan restu setelah semua kewajiban dipenuhi. Beberapa hari kemudian akad nikah dilaksanakan dengan sederhana tetapi penuh kebahagiaan.


Ketika pesta berlangsung, hampir seluruh kampung datang menghadiri. Anak-anak berlarian di halaman. Para ibu sibuk di dapur. Para bapak duduk di pelantaran batang nibung sambil minum kopi dan membicarakan berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan pengantin.


Depati Leman duduk bersama Hulubalang Karim, Penggawo Budin, dan Ketib Nurdin sambil menikmati suasana. Ia merasa lega karena persoalan yang sempat menghebohkan kampung itu akhirnya selesai dengan damai. Menurutnya, adat bukan dibuat untuk memperpanjang pertengkaran, melainkan untuk menemukan jalan tengah yang menjaga kehormatan semua pihak


“Jadi begubelan itu baik atau tidak, Depati Leman?” tanya Penggawo Budin.

Depati Leman tersenyum tipis.

“Kalau bisa baik-baik, tentu lebih baik baik-baik.”

“Kalau sudah terlanjur begubelan?”

“Ya diselesaikan baik-baik juga.”

Hulubalang Karim langsung tertawa.

“Berarti ujung-ujungnya tetap baik-baik.”

“Memang begitu seharusnya.”


Sementara itu di kejauhan, Jalal dan Siti terlihat tersenyum bahagia menerima ucapan selamat dari para tamu. Dan seperti biasa, sebelum pesta selesai, sudah ada beberapa warga yang mulai menyebarkan cerita versi mereka sendiri tentang bagaimana semua itu terjadi. Di kampung itu, rupanya kabar selalu tumbuh lebih cepat daripada pohon rambai (***) 

×
Berita Terbaru Update