-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Buah Favorit Anak Melayu Banyuasin Ini Ternyata Bukan Sekadar Mainan, Khasiat Senduduk Kini Dibuktikan Ilmuwan

Rabu, 10 Juni 2026 | 08.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-10T01:00:00Z
Infografis Banyuasin Pos 

Bagi generasi tua Orang Melayu (OMB), senduduk merupakan salah satu tanaman yang akrab dengan kehidupan masa kecil. Tumbuhan perdu liar ini banyak tumbuh di kebun, semak belukar, tepi hutan, bekas ladang, hingga lahan yang baru dibuka. Ketika bermain di kebun atau mengikuti orang tua ke ladang, anak-anak sering mencari buah senduduk yang telah matang untuk dimakan langsung di tempat.


Buah senduduk yang matang berwarna ungu tua kehitaman dengan daging buah yang lembut. Rasanya manis bercampur sedikit sepat. Setelah memakannya, bibir, lidah, dan jari-jari biasanya berubah menjadi warna ungu. Bagi anak-anak kampung tempo dulu, hal itu justru menjadi kesenangan tersendiri dan merupakan bagian dari kenangan masa kecil yang hingga kini masih melekat dalam ingatan.


Tanaman senduduk atau senggani memiliki nama ilmiah Melastoma malabathricum L. dan termasuk ke dalam keluarga Melastomataceae. Tanaman ini berupa perdu liar yang dapat tumbuh hingga beberapa meter dengan ciri khas bunga berwarna ungu mencolok yang mudah dikenali. Selain dimakan buahnya, tanaman ini sejak lama dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh berbagai masyarakat di Asia Tenggara.


Menariknya, senggani memiliki banyak nama lokal di berbagai daerah. Di kalangan masyarakat Melayu Sumatra, termasuk Banyuasin, tanaman ini dikenal dengan nama senduduk atau seduduk. Masyarakat Minangkabau menyebutnya sikaduduak, sedangkan di Bangka dikenal sebagai kedebik. Di tanah Sunda tanaman ini lebih dikenal dengan nama harendong, sementara masyarakat Jawa menyebutnya kluruk dan masyarakat Madura mengenalnya sebagai kemanden.


Di Kalimantan, terutama di kalangan masyarakat Dayak, tanaman ini dikenal dengan nama cengkodok. Sebagian masyarakat juga menyebutnya karamunting, meskipun penyebutan ini sering menimbulkan kekeliruan karena di beberapa daerah nama karamunting lebih tepat digunakan untuk tanaman lain. Di Flores, khususnya dalam bahasa Manggarai, tanaman ini dikenal dengan nama ndusuk. Sementara dalam bahasa Ma'anyan, tumbuhan ini disebut amukakang.


Di luar Indonesia, senggani juga dikenal dengan berbagai nama. Masyarakat Tiongkok mengenalnya sebagai yeh mu tan. Dalam literatur internasional, tanaman ini sering disebut Malabar melastome atau Indian rhododendron.


Perlu diketahui bahwa masyarakat terkadang keliru menyamakan senggani dengan kemunting atau karamunting (Rhodomyrtus tomentosa). Sekilas kedua tanaman ini memang tampak mirip karena sama-sama berupa perdu liar dengan buah yang dapat dimakan. Namun keduanya merupakan spesies yang berbeda. Senggani termasuk jenis Melastoma malabathricum, sedangkan kemunting atau karamunting termasuk jenis Rhodomyrtus tomentosa. Perbedaan tersebut terlihat pada bentuk daun, bunga, maupun karakter buahnya.


Selain menjadi buah favorit anak-anak kampung, senggani ternyata menyimpan kandungan senyawa bioaktif yang cukup beragam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daun dan buahnya mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, serta triterpenoid. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan anti-inflamasi.


Dalam pengobatan tradisional, daun senggani sering dimanfaatkan untuk membantu mengatasi diare, disentri, dan gangguan pencernaan lainnya. Air rebusan daun dipercaya dapat membantu mengurangi peradangan pada saluran pencernaan sekaligus menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri penyebab penyakit.


Daun senggani juga dikenal memiliki sifat gastroprotektif yang membantu melindungi lapisan lambung. Karena itu, tanaman ini kerap digunakan sebagai ramuan tradisional untuk membantu meredakan gangguan lambung dan keluhan asam lambung ringan.


Selain diminum, daun senggani juga digunakan sebagai obat luar. Daun yang ditumbuk halus biasanya ditempelkan pada luka sayat, luka bakar ringan, bisul, atau bagian tubuh yang mengalami pembengkakan. Kandungan tanin yang tinggi membantu mempercepat proses penyembuhan sekaligus mengurangi risiko infeksi.


Dalam berbagai tradisi pengobatan rakyat, senggani juga dimanfaatkan untuk membantu mengurangi keputihan, meredakan nyeri haid, serta membantu pemulihan pascamelahirkan. Meski demikian, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut sehingga penggunaannya tetap harus dilakukan secara bijaksana.


Penelitian modern juga menunjukkan bahwa ekstrak daun senggani berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah. Beberapa senyawa aktif di dalamnya diketahui dapat memengaruhi metabolisme glukosa sehingga berpotensi mendukung pengelolaan diabetes.


Sementara itu, buah senggani yang dahulu hanya dianggap sebagai makanan ringan anak-anak ternyata kaya akan antosianin, yaitu pigmen alami yang memberikan warna ungu pekat pada buah matang. Antosianin merupakan antioksidan kuat yang berfungsi menangkal radikal bebas penyebab kerusakan sel tubuh.


Kandungan antioksidan tersebut juga berpotensi membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam buah senggani dapat membantu mengurangi peradangan dan mendukung kesehatan sistem kardiovaskular.


Buah matang senggani juga memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap beberapa mikroorganisme penyebab infeksi kulit. Karena itu, dalam pengobatan tradisional, buah yang telah dihancurkan kadang dimanfaatkan sebagai bahan obat luar untuk membantu mengatasi masalah kulit tertentu.


Cara pengolahannya relatif sederhana. Untuk penggunaan sebagai obat dalam, sekitar tujuh hingga sepuluh lembar daun segar dicuci bersih lalu direbus dalam tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Setelah disaring dan didinginkan hingga hangat, air rebusan tersebut dapat diminum satu hingga dua kali sehari.


Untuk penggunaan luar, daun atau buah matang dapat ditumbuk hingga halus lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang mengalami luka, bisul, atau pembengkakan. Balutan sebaiknya diganti secara berkala agar tetap bersih dan higienis.


Bagi masyarakat Banyuasin, senduduk bukan sekadar semak liar yang tumbuh di pinggir kebun atau tepi hutan. Ia adalah bagian dari memori masa kecil, ketika anak-anak bebas bermain di alam dan mengenal berbagai tumbuhan yang tumbuh di sekitar mereka. Di balik buah kecil yang dulu hanya dianggap camilan saat bermain, tersimpan kekayaan hayati yang kini semakin banyak mendapat perhatian dari dunia ilmu pengetahuan (***) 

×
Berita Terbaru Update