-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Depati Leman dan Lintah Darat

Kamis, 18 Juni 2026 | 09.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-18T02:00:00Z
Depati Leman dan Lintah Darat 


Pagi itu suasana kampung mendadak gempar. Wak Senah berlari dari rumah ke rumah sambil membawa kabar yang membuat orang-orang meninggalkan sarapan mereka. Menurut Wak Senah, ada seekor lintah raksasa yang berkeliaran di kampung dan sudah mengisap darah banyak warga. Kabar itu menyebar lebih cepat daripada asap dapur yang tertiup angin pagi.


“Lintahnya sebesar biawak!” kata Wak Senah.

“Benarkah?” tanya seorang warga.

“Kalau tidak sebesar biawak, paling kecil sebesar kambing!”


Dalam waktu satu jam, ukuran lintah itu sudah berubah menjadi sebesar kerbau menurut versi beberapa warga.


Ketika kabar itu sampai ke balai marga, Penggawo Midun datang sambil terengah-engah. Wajahnya terlihat panik seolah baru saja dikejar harimau. Padahal ia hanya berlari dari warung kopi ke balai marga. Hulubalang Karim yang sedang membersihkan tombaknya langsung berdiri dengan wajah tegang.


“Bahaya, Depati Leman!”

“Apa lagi sekarang?”

“Ada lintah raksasa!”

“Sebesar apa?”

“Menurut Wak Senah sebesar rumah panggung.”

Hulubalang Karim langsung memegang gagang tombaknya lebih erat.


Depati Leman mengelus kumisnya dengan penuh wibawa. Sebagai pasirah, ia merasa wajib menunjukkan keberanian di depan masyarakat. Apalagi ada banyak orang yang sedang memperhatikannya. Dalam hati sebenarnya ia juga penasaran bagaimana bentuk lintah sebesar rumah panggung itu.


“Tenang,” kata Depati Leman. “Selama aku masih menjadi pasirah, tidak ada lintah yang berani mengganggu kampung ini.”

Warga langsung bertepuk tangan.


Ketib Jalal yang duduk di sudut balai hanya menghela napas panjang. Ia sudah mengenal Depati Leman cukup lama. Biasanya semakin panjang pidato Depati Leman, semakin besar pula kemungkinan akan terjadi sesuatu yang memalukan.


Menjelang siang, rombongan pencari lintah pun berangkat. Depati Leman berjalan paling depan sambil membawa tongkat kebesarannya. Hulubalang Karim berjalan di belakang dengan tombak panjang, meskipun sesekali ia menoleh ke kiri dan kanan dengan cemas. Penggawo Midun sibuk menunjuk ke segala arah sambil memberi informasi yang tidak jelas sumbernya.


“Lintahnya terakhir terlihat di sana!”

“Siapa yang melihat?”

“Katanya orang.”

“Orang siapa?”

“Orang yang mendengar dari orang lain.”

Ketib Jalal kembali menghela napas.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di rumah Mang Rusdi. Di depan rumah itu tampak banyak warga keluar masuk sambil membawa wajah murung. Ada yang membawa hasil kebun. Ada yang membawa ikan. Ada pula yang membawa ayam. Melihat pemandangan itu, Depati Leman mulai curiga.


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Depati Leman.

“Bayar utang,” jawab seorang warga.

“Utang apa?”

“Utang kepada Mang Rusdi.”


Ternyata Mang Rusdi memang terkenal suka meminjamkan uang kepada warga. Namun jumlah yang harus dikembalikan sering kali membuat orang terkejut. Uang yang dipinjam sedikit bisa berubah menjadi berkali-kali lipat dalam beberapa bulan. Banyak warga mengeluh, tetapi tetap datang karena tidak punya pilihan lain.


Penggawo Midun langsung berbisik.

“Depati Leman, jangan-jangan lintahnya bukan hewan.”

“Maksudmu?”

“Lintahnya manusia.”

Ketib Jalal langsung menutup wajahnya agar tidak terlihat tertawa.


Mendengar berbagai keluhan warga, Depati Leman merasa harus bertindak. Sebagai pasirah, ia tidak ingin terlihat kalah oleh seorang pemberi pinjaman uang. Apalagi sejak pagi ia sudah berpidato panjang tentang keberaniannya menghadapi lintah raksasa. Kalau sekarang pulang begitu saja, ia pasti akan menjadi bahan tertawaan warga selama berbulan-bulan.


Mang Rusdi kemudian dipanggil ke balai marga. Dengan santai ia datang membawa buku catatan utangnya yang tebal. Buku itu begitu tebal sampai Hulubalang Karim mengira itu kitab kuno peninggalan nenek moyang. Bahkan ketika diletakkan di meja, debunya beterbangan ke mana-mana.


“Ini semua catatan utang?” tanya Depati Leman.

“Iya.”

“Kenapa tebal sekali?”

“Karena warga rajin meminjam.”

Penggawo Midun langsung menunjuk buku itu.

“Itu bukan buku.”

“Lalu?”

“Itu sarang lintah.”

Warga yang hadir langsung tertawa.


Depati Leman lalu membuka halaman demi halaman. Semakin lama wajahnya semakin berubah. Ada warga yang meminjam lima ringgit tetapi harus mengembalikan tiga puluh ringgit. Ada yang meminjam sepuluh ringgit lalu ditagih enam puluh ringgit. Bahkan ada seorang warga yang mengaku lebih cepat menanam padi dari awal sampai panen daripada melunasi utangnya.


Melihat itu, Depati Leman berdiri dengan gagah.

“Hari ini kita akan mengadili lintah darat!”

Warga bersorak.

Namun tepat saat itu seekor lintah rawa yang menempel di kaki Hulubalang Karim jatuh ke lantai.

“Ada lintah!”

teriak Hulubalang Karim.


Dalam sekejap Hulubalang Karim melompat ke atas bangku. Tombaknya jatuh. Kopiahnya terlempar. Bahkan ia hampir memeluk Ketib Jalal karena ketakutan.


Balai marga langsung meledak oleh tawa.

“Karim,” kata Depati Leman.

“Iya?”

“Itu lintah biasa.”

“Syukurlah.”

“Tapi yang kita hadapi sekarang lintah yang lebih besar.”

Hulubalang Karim turun perlahan sambil pura-pura berwibawa.


Akhirnya setelah musyawarah panjang, disepakati bahwa Mang Rusdi harus menghitung ulang seluruh utang warga. Tambahan yang terlalu besar harus dikurangi. Semua perhitungan dilakukan secara terbuka agar tidak ada yang merasa dirugikan. Mang Rusdi sempat mencoba berdebat, tetapi jumlah warga yang hadir terlalu banyak untuk dilawan.


Sore harinya, Depati Leman duduk di pelantaran bersama Hulubalang Karim, Penggawo Midun, dan Ketib Jalal. Matahari mulai turun dan warna jingga memantul di permukaan sungai. Suasana kampung kembali tenang setelah kegemparan sejak pagi.


“Jadi lintah raksasa itu tidak ada?” tanya Hulubalang Karim.

“Tidak ada,” jawab Ketib Jalal.

“Lalu siapa yang pertama menyebarkan kabar?”

Semua orang menoleh ke arah Wak Senah yang sedang berjalan di kejauhan.

Wak Senah langsung tersenyum.

“Besok ada kabar baru lagi!”


Depati Leman memejamkan mata. Hulubalang Karim mendadak terlihat takut lagi. Ketib Jalal menghela napas panjang. Sementara Penggawo Midun sudah bersiap mendengarkan kabar itu untuk kemudian membesarkannya dua kali lipat.


Kampung pun kembali dipenuhi tawa, karena kadang-kadang yang lebih berbahaya daripada lintah darat adalah gosip yang tidak pernah kehabisan makan (***) 

×
Berita Terbaru Update